Showing posts with label Jawa. Show all posts
Showing posts with label Jawa. Show all posts

Sunday, May 13, 2012

K E J A W E N

Judul : JAWA DAN KEJAWEN
Tulisan: Prof Dr Damarjati Supajar
ditulis ulang bersambung oleh mbah gatho

LETAK GEOGRAFIS:
1. Jawa adalah nama sebuah pulau di Indonesia yang terletak pada kordinat antara 6 derajat LU - 11 derajat LS dan 95 -141 BT
2 P Jawa sendiri berada di kordinat 5 - 10 derajat LU dan 105 - 105 BT

SUKU JAWA DAN WILAYAHNYA
3. Orang Jawa adalah orang-orang yang secara keturunan menggunakan bahasa Jawa sehari-hari dan bertempat tinggal di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau di tempat lain retapi berasal dari daerah itu.
4. Orang Sunda, Banten, Badui Betawi tidak termasuk suku Jawa.
5. Orang Jawa asli pada mulanya adalah mereka yang tinggal di wilayah pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk Jogjakarta, Surakarta, Kedu, Banyumas, Kediri dan Malang dan merekalah yang dikelompokkan sebagai orang-orang yang mengikuti secara patuh adat dan tradisi Jawa dan bisa dikatakan paham Kejawen.
6. Sedang mereka yang hidup di wilayah pantai disebut kelompok Pesisiran yang terbagi dua wilayah yaitu Pasisiran Utara meliputi : Cirebon, Tegal, Pemalang, Semarang, Tuban Surabaya. Sedang Pesisiran Selatan meliputi wilayah ujung timur P Jawa yaitu Bangil, Pasuruhan, Probolinggo, Situbondo sampai Banyuwangi.
7. Wilayah Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat Kebudayaan Jawa yang dulunya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Mataran Kuno (Hindu-Budha) maupun Mataram Islam.

IKATAN MASYARAKAT DAN WATAKNYA
8. Yang disebut masyarakat orang Jawa adalah masyarakat KEKELUARGAAN dalam arti bahwa ikatan mereka berdasar tradisi dan sejarah bukan semata-mata karena kesamaan wilayah. catatan: Jawa secara semangat spiritual adalah semangat Nusantara dimana kebesaran Nusantara dulunya berpusat di P Jawa.
9. Terjadinya perubahan-perubahan politik nasional, faktor agama yang dipolitisir dengan arus dana dari luar dan mekarnya aliran-aliran politik parsial menggeser ikatan-ikatan tradisional Jawa serta menggoyahkan kerukunan dan kekompakan orang jawa yang secara luas juga berarti Nusantara.
10. Goncangan seperti itu sering memakan jiwa dan harta di bumi Kejawen yang tidak harus terjadi bagi masyarakat JAWA dan mestinya meliputi wilayah Nusantara yang mempunyai karakter ketimuran seperti masyarakat di Jawa.
11. Karena proses "DEJAVANISASI' ( lawan "JAWANISASI" ) yang begitu kuat dan dengan menghalalkan segala cara, menerpa masyarakat jawa kehilangan Jawa-nya ---WONG JAWA ILANG JAWANE-- tidak sedikit orang Jawa terlibat aksi teror di buminya sendiri dan tidak merasa salah membunuh saudaranya sendiri, menentang tradisi serta meremehkan kearifan leluhur dan menganggap bahwa tradisi leluhur itu adalah GUGON TUHON, SYIRIK dll. tanpa mengetahui esensi serta kandungan artinya.
12, Menurut ramalan dan pitutur sesepuh hal itu memang harus terjadi sebab sudah diprediksi dari jaman dulu dimana hal ini merupakan pertanda akan datangnya bencana dan merupakan fase perubahan jaman untuk menata era baru yang damai. Bencana besar harus terjadi sebab manusia Jawa sudah berubah menjadi "MAKHLUK ASING' di buminya sendiri dan ibu pertiwi tidak mengenalnya lagi siapa mereka dan bumi pertiwi akan menolak orang-orang yang tidak punya hak akan bumi yang suci ini.

Bagian 2
K E J A W E N
12. Meskipun demikian perlu dipahami bahwa kekuatan - kekuatan dari luar termasuk mentalitasnya yang khas yang mengandalkan akal semata-mata atau dogmatisme yang sempit, lengkap dengan ahli kekerasannya bukan pruduk asli WATAK KEJAWEN yang berciri khas "KAMOT, AJUR-AJER dan TEPA SELIRA" ( Akomodatif, cair-flexibel dan penuh tenggang rasa
Memang ironis kalau di bumi Jawa bahkan di pusat budaya Jawa (Jogja-Solo) itu terbentuk ormas-ormas garis keras di luar kontrol undang-undang pemerintah Setiap aksi kekerasan di wilayah Kejawen dengan mengatas namakan agama dibiarkan atau ditolerir tanpa disentuh hukum hanya karena alasan massanya besar

BENTUK MASYARAKAT JAWA DAN MISI KE DEPAN
14. Di wilayah Kejawen bentuk masyarakat Jawa terkecil adalah keluarga yang merupakan anggota dari suatu masyarakat desa di mana para pemimpin keluarga harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka dengan menggarap sawah, membuat rumah, membangun jalan, menjaga dan membersihkan makam leluhur, serta menjual/membeli barang kepasar dari hasil kebun dan sawah.
15. GOTONG ROYONG merupakan sistem hubungan sosial bagi masyarakat Jawa di mana sesama warga merasa berkewajiban melakukan pekerjaan bersama demi kepentingan bersama pula
16. Bentuk-bentuk organisasi di desa antara lain melakukan pertemuan untuk bermusyawarah, penataan lingkungan yang dipimpin oleh kepala pedukuhan, Perguruan kesenian untuk melestarikan budaya, Belajar olah batin yang dipimpin oleh seorang sesepuh yang dibantu oleh para asistennya. dan sesuai dengan perkembangan jaman sekarang diadakan arisan, olahraga, koperasi dll yang tidak bertentangan dengan filosofi kejawen
17.Menurut Kearifan Kdalam kebersamaannya adalah kuno Cita-cita masyarakat Jawa adalah dapat terwujudnya masyarakat yang PANJANG, PUNJUNG, PASIR WUKIR LOH JINAWI, TITI TATA TENTREM, KARTA LAN RAHARJA (Luas dan luhur, lembah sampai pegunungan subur, tertib, tertata rapi, tenteram, beradab maju dan makmur).
Catatan si penulis: jelas cita-cita semacam itu tidak sesuai dengan semangat politik parsial yang selalu menebarkan konflik.

Bagian 3
ASAL-USUL MANUSIA JAWA
18. Menurut dongengan rakyat sejak permulaan abad Masehi di P Jawa sudah ada penghuninya dan sebagai pusat kerajaannya bernama Medang kamulan. Rajanya seorang kanibal jejuluk Raja Dewatacengkar yang menurut legenda dia adalah manusia setengah dewa yang menyimpang. Oleh seorang brahmana Hindu yang bernama Sakaji atau Aji Saka raja Dewatacengkar dapat dibunuh dan atas kemauan rakyat Ajisaka dinobatkan menjadi raja Jawa. Raja brahmana ini juga yang meciptakan huruf Jawa Hanacaraka yang masih dipakai sampai sekarang oleh masyarakat Jawa.
19. Tahun Jawa disebut tahun SAKA yang dimulai tahun 78 masehi untuk mengingat kedatangan Ajisaka di P Jawa.
20. Dalam kitab Paramayoga oleh pujangga kraton Surakarta Ronggowarsito abad XVIII M. dikatakan bahwa dulu p Jawa masih kosong. Raja Hindu bernama Isaka dari kerajaan Surati diserang musuh. Dia menyuruh sang Brahmana Ajisaka membawa orang-orangnya dari India Selatan ke P Jawa untuk dihuni.
21. Menurut kitab Jangka Jayabaya diterangkan bahwa rombongan pertama orang-orang yang bermukim di P Jawa itu selang beberapa waktu punahkarena berbagai penyakit atau "bala".
22. Ajisaka membawa lagi orang-orang baru setelah P Jawa diamankan dengan memberi 7 buah tumbal yang ditanam di P Jawa dan segala macam penyakit dan pengganggu sirna. Penduduk baru dari Asia selatan hdup menghuni pulau dan menurunkan orang-orang Jawa sampai sekarang.
23. Secara turun menurun penduduk menurunkan tradisi dan ajaran (India) Hindu sebagai bentuk seni budaya dan pandangan hidup sebagaimana diajarkan oleh Sakaji (Ajisaka).
24. Versi lain diambil dari kitab TANTU PENGGELARAN dari jaman Majapahit dimana dikisahkan bahwa di P Jawa ada sejodoh manusia yang kemudian beranak pinak dan tidak disebutkan kapan mereka hidup. Mereka masih telanjang dan tidak punya kepandaian apa-apa dan para dewa turun ke P Jawa untuk memberi pelajaran kepada mereka cara membuat pakaian, tempat tinggal dan peralatan untuk hidup sehari-hari.
25. Dewa Wisnu menjadi raja pertama di Jawa dan berhasil mengembangkan peradaban penduduk di Jawa dan dia bergelar Raja Kandiawan.Dinasti ini yang nenurunkan keturunan dinasti Syailendra dan dinasti Sanjaya.
26.Menurut dongeng dari kitab tersebut para putra dewa Syiwa turun ke dunia bergantian menjadi raja-raja di P Jawa.

