Aku terbakar cemburu
Cemburu buta
Tak bisa ku padamkan amarah dihatiku
Sakit menahan sakit hati
Menyimpan perih
Tak bisa ku terima apa yang ku alami
Ibaratnya jantung hati
Tersayat oedang tajam
Betapa sakitnya
Ku rasakan itu
Dan kini aku tahu ku sangat
Begitu dalamnya aku sungguh mencintaimu
Mungkin selama ini ku salah
Tak pernah pedulikanmu setulusnya hatiku
Ku akui ternyata
Sakitnya membakar hati
Sudah membuatmu pergi
Kini hanya tinggalkan luka
Begitu dalamnya aku sungguh mencintaimu
Mungkin selama ini aku salah
Tak pernah pedulikanmu setulusnya hatiku
Mungkin selama ini ku salah
Tuesday, August 3, 2010
Monday, July 5, 2010
Insomnia
Kurang lebih udah 2 bln ini insomniaq smakin parah,2 hr begadang 1 hr tdr d tambah lg migrain parah ampe rasanya mu muntah.klo buatq sebenerx g masalah d nikmati aj mumpung msh nganggur,masalahx ortu da mlai komplain itu yg bikin masalah, males aj dengerinx.yg bilang inilah itulah,aq ngerti maksud mereka baik da ya mu gmn lg wong aq g minta insomnia ko..,satu2x jalan ya d nikmati aj insomniaq sambil utak-utik laptop :D
Monday, February 1, 2010
SANG GURU
Apakah masih kau anggap guruku adalah orang-orang yang berbicara itu?
Sedangkan ia mengajariku bagaimana "diam dalam senyuman-senyuman"
Apakah masih kau anggap guruku adalah orang-orang yang mengguruimu itu?
Sedangkan yang ia ajarkan adalah berguru kepada "segala sesuatu"
Apakah masih kau anggap guruku adalah orang-orang yang menceramahimu itu?
Sedangkan ia mengajariku "diam dari kata-kata"
Apakah masih kau anggap guruku adalah orang-orang yang membacakanmu buku?
Sedangkan ia mengajariku membaca kegelapan
Membaca hembusan angin badai
Membaca awan berarak menggumpal-gumpal
Membaca daun-daun berguguran
Membaca segala sesuatu yang kau nilai tak layak jual di pasaran
Alangkah malang pedomanmu
Jika wali-waliNya selalu hanya kau gambarkan bersurban dan berjenggot tebal
Kau pajang di dinding-dinding akalmu
Kau hardik dari pintu hatimu, orang-orang kusut masai itu
Alangkah imut-imutnya kerangka berpikirmu
Jika kekasihNya hanya yang gosong jidatnya
Tak kau dengarkan rintihan orang-orang yang disakiti, haus dan lapar
Alangkah ngeri duniamu
Jika keselamatan hanya kau pandang terhindarnya diri dari kematian
Jika kebahagiaan hanya kau patok terpenuhinya diri dari keinginan-keinginan
Kau seret-seret dan kau bakar guruku
Dengan api ketidakrelaan tergesernya posisimu
Yang kau sebut sebagai penegakan kebenaran
Kau lempari dan kau usir guruku
Dengan batu-batu gunung ambisi kekuasaanmu
Yang kau sebut perbaikan dan penertiban
Ribuan guruku telah kau bunuh
Kau telantarkan anak-anaknya
Kau cincang-penggal cucu-cucunya
Kau pinggirkan keturunannya
Tetapi tidak, kau tidak membunuh mereka
Kau sedang membunuh dirimu sendiri
Bukan mereka yang menghantuimu
Tapi bayangan gelap angan-anganmu
Tetapi adalah keuntungan tiada terkira bagiku
Ia curahkan ilmunya kepadaku
Kini ia mengajariku "diam dalam kata-kata"
Kini ia mengajariku berguru kepada: "Bukan Segala Sesuatu"
(Yudi Rohmad, Dalam buku "Renungan Pengantin")
Sedangkan ia mengajariku bagaimana "diam dalam senyuman-senyuman"
Apakah masih kau anggap guruku adalah orang-orang yang mengguruimu itu?
Sedangkan yang ia ajarkan adalah berguru kepada "segala sesuatu"
Apakah masih kau anggap guruku adalah orang-orang yang menceramahimu itu?
Sedangkan ia mengajariku "diam dari kata-kata"
Apakah masih kau anggap guruku adalah orang-orang yang membacakanmu buku?
Sedangkan ia mengajariku membaca kegelapan
Membaca hembusan angin badai
Membaca awan berarak menggumpal-gumpal
Membaca daun-daun berguguran
Membaca segala sesuatu yang kau nilai tak layak jual di pasaran
Alangkah malang pedomanmu
Jika wali-waliNya selalu hanya kau gambarkan bersurban dan berjenggot tebal
Kau pajang di dinding-dinding akalmu
Kau hardik dari pintu hatimu, orang-orang kusut masai itu
Alangkah imut-imutnya kerangka berpikirmu
Jika kekasihNya hanya yang gosong jidatnya
Tak kau dengarkan rintihan orang-orang yang disakiti, haus dan lapar
Alangkah ngeri duniamu
Jika keselamatan hanya kau pandang terhindarnya diri dari kematian
Jika kebahagiaan hanya kau patok terpenuhinya diri dari keinginan-keinginan
Kau seret-seret dan kau bakar guruku
Dengan api ketidakrelaan tergesernya posisimu
Yang kau sebut sebagai penegakan kebenaran
Kau lempari dan kau usir guruku
Dengan batu-batu gunung ambisi kekuasaanmu
Yang kau sebut perbaikan dan penertiban
Ribuan guruku telah kau bunuh
Kau telantarkan anak-anaknya
Kau cincang-penggal cucu-cucunya
Kau pinggirkan keturunannya
Tetapi tidak, kau tidak membunuh mereka
Kau sedang membunuh dirimu sendiri
Bukan mereka yang menghantuimu
Tapi bayangan gelap angan-anganmu
Tetapi adalah keuntungan tiada terkira bagiku
Ia curahkan ilmunya kepadaku
Kini ia mengajariku "diam dalam kata-kata"
Kini ia mengajariku berguru kepada: "Bukan Segala Sesuatu"
(Yudi Rohmad, Dalam buku "Renungan Pengantin")
Subscribe to:
Posts (Atom)