Bagian 4
27. Munculnya dinasti Syailendra dari aliran Budha Mahayana dan dinasti Sanjaya aliran Hindu Shiwa pada abad VII masehi menggantikan dinasti Sang Kandiawan
28. Dua Dinasti itu akhirnya juga bersatu dengan terjadinya perkawinan "Raja Pikatan (Hindu) dengan Putri Pramudawardani dengan ditandai dibangunnya candi Plaosan yang sangat indah (kira-kira lokasinya 3 km timur laut candi prambanan Parmbanan) Apalagi setelah terjadi letusan G. Merapi th 1006 yang terkenal dengan istilah "PRALAYA JAWA" yang pada waktu itu kerajaan Bumi I Medang Kamulan yang beribukota di Kunjara Kunja Desa atau "Alasing Liman" yang berarti Hutan Gajah dan sekarang disebut oleh umum dengan nama Sleman. Kejadian besar itu mengakibatkan exodus besar-besaran dari Jawa tengah ke Jawa Timur
29. Kerajaan pindah ke Jawa Timur. Karena situasi sosial dan Politik mengakibatkan beberapa kali terjadi perpindahan pusat kerajaan yang diakhiri sebyah emperium yang menyatukan seluruh Nusantara dengan nama kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan dekat kota Mojokerta.
30. Keruntuhan Majapahit th 1478 Mdiikuti timbulnya kerajaan-kerajaan baru di Jawa Tengan yang bernafaskan Islam.
31. IBUKOTA MENGALAMI BEBERAPA KALI PERPINDAHAN NAMUN PADA WAKTU ITU ASPEK BUDAYA JAWA /NUSANTARA SEJAK KEDATANGAN AJISAKA TETAP DIJUNJUNG TINGGI TERUTAMA OLEH KALANGAN KRATON YANG ARTINYA BUDAYA HINDU-BUDHA MASIH KUAT SEKALIPUN SECARA RESMI AGAMA NEGARA ADALAH ISLAM.
32. Terjadilah sinkritisme yang sangat signifikan yang dialami oleh budaya dan tradisi Jawa yaitu paham Hindu-Budha tetap dilestarikan terutama oleh para bangsawan (AGAMA AGEMING AJI yang artinya paham yang dimiliki oleh para bangsawan sebagai LAKU) yang dipadu dengan Islam dimana inti ajaran Islam yang ternyata tidak bertentangan dengan paham Hindu maupun Budha dan paham-paham lainnya yang universal. Laku semacam itu lebih umum disebut dengan istilah tasawuf (sufisme) yang sebenarnya sudah berkembang lama di Persia. Namun di Persia pengaruh Hindu maupun Budha tidak begitu kuat tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh paham Zara Trusta atau Zoroaster yaitu agama kuno yang lebih tua daripada Kristen
33. Disinilah oleh para Winasis (sarjana) menyebut paham tasawuf Jawa yang merupakan perpadua Islam dengan tradisi Hindu-Budha disebut dengan istilah AGAMA JAWA atau KEJAWEN.

KEJAWEN
bagian 5
34. Istilah KEJAWEN Selain memberi pengertian wilayan masyarakat Jawa yang berkaitan dengan daerah-daerah yang masih memegang nilai budya, tradisi, dan sejarah tetapi juga mencakup yang berhubungan dengan pola hidup spiritual yaitu kepercayaan kepada yang Maha Hidup.

ARTI NAMA JAWA
Menurut legenda nama Jawa diberikan oleh dewa Shiwa sendiri karena pulau ini banyak tumbuh jenis rerumputan yang masuk golongan padi-padian dan diberi nama JAWAWUT.
Orang Cina menyebut pulau ini JEPOTI
Para pedagang dari Hindustan menamakan JAWADWIPA
Orang Yunani menyebut dengan nama JABADIU.
Orang Persia menyebut ZABED
Bagi orang Jawa kata Jawa berarti "mengerti" - "mudheng" atau 'paham" maka sering ada kata "wis njawa" yang artinya wis ngerti/mudheng/paham yang dimaksud.

KEDUDUKAN RAJA-RAJA JAWA
35. Jaman Hindu-Budha para raja dipercaya sebagai keturunan ara dewa bahkan ada yang dipandang sebagai reinkarnasi dari dewa seperti Airlangga yang sangat bijaksana dipercaya sebagai avatara dari dewa Wisnu, Kendedes adalah avatara dari Pradnya Paramita, Ken arok adalah putera dari dewa Shiwa dll
36. Setelah berganti ke era Islam titel raja berubah menjadi Sultan namun tradisi Hindu dan Budha masih diteruskan dimana para raja dianggap keturunan dewa. Seorang Raja (Sultan) dipandang sebagai 'Gusti Allah Katon' / Bathara Katon atau Tuhan yang berwujud. Oleh sebab itu semua sabdanya tidak bisa dibantah dan dianggap sangat sakral. Dia adalah Raja Pinandita dan tradisi ini sudah lumrah bagi masyarakat Jawa yang masih menjunjung tinggi budayanya sekalipun sang raja beragama Islam.
37.Tugas Sultan bukan saja membawa kesejahteraan lahiriah bagi kawula tetapi juga membawa misi ilahi menuju "KESEMPURNAAN" hidup --- Kasampurnan dengan melindungi ilmu KASUNYATAN.
38. Maka pada jaman Islam di Jawa tergubah kitab-kitab tuntunan spiritual yang mengacu pada tradisi kuno dan ajaran esensial agama Islam terutama dalam mencapai WAHYU.
39. Secara umum ada istilah ajaran KASAMPURNAN atau jalan Kebatinan atau Mistik yang dipandang sebagai inti dari ajaran atau paham yang disebut KEJAWEN

TOKOH-TOKOH KEJAWEN SEPANJANG SEJARAH .... masih bersambung

Bagian 6
TOKOH-TOKOH KEJAWEN DALAM SEJARAH
36. Banyak tokoh yang menopang paham kehidupan mistik Jawa mulai jaman Hindu-Budha - Islam sampai jaman kemerdekaan.
1) Empu Kanwa jaman Raja Erlangga 1019 - 1042
2) Empu Tantular jaman Rj. Hayamwuruk 1350-1389
3) Syeh Lemah Abang atau SSJ jaman P. Jimbun, Demak 1478-1512
4). Sunan Kalijaga sejaman Syeh SJ
5). Sultan Agung 1625 -1645
6) Pujangga Yosodipura 1729 -1801 kraton Surakarta
7) Sunan Paku Buwono IV 1789-1820 Raja Kerajaan Surakarta
8). Pujangga Ronggo Warsito (1802 -1872) kraton Surakarta
9). KGPAA Mangkunegara IV dari kraton Mangkunegaran
10) RA Kartini (1879 - 1904
11.) Ki Hajar Dewantoro (1899 - 1950)
12.) termasuk juga Ir Soekarno Presiden I RI
dan masih banyak lagi tetapi tidak perlu disebut disini. Mereka umumnya membangun ajarannya untuk kalangan mereka sendiri. Kelompok-kelompok ini sering sekali termarginalkan karena dampak single majority. Ajarannya ada yang tertulis dan ada pula yang diajarkan secara lisan.

PRINSIP DASAR AJARAN JAWA YANG TIDAK PERNAH BERUBAH SEPANJANG MASA.
Inti pandangan hidup orang jawa sejak sebelum jaman Hindu- Budha sampai sekarang melewati era Hindu dan Budha serta Islam tidak berubah sama sekali yaitu Keyakinan bahwa JASAD (Mikro dan makro kosmos) ada yang membuat yaitu SATU KODRAT ILLAHI DENGAN KARYA YANG MURNI yaitu PENCIPTAAN SEMESTA YANG TIDAK PERNAH BERAKHIR . IA TAK BERUBAH SELAMANYAAPAPUN SEBUTAN YANG BISA DIBERIKAN MANUSIA DENGAN LIDAHNYA YANG BISA MEMBUSUK.
Dzat itu meliputi seluruh ruang KOSMOS (mikro dan makro)

Makhluk jenis apap dan dimanaun berada selalu dalam ruang lingkup (space) dan ruang waktu (tempo) yang diliputi dzatnya tanpa kecuali meski dzat itu berada dalam dimensinya sendiri dan tidak tersentuh oleh ruang dan waktu tempat materi fisik berada
Preinsip ini mengandung ajaran bahwa mustahil kalau ada manusia yang bukan meruakan ciptaannya. Jadi tak ada satupun manusia yang keluar atau MURTAD dari dzat tersebut. Paham Kejawen tidak mengajarkan adanya umat tuhan dan umat iblis.
Kepercayaan akan dzat yang melipuiti semesta itu memungkinkan suatu bangsa mempunyai agama mereka sendiri dan memungkinkan ORANG JAWA berganti-ganti agama tetapi mustahil ada orang berganti Zat kosmos yang menguasainya (tuhannya) Tidak ada penguasa lain yang menggantikan penguasa semesta alam yang meliputi seluruh kosmos. Dzatnya cuma satu sekalipun diberi nama apapun dalam persepsi teologi.
42. Prinsip kedua yang tak berubah sejak jaman dulu yang menjadi ijakan laku kebatinan Jawa ialah Keyakinan bahwa segala wujud hanyalah ILUSI belaka atau fatamorgana bagi panca indera fisik. Dzat penciptalah yang merupakan realitas tertinggi yang bisa dinamakan sang PRIMA KAUSA. (Dalam ajaran jawa lebih dikenal dengan istilah SANGKAN PARANING DUMADI sifatnya immortal atau kekal sementara lainya adalah fana selalu berubah dan tidak lepas dari hukum kerusakan termasuk manusia dan peradaban agama mereka. Menyekutukan tuhan tidak dikenal dalam filosofi jawa sebab sifat dzat yang omnipresen (menembus apa saja)

dilanjut dengan judul
MENGAPA HARUS MENCARI HUBUNGAN DENGAN DZAT?

Bagian 7
MENGAPA HARUS MENCARI HUBUNGAN DENGAN DZAT?
43 Semua atau berbagai Paham ajaran Jawa memandang bahwa hanya dengan mencapai dzatnya yang kekal abadi jiwa manusia yang beraga akan memiliki KEKUATAN murni, KEBIJAKSANAAN tertingi dan KEBAHAGIAAN hakiki,

TEKNIS PELAKSANAAN PENYADARAN AKAN DZAT YANG MAHA TINGGI
44. Bukan merupakan rahasia bahwa dalam ajaran paham Jawa manusia bisa mencapai dzat tersebut di atas hanya dengan cara ber SAMADI. Bila berhasil maka akan terjadi proses kebersatuan yang lazim disebut MANUNGGALING KAWULA LAN GUSTI.
Gambaran tentang keberhasilan tersebut di Jawa digambarkan dalam kisah BIMO SUCI yang menemukan Tirta Perwita Sari dimana dikisahkan Sang Bima harus menempuh perjalanan penuh tantangan dan godaan sebelum menemukan Sang AKU yang digambarkan sebagai dewa Bajang (Dewa Ruci) yang sangat kecil tetapi Sang Bima bisa masuk kedalam tubuh sang dewa Ruci (Masuk ke dalam alamnya yang sangat damai dan luasnya tidak mengenal batas.Inilah penggambaran laku dalam paham Jawa bertemunya pribadi manusia dengan DIRInya sendiri yaitu sang guru jati yang selalu membimbing dalam segala tindakan.
Orang Jawa sangat lekat dengan konsep Manunggaling Kawula Gusti tentunya ada motif, dasar, tujuan dan laku ini tidak ada sangkut pautnya dengan ritual beragama.

NAMA-NAMA TUHAN DALAM PANDANGAN ORANG JAWA
-Sebelum paham Hindhu -Budha datang, nenek moyang Jawa menamakan sesembahan absolutnya adalah sang Hyang Taya , Sang hyang Wenang dan ada yang menamakan Sang Hyang Wenang
Jaman Hindu ada yang menyebut Bethara Guru, atau Shiwa Mahanata,
Dalam Paham Budha Mahayana disebut Sang Adhi Budha
Dalam paham Islam diberi nama Allah.

Bagian 8
Bagi orang-orang Jawa nama-nama atau sebutan apapun bagi dzat maha tinggi itu tidak sepenting keyakinan dan pencapaian mengenal si dzat tersebut. Apa arti sebuah nama bila tidak bisa kenal? Dzat itu yang memancarkan energi HIDUP dan memberi kekuatan untuk selalu tumbuh dan berkembang kepada seluruh makhluk tanpa kecuali apapun ujudnya yang berada diseluruh jagad raya.

KEJAWEN ADALAH ILMU KETUHANAN BUKANNYA ILMU ATAU TEORI TENTANG TIDAK ADANYA TUHAN
Mengacu pada RASA KEJAWEN istilah Tuhan Yang Maha Kuasa akan lebih pas bila disebut sebagai:
a. Jawata Kang Hakarya Jagad. Artinya Tuhan adalah cahaya yang bersifat personal dengan kekuasaan tertinggiyang menciptakan segala wujudciptaan di alam raya
b.Pangeran Kang Murbeng Dumadi. Artinya dialah sang Prima Kausa dari segala wujud dan kejadian
c. Gusti Kang Gawe Urip lan Urub. Mengandung makna satu-satunya sumber kehidupan di alam semesta
d. Hyang Manon. Yang Tahu segalanya dan tidak pernah terlena dalam kesadaran dan pengetahuan
e. Hyang Suksma. Ruh Semesta Alam yang mengisi seluruh ruang dan tidak akan hancur oleh perjalanan waktu ataupun keadaan. Segala isi dan peradaban di bumi langit bisa lenyap tetapi tidak akan menimpanya.
f. Hyang Maha Suci. Dzat yang tidak cacat dan tidak pernah putus sedikitpun dalam kebajikannya.
g.Dhyan Hyang (Danyang). Sebutan bagi tuhan yang selalu bersemedi dalam menguasai alam semesta. Segala yang tercipta terpancar dari kekuatan semedinya yang tak pernah putus.
h. Gusti. merupakan sebutan atau atribut sebagai dzat satu-satunya yang hak dan wajib disembah.

Bagian 9.
THEISME KEJAWEN
46. Jalan KEJAWEN sejak jaman pra Hindu hingga jaman pujangga Islam, sampai jaman Merdeka tak lain adalah penghayatan ber-KETUHANAN MULTI DIMENTIONAL.
Disebut begitu sebab segala aspek budaya, produk seni & sastra, serta etika Jawa selalu berorientasi pada keyakinan Ketuhanan yaitu demi KEMANUNGGALAN dengan dzat yang tak terbatas.
47. Oleh karena itu jalan ini atau seluruh susunan orientasinya tak bisa disebut ATHEIS yang mengingkari adanya Dzat Tuhan pencipta Alam Semesta.
48. Bisa dipastikan bahwa jalan mistik Jawa berhadapan langsung dengan teori-teori materialisme anti-tuhan -nya Karl Marx dan Hegel.
49. Tuduhan bahwa Kejawen adalah atheis atau agnostik adalah tuduhan konyol. Pengakuan adanya Tuhan atau Sang Pencipta dalam agama Jawa (Paham Kejawen) justru merupakan fondasi dan asam garamnya agama Jawa ini.
50. Meskipun Kejawen bukan Atheis dan bukan pula agnostik tetapi sebaliknya justru serba theis dan serba gostik harus diakui bahwa ilmu Kejawen tidak sejalan dengan kepentingan para penjual seremoni agama.
51. Kejawen dan orang Jawa (yang tahu) bukan dari kelompok orang-orang ingin mencari pengikut agama sebanyak -banyaknya demi kepentingan ekonomi-politik bangsa asing Timur Tengah atau India atau dimana saja, apapun alasannya.
52. Karena ajaran Mistik Jawa tidak memfasilitasi kepentingan para jur-kam syiar agama maka Kejawen tidak luput dari tuduhan kufur, syirik dll.
catatan: Kejewen merupakan kebijaksanaan dari Timur yang tumbuh dari dan untuk manusia Jawa yang menyatu dengan air dan buminya; wujud bumi yang merupakan karunia illahi dan kerenanya disebut TANAH SUCI. Kesucian Bumi Jawa tidak diragukan dan tidak diperdebatkan bagi para penghayat Kejawen.

DIMANA TUHAN ITU?
53. Diakuo pula bahwa Tuhan dalam Kejawen bukanlah Tuhan yang duduk bermalas-malasan di atas sebuah altar atau berada di dalam rumah ibadah menunggu persembahan-dan pujian umat.
54. Tuhan menurut Kejawen juga bukan tuhan yang gila hormat, mudah marah, dan melegalkan pembentukan laskar kekerasan untuk melampiaskan kemarahannya.

Prinsip-prinsip ilmu Kejawen:
SUGIH TANPA BANDHA, NGLURUG TANPA BALA, MENANG TANPA NGASORAKE, SEKTI TANPA AJI (Kaya tanpa harta, Menyerang tanpa pasukan, Menang tanpa mengalahkan, sakti tanpa ajian)

Bagian 10.

THEISME IMAJINER TIDAK DIKENAL DALAM AJARAN KEJAWEN
1). Persepsi JAWA tetap berdasarkan KETUHANAN. Tetapi paham Kejawen adalah ATHEIS terhadap "Tuhan Imajiner" yang bersifat konseptual, misalnya tuhan ada di atas, ada di dalam rumah ibadah, memilih tempat yang istimewa sebagai pusat yang wajib dikunjungi dll.
2). Yang dimaksud 'tuhan imajiner" juga dia yang dipandang cuma mengasihi kelompok tertentu dan memandang kelompok lain dimurkai dan akan dimasukkan ke dalam sampah dan disiksa
3). Kejawen atheis terhadap "tuhan Imajiner" terhadap kelompok yang mengedepankan identitas lahir seperti jubah, batu yang dianggap suci atau dianggap sangkar nya tuhan, tasbih, doa-doa yang dianggap sakti, air yang dianggap bisa mendatangkan pahala dlsb
4). Theisme/Ketuhanan Jawa menolak "tuhan imajiner" yang mengetrapkan memberi julukan "KAFIR" dan "bukan kafir" bagi umat yang hanya karena ayat-ayatnya yang dilafalkan seseorang berbeda dengan tembang-tembang orang lain. Kenyataannya Kejawen tidak luput dari tuduhan kafir karena ajaran-ajaran yang tertulis dalam gatra-gatra (bait-bait) tembangatau wirid-wiridnya berbahasa Jawa dan bukan berbahasa asing.

55. Jalan Mistik tidak mencari pengikut, bahkan mereka yang sengaja menginginkannya harus melewati ujian keseriusan

Bagian 11
KISAH TIGA MURID YANG GAGAL DAN GURU YANG TIDAK BUTUH PENGIKUT

Adalah 4 orang sahabat yang berguru pada seorang guru spiritual dengan maksud mencari ilmu kasunyatan. Cukup lama mereka hadir di setiap pertemuan dan salah satu dari mereka akhirnya merasa bosan sebab si murid tadi menunggu yang diharapkan tetapi tidak pernah diajarkan.
"Mengapa sampai sekarang guru tidak mengajarkan apa-apa tentang kebenaran yang kita cari. Sebaliknya kita malah selalu menyuruh kita DIAM dan itu katanya adalah cara untuk menuju ke kebenaran. Guru macam apa itu? Bukankah kita ingin tahu apa yang ada di otaknya tentang kebenaran?
Murid yang mengatakan itu akhirnya pergi dan guru bertanya kepada tiga temannya: Apakah kalian juga akan pergi mengikuti dia? mulutku hanya bisu untuk mengatakan kebenaran?
Tiga murid itu menjawab sekenanya bahwa mereka tidak akan pergi dengan alasan bahwa laku bisu adalah salah satu jalan mengetahui kebenaran. Mereka bilang mau terus mengikuti sang guru.
Sejak itu sang Guru bicara tentang banyak hal, tentang pandangan hidup, tentang sosial, kerohanian, budaya masyarakat dan lain-lain tetapi tidak pernah bicara tentang kebenaran.
Akibatnya ada salah satu dari ketiganya juga merasa bosan dan berkata pada kedua temannya: Menurutku kita sudah salah memilih guru, Pendapat-pendapatnya berbeda dengan pandangan yang telah kita pelajari selama ini dari guru lain, Bahkan sangat berbeda dengan kepercayaan-kepercayaan atau keyakinan yang dipegang oleh umum. Kita bisa kehilangan iman kita dan kita akan berdosa bila mengingkari iman kita sendiri. Aku tidak mau berkhianat terhadap keyakinan dan kepercayaan yang sudah diajari oleh para orang suci."
akhirnya diapun pergi meninggalkan sang guru.
Guru: "Apakah kalian berdua juga akan emngikuti dia? Aku bukan orang tuamu, bukan guru-guru spiritualmua yang pernah mengajarimua tentang ilmu kerohanian"
Mereka menjawab tetap akan mengikuti dan menunggu dengansabar sampai mereka menemukan apa yang diinginkan. Banyak kitab sudah mereka pelajari dan banyak guru sudah mereka bermursid namaun mereka bilang belum ada satupun yang mampu memberikan apa yang mereka berdua inginkan.

Bagian 12.
Sambungan kisah 4 murid dan satu guru
Sang guru yang bijak sebenarnya sudah tahu antara dua murid itu yang memahami ajarannya sebab guru bisa mengetahui dari laku yang dipraktekkan keduanya.
Cara penangkapan dalam mengulas ajaran yang pernah diterima dari guru-guru sebelumnya dengan jang dia berikan juga merupakan pertanda akan keseriusan medua muridnya. Sang guru tahu bahwa hanya satu saja yang bisa menerima ajarannya maka dia membuat rencana untuk menguji tekad mereka berdua.
Diam-diam si Guru menyuruh sahabat dan orang-orangnya untuk menyebarkan berita bahwa sang guru itu sebenarnya banyalah pembohong besar sebab tidak tahu sama sekali tentang ilmu kasunyatan.
Satu dari mereka mulai terpengaruh dan berkata: "Aku sudah mengira sebelumnya kalau dia itu cuma penipu sebab sudah sekian lama kita tidak pernah mendapat kemajuan. Apalagi dia bukan keturunan dari orang bijak, bukan orang kaya, bukan dari kalangan kerabat yang punya derajat, lebih baik aku pergi saja."
Murid ke 4 ditanya: "mengapa kamu tidak ikut pergi? Kamu tahu kan aku ini seorang pembohong besar."
Murid 4 menjawab: "Aku tetap akan bersama guru, dan dengan pelajaran yang aku terima dari guru aku mendapat kemajuan yang sangat pesat untuk mengetahui ilmu kasunyatan"
Guru:" Bagaimana bisa? Aku cuma memberi kamu pelajaran DIAM. Bagaimana mungkin dengan diam kamu mendapat kemajuan?"
Murid: "Saya bisa merasakan bahwa guru tahu itu sebab dalam DIAM saya dan Guru adalah satu dan di situ saya mulai tahu apa itu kasunyatan"
Guru: " Coba terangkan lebih jelas lagi ! aku dan Kamu bukannya satu. kita ini berbeda".
Murid:" Ilmu DIAM yang telah aku pelajari dari guru justru membuat aku mengenal segalanya yang tidak terbatas dan membuat lenyapnya ruang dan waktu, maka bila kita Diam aku sudah tidak bisa membedakan antara aku dan apa saja yang berujud maupun yang tidak berujud di alam raya ini"
Guru: " Bagaimana kamu bisa tahu kalau yang kamu lakukan itu benar?"
Murid: " temanku terakhir pergi sebab mengikuti kata orang, sedang aku tetap pada pendirianku sebab aku adalah aku dan aku tahu bukan dari orang lain tetapi dari aku sendiri. Aku mengenal guru bukan dari ucapan tetapi aku mengenal ajaran guru karena melakukan DIAM".
Guru: "Kamu adalah muridku yang paling menjijikkan, oleh karena itu pergilah dari hadapankau!"
Murid: kenapa Guru? Apa salahku?"
Guru: "Karena kamu tidak salah maka kamu saya usir"
Murid: " Apa aku tidak boleh tingal bersama guru?"
Guru: "Sudah tidak ada gunanya kita tinggal bersama. Kamu tahu itu bahwa kamu dan aku adalah satu sebab tidak ada jarak dan wktu memisahkan kita. Kamu sudah LULUS, Aku tidak butuh murid seperti kamu lagi. Kamu sudah menguasai ilmu diam dan ilmu harus diamalkan"
Maka terjadilah perpisahan yang dilambangkan dalam jarak tetapi guru dan murid itu tidak pernah berpisah lagi
kisahnya selesai

Bagian 13

56. Bagi para pelaku mistik kebenaran bukanlah diukur kemampuan menghafal dan bagusnya melafal ayat-ayat serta disiplin dalam menjalankan ritual. tetapi kemampuan untuk mencapai tujuan.
Jika kebenaran itu cukup diukur dari kemampuan menghafal ayat dan melakukan seremoni ritual, Iblis-iblispun mampu melakukannya dengan lebih baik.

KEJAWEN ADALAH JALAN S A M A D I BUKAN SEREMONIAL
Bukan berarti anti seremoni tetapi melakukan gerak atau upacara harus mengangkat si pelaku mampu masuk pada penyadaran akan hakekat spiritualitas sebagai realitas tertinggibukannya kehebohan atau keakbaran seremonial itu.
57. Siswa atau praktisi yang serius dan disiplin akan mencapai tujuannya. Yang setengah-setengah akan kandas di jalan. Keraguan berarti kegagalan. Melecehkan kasunyatan samadi berarti "BUNUH DIRI"
58. Para penghayat KEJAWEN tidak dianjurkan (tetapi tidak ada larangan) dalam mencapai Dzat Tuhan melakukannya di dalam sebuah kuil, candi, atau tempat ibadah lainnya yang terbuat dari batu dan emas sekalipun.
59. Penghayat dilatih untuk mampu melakukan getaran jiwa dan kalbu dalam kemandirian pribadi sehingga raga sendiri bisa menjadi kuil, atau candi atau tempat peribadatan bagi sang - dzat yang dicapai/dituju. Pencarian atau pencapaian arahnya adalah ke DALAM bukannya KELUAR. Oleh karena itu sebuah rumah yang bagus penuh dekorasi indah tidaklah lebih dari nilai semak belukar yang sunyi atau gua dan rimba yang seram. Raga sendirilah adalah bait suci dimana dzat itu bertahta selama raga masih ada.
Rasa Sejati selalu dijaga untuk tetap mengarah kepada tuhan sehingga terjadi pencapaian lewat getaran tang sama dengan sang Dzat Sejati untuk menyatu/manunggal. Rasa Sejati itu hanya bisa dibangunkan lewat SAMADI YANG BENAR.
60. Kejawen tidak pernah melembaga dan tidak merupakan bagian struktur dari agama maka Ketuhanan Kejawen yang lahir dari berbagai bentuk bengkitnya spiritual di masyarakat Jawa seiring dengan peradaban sejarah Jawa maka lebih umum dinamakan "KETUHANAN MURNI"
61.Istilah MURNI menunjuk pada hal yang khusus berhubungan dengan jiwa manusia dan Penciptanya saja. Murni juga berarti bersih dari muatan kepentingan politik parsial meskipun asesori-nya yang kasat mata nampak seperti berasal dari agama-agama yang ada atau pernah ada di Jawa.

Bagian 14

TINGKATAN-TINGKATAN PENGHAYATAN KETUHANAN ALA KEJAWEN

62. Seorang yang telah sempurna dalam jalan mistik Jawa disebut seorang MUNI atau RESHI atau BEGAWAN. sebutan ini bisa kita simak pada suluk-suluk pedalangan. Semuanya hanya istilah teknis sebab kata-kata itu berasal dari bahasa sanskerta tetapi sudah kaprah di dunia Kejawen. Ini bukan berarti Kejawen itu identik dengan agama orang Keling tetapi hanya sekedar pinjam istilah untuk memudahkan yang dimaksudkan.
Dibawah tingkat Reshi ada tingkat-tingkat spiritual (sesuai pencapaiannya dalam laku) dan secara teknis dikenal dalam bahasa jawa sbb:
a. Pandhita (Total berbakti kepada Tuhan)
b. Wasi (pandangan etheris)
c. Ajar (Mampu memberi wejangan mewakili guru)
d. Putut (lk) / Endang (pr) sudah diinisiasi sebagai anak begawan)
e. Jajanggan (Kemampuan mencerna kebijaksanaan guru)
f. Manguyu. (Kemampuan merefleksi secara verbal)
g. Cantrik (telah berikrar dalam pensucian diri)
h. Indung-indung (pendengar setia)
i. Cekel (mempunyai tugas tertentu)
j. Kulu Guntung (calon/magang siswa)

Perlu dipahami bahwa untuk masing-masing tingkat ditandai dengan pengeluaran sertifikat dari kertas. Tingkatan itu cukup diketahui lewat intensitas dan kapasitas bersamadi.

63.Seorang guru yang jenjang spiritualnya sudah tinggi adalah seorang yang waskita (ngerti sakdurunge winarah) tahu apa yang ada di pikiran orang lain dan oleh sebab itu dia akan tahu sampai dimana tingkat spiritual murid-muridnya dalam menghayati Ketuhanan yang diajarkan.
Ilmu Ketuhanan Kejawen tidak identik dengan hierarki sebuah agama dimana terdapat struktur kelembagaan yang serba kasat mata.
64. Semakin tinggi tingkat spiritual seorang siswa bisa dikenali lewat "alam jiwa"nya serta perkembangan kemampuan-kemampuan atau kwalitas mental, moral serta emosionalnya :
- Ketenangan batin dalam kesederhanaan yang merupakan pertanda bisa mencapai calon/tingkat reshi.
- Terakumulasinya energi fisik dan mental
- kemampuan mengontrol kesadaran dan energi-energi mental serta terlatih berkontemplasi (pasrah dalam kesadaran penuh dan bukan konsentrasi yang berarti aktif)
- Kemampuan dalam menjaga harmoni dengan alam dan lingkungannya.
- Kemampuan dalam mengembangkan Kepekaan supra natural termasuk kepekaan akan fenomena alam seperti akan terjadinya bahaya, (bukan bisikan dari luar yang sering tidak tepat tetapi mampu membaca bahasa alam lewat suara Aku-nya)
- mengetahui apa yang ada dalam batin orang lain
- Kemampuan memelihara kesehatan jasmaninya sendiri dan mampu mendeteksi penyebab-penyebab atau akan datangnya penyakit
- kemampuan mentransfer energi mental termasuk untuk pengobatan jarak jauh
- Kontrol atas unsur-unsur alam
Pencerahan sempurna dalam kemampuan menerima pesan KOSMOS

Pada MANUSIA JAWA yang telan NJAWA BENAR yaitu mencapai tingkatan spiritual ke sepuluh maka watak-watak Jawanya akan merefleksi pada dirinya sbb:
-PRIBADI YANG TEGUH
-INTUITIF
-ARIF
-AKASAWAKYA (pendengaran gaib)
-AKASASABDHA (Idu geni apa yang dikatakan terjadi)
-WASKITHA (penglihatan tembus dan terang melewati SAPTA LOKA / alam tujuh lapis.

bagian 15

POLA KEHIDUPAN KEJAWEN

65. Kejawen meliputi seluruh aspek lahiriah budaya Jawa sejak jaman PRA HINDU hingga sekarang. Seni budaya Jawa tercermin dalam adat-istiadat, tatacara, tata berbahasa, sastra dan penggunaan simbol=simbol dalam upacara, Penggunaan Wayang sebagai media renungan falsafah ketuhanan dll
66.Dalam Penggunaan Wayang sebagai alat Peraga atau alat sosialisasi budaya dan pemikiran Jawa sering dikatakan bahwa budaya Jawa adalah Budaya Wayang
67. Bukan hanya WAYANG yang menjadi tancapan kaidah-kaidah falsafah Jawa tetapi semua aspek budaya lahiriah lain termasuk arsitektur rumah, upacara adat, tarian, gamelan, busana jawa termasuk asesorinya seperti keris, sesaji, perhitungan angka hari dan tanggal, Huruf HANACARAKA, tembang-tembang dan planologo nagari termasuk tata ruang kraton dan posisi terhadap alam. Semuanya itu mengandung tema-tea filsafat menuju tuntunan MANUNGGAL DENGAN DZAT yang nantinya bermuara pada MEMAYU HAYUNING BAWANA (memperindah dunia lahir dan batin).
68. Persepsi yang perlu disiapkan untuk mencapai tujuanhidup Kejawen adalah FILSAFAT METAFISIKA 7 ANTROPO-FORMOLOGI.
69. Tata laku yang selaras dengantujuan adalah ETIKA JAWA secara horisontal dan vertikal
70. Ibadat lahiriah atau kebaktian yang kasat mata ialah dengan berpantang, berjaga,dan pelayanan kepada masyarakat (topo ngrame)
71. Kebaktian batin dengan SAMADI.
72.Pengembangan potensi untuk melayani masyarakat adalah dengan mengembangkan kekuatan supra natural ketabibab/pengobatan, menangkal bahaya lahir dan batin. dll.
73.Pengembangan Pengetahuan sejati yaitu dengan melakukan perjalanan spiritual (bukan jiarah baik di dalam maupun keluar negri) baik secara horisontal maupun vertikal secara samadi.

RENUNGAN FILSAFAT
74. Tak terhitung banyaknya tokoh yang telah menggali dan menggarap huruf Jawa HANACARAKA sebagai acuan atau sebagai pembakuan prinsip-prinsip Kejawen.
75. Dari Sekian Banyak pengertian dan kupasan huruf HANACARAKA ada yang menarik untuk dijadikan prinsip utama yaitu yang mengandung kupasan tentang HAKEKAT SUKSMA LANGGENG pada diri manusia.
76. Pada pandangan KEJAWEN manusia pada hakekatnya adalah manifestasi kekuasaan DZAT Tertinggi yang Maujud (mewadag).
77. Pengenalan pada "Diri Terdalam" dalam manusia adalah kebijaksanaan tertinggi, maka pengingkaran terhadap "Sukna Sejati" dalam diri manusia adalah inti dari semua jenis kegelapan hati, kegelapan pengetahuan, kegelapan lahir dan batin

Bagian ke 16.
Dhandhang Gula dari serat Darmogandul tentang arti Aksara Jawa :
HA Hananing Hyang, Dhat kang Mahanani - adanya Hyang, yaitu Dzat yang membuat ada semuanya
NA - Nadyan Nyata nora kasat netra
- Meski ada tetapi tidak tampak
CA - Cara siji mrih cethane
-hanya satu cara untuk menjelaskan
Ra - Rasakna Jroning Kalbu
- Rasakan dalam hati (maksudnya jantung =heart bukan liver)
KA - Kedute sing kanthi semedi
- Detaknya saat samadi
DA - Dat Allah dadi arah
- Dzat Allah yang menjadi target
TA - Tumanjem Satuhu
- terfokus ke situ (arah jantung)
SA - Saben pikir angrubeda
- Pikiranlah yang tak hentinya mengganggu
WA- Wateken donga manunggal mring Hyang Widi
- Ucapkan doa untuk bersatu dengan Hyang Widi
LA - Lancarna Nganti Purna
- lakukan terus-menerus sampai tercapai
PA - Panunggale cipta rasa arsi
- bersatunya cipta rasa dan karsa
Dha - Dhasar wulang wuruk tanah Jawa
- Pedoman ajaran Jawa
Ja - Jawane miwah nyatane
- Pemahaman dan kenyataannya,
Ya - Yaiku sembah Kalbu
- yaitu ibadah hati
NYA - Nyawiji ing sukma sejati
- menyatukan diri dengan pamomong (suksma sejati)
MA - Meneping Kabeh Daya
- mengendapnya seluruh kekuatan
GA - Gleg Krasa satuhu
- Di jantung terasa ada detak berat "Gleg"
BA - Babare byar ngeksi cahya
- dilanjut tampak cahaya "byar"
THA - Thukul kadya thathit kumelap ing arsi
- Bak cahaya kilat berada dihadapan
NGA - Ngarsaning Tyas Tumenga
- berada dihadapan hati (jantung)

Bagian ke 17

GELAR RAJA ADALAH GELAR SPIRITUAL DAN SECARA IMPLISIT MERUPAKAN TUJUAN MISTIK JAWA.

 78. Kosmologi Jawa pada dasarnya adalah suatu pembahasan tentang keberdaan alam semesta, manusia dan tuhan. Keriga unsur itu menjadi dasar pembangunan Kraton Kasultanan Yogyakarta yang dikawinkan dengan keadaan alam dan lingkungan . Susunan Kraton dengan masing-masing bentuk bangunannya mereflekdikan simbol-simbol tentang ketiga unsur tersebut.
 79. Manusia menurut orang Jawa adalah mikrokosmos yang merupakan satu kesatuan dengan makrokosmos
 80. Manusia diajari dan dididik untuk SADAR akan kesatuannya dengan alam sehingga alam akan bersatu dengan manusia.
 81.Pencapaian akan tingkatan spiritual ini memerlukan pengalaman (empiris) rohani dimana manusia harus sadar akan keberadaannya sebagai ciptaan tuhan. Manusia harus memiliki rasa Tuhan yang selalu dihayati dan dijalankan setiap saat. Rasa-Tuhan itu akhirnya akan menelorkan hubungan manusia - Tuhan dan diistilahkan "CEDHAK TANPA SENGGOLAN, ADOH TANPA WANGENAN" (dekat tidak bersentuhan, jauh tanpa batasan. atau lebih dikenal dengan istilah MANUNGGALING KAWULA GUSTI.
 82. Itulah gambaran Manusia-Tuhan menurut orang Jawa manusia yang mampu memahami kekuasaan ilmu ketuhanan tanpa batas bagai samudra luas.
 83. Berikut ini adalah gambaran manusia tuhan dalam kemampuannya setelah mencapai MANUNGGAL
 Bumi, geni, banyu miwah angin
 Pan srengenge lintang lan rembulan
 Iku kabeh aneng kene
 Sagara jurang Gunung
 Padhang peteng padha sumandhing
 Adoh kalawan cerak
 Wus aneng sireku
 Mulane ana wong ngucap
 Sapa bisa manungsa anjaring angin
 Jaba jalma waskitha
 (Bumi, api air dan angin. matahari, bintang dan bulan, Itu semua ada disini. Laut lembah dan gunung, terang dan gelap ada disamping, jauh dan dekat sudah ada dalam dirimu. Karena itu ada orang berkata: Siapa yang mampu menjaring angin kecuali manusia waskita

Bagian ke 18

84.Sebagaimana gelar raja Jogja HAMENGKU BUWANA adalah gelar spiritual yang secara explisit diatributkan untuk seorang raja tetapi secara implisit adalah gelar bagi siapapun yang sudah mampu menjadi raja yaitu mampu Mengkoni (menjadi frame) kedua macam jagad :Buwono alit dan Buwono ageng
85. Orang itu mampu menguasai dirinya sekaligus mampu menggapai pemahaman ilmu Semesta sebagaimana dihgambarkandalam tembang
86. Kesempurnaan itu diraih jika tumbuh berkembangsifat jiwa yang merupakan gambaran dari sifat-sifat Tuhan Sendiria. kesempurnaan dalam kasih sayang pada semua makhluk tanpa membeda-bedakan syariat agama, suku, budaya,bahas,tingkatan sosial dan bahkan terhadap binatang sekalipunb.Kesempurnaan dalampenguasaan diri melalui YOGA_BRATA dan atas peristiwa-peristiwa disekelilingnya.c.Kesempurnaan dalam pengetahuan (WIDyA)Watak tritunggal tersebut harus menjelma dalam diriseorang yang bergelar HAMENGKU BUWONO. Ini suatu sebutan implisit bagi manusia Jawa yang sudah nJowo yang sebenarnya

KONSEP SUMBU IMAJINER LAUT KIDUL - KRATON - MERAPI

87 Garis lurus imajiner antara Laut Selatan sampai G. Merapi . dengan melalui bangunan-bangunan kraton merupakan suatu cara orang Jawa memaparkan apa yang disebut evolusi spiritual manusia (bukan evolusi fisik Charles Darwin) dari sejak di Kandungan ibu hingga pencapaian kesempurnaan.

 Bagian 19

88. Komplek kraton Jogja terdiri dari berbagai gedung dan lau-outnya merupakan gambaran Manusia secara mikrokosmos.
89. Laut selatan dan Gunung Merapi adalah yepian Mikrokosmos yang melingkupi Makrokosmos.
90. Pada hati-hri tertentu yang ada kaitannya dengan raja diadakan labuhan-labuhan(persembahan) yang mengingatkan manusia pada ikatannya dengan lautan kehidupan atau gambaran DZAT yang tak terbatas sebagai asal-usul manusia. Dalam falsafah jawa digambarkan dalam cerita Bima yang mampu bertenu dengan Dewanya dan Lautan adalah sekedar kiasan.
91. Hubungan Raja Jawa dengan Laut Selatan ini secara simbolis digambarkan sebagai pasutri dimana Kanjeng Ratu Kidul (penguasa laut selatan) selalu menjadi pengantin wanita bagi Raja. Gelar PAKU BUWONO dan HAMENGKU NUWONO adalah manusia sntral yang menjadi pusat semesta dengan ungkapan KEBLAT PAPAT LIMO PANCER (rmpat arah mataangin dengan pusatnya yang ada ditengah.
92.Digambarkan segala riuh rendah dan dinamika kehidupan selalu berpusat pada diri manusia sentral itu. Demikian arti simbolis dari perkawinan raja Jawa dengan Ratu Kidul yang dipersonifikasikan sebagai seoang yang sangat cantik.
93. Manusia yang dicerahi Nur Illahi diharapkan mampu berjalan lurus mulai dari awal kehidupan yang dilambangkam sebagai panggung Krapayak sampai tugu "GOLONG GILIG" sebagai lambang MANUNGGAL. Akhir perjalanan itu spiritual adalah kesentausaan abadi yang dilambangkan dengan Gn. Merapi
94. Masyarakat Jogjakarta memandang G. Merapi adalah Gunung keramat atau surga pangrantunan yaitu surga sementara dimna para roh menantikan saatnya untuk masuk ke alam yang lebih tinggi.
95.mbah Marijan juru kunci Merapi menjuluki Eyang Merapi. Eyang atau Hyang adalah sebutan utuk seorang dewa sebagai rasa hormat dan bakti. Baginya semua sebutan yang menganggap gunung ini sebagi materi yang berbahaya tidak bisa diterima. Bagi mbah Marijan penduduk desa Kinahrejo yang berjarak 3,5 km dari puncak Merapi percaya Merapi tidak akan membuat kesengsaraan selain karena ketidak mampuan si manusia mampu mengetahui.
96.Bagi mbah Marijan mengenal Merapi dengan bersamadi untuk mengetahui kemauan Eyang Merapi tetapi tidak berarti mengingkari kodrat alam dan mengungsi bukan berarti tidak disetujui oleh mbah Marijan tetapi sebaliknya mbah Marijan sangat mendukung sebab itu adalah perspektif lahiriah yang merupakan perbedaan spiritual dan lahiriah. Ketika terjadi letusan G.Merapi seluruh anggota keluarga mbah Marijan selamat sebab mbah Marijan menyuruh Isteri anak-nak dan cucu-cucunya segera mengungsi dan mungkin sudah tekadnya untuk bersatu dengan eyang Merapi.


 Bagian 20

97. Di antara bangunan-bangunan Kraton yang secara simbolis menggambarkan kodrat manusia sebagai mikrokosmos secara esoteris adalah bangsal Manguntur Tangkil. Bangsal ini berada di dalam bangunan SITI HINGGIL yaitu tempat Raja duduk siniwaka (duduk saat ada pertemuan agung)
Siti Hinggil adalah Tanah Yang ditinggikan. Hal ini mengandung arti KENAIKAN JIWA bersama Suksma Langgeng menuju Dzar Yang Maha Tinggi.
Pandangan raja hanya harus ditujukan ke satu titik yaitu TUGU GOLONG GILIG yang menggambarkan manunggal antara hamba dan Tuhannya.
Bangsal Kecil di dalam Siti Hinggilyang disebut Bangsal Manguntur Tangkil melambangkan adanya suksma langgeng di dalam kodrat manusia yang tak lain adalah percikan dzat yang maha besar di atas kodrat manusia tetapi berada di dalam diri manusia yaitu immanent.
Kata manangkil berarti merngaji sedalam-dalamnya kesadaran masuk ke dalam diri (KEDIRI)
Saat raja bersamadi di bangsal itu gamelan monggang ditabuh pelan berirama seiring dengan nafas orang bersamadi. Irama musik ini benar-benar diciptakan untuk mengiringi orang melakukan samadi bukan untuk memacu gerakan fisik seperti halnya untuk mengiringi tarian tetapi meningkatkan getaran jiwa menuju kesadaran terbentuknya kemanunggalan antara Suksa Langgeng untuk melebur bersatu dengan dzat yang tak terbatas.
98. Jadi bangunan-bangunan di Kraton itu semua mengandung makna bukan hanya sekedar memenuhi selera estetika melainkan lebih menekankan pada bobot pemaknaan (simbolis) atas kenyataan esoteris kodrat manusia lahir dan batin. Kraton juga sebagai KITAB SUCI lahiriah bagi orang Jawauntuk dibaca dengan mengikuti halaman per halaman yang tidak berupa kertas dan ayat-ayat. Ha ini tidak lepas dari kemampuan lokal para pembangun Kraton (HAMENGKU BUWONO I dan ki Juru Mertani) yang telah WIKAN akan SANGKAN PARANING DUMADI (Mengetahui asal usul dan tujuan akhir kehidupan.

Friday, July 8, 2011

Uga Wangsit Siliwangi

dalam Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia

Bahasa Sunda

Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!

Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang, “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih pikeun hirup ka hareupna supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! Ngaing moal ngahalang-halang sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi raja anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho. Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti Gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana, saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing dating, moal kadeuleu. Mun ngaing nyarita, moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati, jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing dating, teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang, ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon. Imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo, lain embé, lain méong, lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.

Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa sabab murah jaman seubeuh hakan.

Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk. Laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup dibuburak ku nu ngaranteur pamuka jalan, tapi jalan nu pasingsal!

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur. Laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.

Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.

Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta. Mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba. Nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh. Kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. Sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan. Geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui, tapi engké lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat. Urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa jaya, jaya deui sabab ngadeg ratu adil. Ratu adil nu sajati.

Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!
Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

Bahasa Indonesia

Prabu Siliwangi berkata kepada warga Pajajaran yang ikut mundur sebelum menghilang, “Perjalanan kita hanya sampai hari ini meskipun kalian semua setia kepadaku! Aku tidak boleh membawa-bawa kalian pada masalah ini, ikut-ikutan hidup sengsara, ikut kumal sambil kelaparan. Kalian harus memilih untuk hidup selanjutnya supaya nanti bisa hidup makmur dan kaya raya, bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran seperti yang sekarang ini, melainkan Pajajaran yang berdirinya dibangkitkan oleh perkembangan zaman! Pilih! Aku tidak akan menghalang-halangi sebab bagiku, tidak pantas menjadi raja yang seluruh rakyatnya selalu lapar dan sengsara.”

Dengarkan! Kalian yang masih ingin mengikutiku, cepat pergi pisahkan diri ke sebelah Selatan! Kalian yang ingin kembali ke kota yang ditinggalkan, cepat pisahkan diri ke sebelah Utara! Kalian yang ingin mengabdi kepada penguasa yang sedang jaya, segera pisahkan diri ke sebelah Timur! Kalian yang tidak ingin mengikuti siapa pun, segera pisahkan diri ke sebelah Barat!

Dengarkan! Kalian yang di sebelah Timur, harus tahu. Kejayaan mengikuti kalian. Iya benar sekali, keturunan kalian yang nantinya bakal memerintah saudara-saudara kita dan orang lain. Akan tetapi, harus tahu. Mereka akan memerintah dengan cara yang keterlaluan. Nanti akan tiba pembalasan atas segala perbuatan mereka. Cepat pergi!

Kalian yang berada di sebelah Barat! Telusuri oleh kalian jejak Ki Santang! Hal itu disebabkan nantinya keturunan kalian yang mengingatkan saudara-saudara kita dan orang lain. Keturunan kalian itu yang akan berupaya memberikan peringatan dan penyadaran kepada teman-teman sekampung, saudara-saudara kita yang berupaya untuk hidup rukun melangkah bersama sependirian, dan kepada semua orang yang baik hatinya. Nanti, suatu saat, kalau di tengah malam dari Gunung Halimun terdengar teriakan meminta tolong, nah itulah tandanya, seluruh keturunan kalian dipanggil oleh dia yang akan menikah di Lebak Cawene. Jangan telat serta jangan bersikap dan berperilaku berlebihan sebab telaga akan meluap menimbulkan banjir. Cepat pergi! Jangan menengok ke belakang!

Kalian yang berpisah ke sebelah Utara, dengarkan semuanya! Kota tidak akan pernah kalian temukan. Yang ditemukan hanya tegalan yang harus diolah. Keturunan kalian kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Kalaupun ada yang memiliki pangkat, tetap tidak memiliki kekuasaan. Mereka nanti, suatu waktu, akan tergeser oleh orang lain. Banyak orang datang dari tempat-tempat yang jauh, tetapi orang-orang yang menyusahkan kalian. Waspadalah!

Seluruh keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu yang diperlukan. Aku akan datang lagi menolong yang membutuhkan pertolongan, membantu yang kesusahan, tetapi hanya kepada mereka yang baik tingkah lakunya. Jika aku datang, tidak akan terlihat. Kalau aku berbicara, tidak akan terdengar. Memang aku akan datang. Akan tetapi, hanya kepada mereka yang baik hatinya, mereka yang memahami terhadap satu tujuan, mereka yang mengerti pada keharuman sejati, mereka yang memiliki empati tinggi dan tertata rapi pikirannya, serta yang baik tingkah lakunya. Kalau aku datang, tidak akan berupa dan tidak akan bersuara, tetapi memberi ciri dengan wewangian. Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya. Hal itu disebabkan bukti yang ada akan diingkari banyak pihak! Akan tetapi, nanti, suatu saat, akan ada yang mencoba-coba supaya yang hilang dapat ditemukan kembali. Memang bisa, hanya menelusurinya harus menggunakan dasar-dasar yang jelas. Namun, mereka yang menelusurinya banyak yang petantang-petenteng merasa diri paling pintar dan paling benar. Kalau berbicara, suka berlebihan. Mereka memang harus menjadi orang-orang brengsek dulu.

Nanti akan banyak yang ditemukan, tetapi hanya sebagian-sebagian. Hal itu disebabkan segera dilarang oleh orang yang disebut Pemimpin Pengganti yang berkuasa hanya pada masa jeda. Namun, ada yang berani mencari terus-menerus, tidak mempedulikan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Sang Anak Gembala. Rumahnya di ujung sungai yang ujungnya bertemu dengan sungai lain, pintunya batu setinggi manusia, terlingkupi lebatnya pohon handeuleum, terimbuni pohon hanjuang. Apa yang digembalakannya? Bukan kerbau, bukan domba, bukan harimau, bukan banteng, melainkan ranting-ranting dan batang-batang pohon kering. Dia asyik mencari, mengumpulkan yang bisa ditemukan. Sebagian disembunyikan karena belum waktunya dikemukakan dan dilaksanakan. Nanti kalau sudah tepat waktu dan masanya, akan banyak yang terbuka dan orang-orang ramai memintanya untuk diungkapkan dan dilaksanakan. Akan tetapi, harus mengalami banyak kejadian dan menemukan berbagai peristiwa bersejarah. Selesai zaman yang satu, berganti zaman yang lain. Setiap zaman membuat sejarah. Lamanya setiap zaman sama dengan melakukan penyukmaan, pengusumahan, dan penitisan. Setelah penitisan, kembali lagi ke penyukmaan. Itu artinya, zaman dan sejarah selalu berputar ke itu-itu lagi.

Dengarkan! Mereka yang sekarang memusuhi kita akan menjadi raja hanya dalam waktu yang sebentar. Waktunya hanya sampai pada masa tanah kering. Padahal, tanah itu terletak di pinggir Sungai Cibantaeun. Tanah itu kemudian dijadikan kandang kerbau kosong. Nah, sejak saat itu seluruh negara akan terpecah-pecah. Dipecahkan dan dijajah kerbau-kerbau bule yang dipimpin oleh orang tinggi yang memerintah di alun-alun. Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule mengendalikan generasi muda dan pewaris kekuasaan, keturunan kita menjadi kuli, orang suruhan, namun tidak terasa karena semuanya serba ada, murah, banyak pilihan, dan bisa makan sampai kenyang.

Selepas itu, seluruh bidang kehidupan dikuasai monyet. Kemudian, keturunan kita ada yang sadar, tetapi sadarnya mirip orang yang baru bangun dari mimpi. Hal-hal yang sejak dulu hilang tenggelam dalam sejarah, banyak yang menemukannya. Akan tetapi, banyak yang tertukar sejarahnya. Ada penemuan yang digunakan, tetapi sebetulnya tidak perlu digunakan. Bahkan, ada yang dicuri dan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak paham dan tidak peduli bahwa zaman sudah berganti kisah! Kemudian, geger senegara. Pintu yang tertutup didobrak oleh para pembuka jalan, tetapi jalan yang kurang tepat.

Yang memerintah bersembunyi jauh sekali, alun-alun jadi kosong, kerbau bule pada kabur. Lalu, negara yang terpecah-pecah itu dikuasai dan dirusakkan monyet! Keturunan kita enak-enak tertawa, tetapi tertawa yang tertahan, tidak tuntas, karena ternyata warung habis dirusak monyet, sawah habis dikuasai monyet, lumbung padi habis dimakan monyet, kebun dilalap monyet, perempuan-perempuan hamil oleh monyet. Segala-gala dikuasai monyet. Keturunan kita takut oleh mereka yang bergaya seperti monyet. Undang-undang dan hukum dipegang monyet sambil mengendalikan para pemuda. Keturunan kita tetap menjadi orang-orang suruhan dan kuli. Banyak yang mati kelaparan. Mulai saat itu keturunan kita mengharapkan panen jagung sambil mencoba-coba bertani tanpa ilmu pengetahuan dalam mengolah lahan. Tidak paham dan tidak peduli bahwa zaman sudah berganti lagi kisah.

Kemudian, sayup-sayup, namun jelas beritanya, dari ujung laut Utara terdengar guruh yang bergemuruh, burung garuda menetaskan telur. Geger seluruh dunia! Lalu, apa yang terjadi di negeri kita?Ramai oleh yang sedang berperang. Perang seluruhnya sampai ke pelosok-pelosok. Monyet mengumpul berjatuhan. Keturunan kita mengamuk sejadi-jadinya, mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tak berdosa. Sudah jelas musuh, malah dijadikan teman. Jelas-jelas teman disebut musuh. Mendadak banyak yang menjadi pemimpin yang memerintah dengan cara-cara edan. Mereka yang kebingunan tambah bingung, anak-anak yang belum dewasa sudah menjadi bapak. Mereka yang mengamuk semakin kalap, mengamuk tanpa pilih bulu. Mereka yang putih dikejar dan dihancurkan, yang hitam diusir. Daratan kita benar-benar panas dan kacau disebabkan mereka yang sedang mengamuk, tidak beda dengan tawon yang dilempari tepat mengenai sarangnya. Seluruh daratan dibuat tempat penjagalan. Akan tetapi, segera ada yang menghentikan. Mereka yang menghentikannya adalah orang seberang.

Lalu, berdirilah seorang raja, asalnya orang biasa. Akan tetapi, memang titisan raja zaman dulu dan ibunya seorang puteri Pulau Dewata. Karena jelas titisan raja, raja baru itu susah untuk dianiaya! Selepas itu, ganti lagi zaman. Ganti zaman, ganti kisah! Kapan? Tidak lama setelah tampak bulan di siang hari yang disusul melintasnya bintang terang bercahaya. Di bekas negara kita, berdiri lagi kerajaan. Kerajaan di dalam kerajaan dan rajanya bukan trah Pajajaran.

Terus, berdiri lagi raja, tetapi raja buta yang membangun gerbang yang tidak boleh dibuka, membangun pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran di tengah jalan, memelihara elang di pohon beringin karena memang raja buta! Bukan buta pemaksa jahat yang sewenang-wenang, tetapi buta tidak dapat melihat, buta matanya. Buaya dan serigala, kucing garong dan monyet mencakar-cakar dan menggeorogoti rakyat yang sedang dalam keadaan susah. Sekalinya ada yang mengingatkan, yang diburu bukan binatangnya, melainkan orang yang mengingatkan tersebut. Makin lama makin lama, banyak raksasa yang jahat. Mereka menyuruh menyembah lagi berhala. Pergaulan anak muda salah jalan. Kesalahan pergaulan itu diakibatkan oleh salahnya aturan dari pemerintah. Undang-undang dan hukum hanya ada di mulut dan dalam diskusi-diskusi kosong tanpa bisa ditegakkan dengan benar. Hal itu disebabkan para pejabatnya bukan ahlinya, buah padi banyak yang tidak masuk ke dapur rakyat. ........................ Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

Dalam keadaan itu, datang Pemuda Berjanggut. Datang dengan menggunakan pakaian serba hitam sambil menyandang sarung tua, menyadarkan orang-orang yang sedang tersesat, mengingatkan orang-orang yang sedang terlupa. Akan tetapi, tidak diperhatikan! Mereka tidak memperhatikannya karena pinter keblinger, inginnya menang sendiri. Mereka tidak paham dan tidak sadar bahwa langit sudah memerah, menunjukkan wajah marah, dari Bumi asap sudah mengepul dari perapian. Alih-alih diperhatikan, Pemuda Berjanggut oleh mereka ditangkap, lalu dimasukkan dalam penjara. Kemudian, mereka mengacak-acak rumah orang, mengobrak-abrik urusan orang, merusakkan nama baik organisasi orang dengan alasan mencari musuh yang jahat, padahal mereka sendiri sesungguhnya yang mencari-cari permusuhan.

Waspadalah! Mereka nanti akan melarang keadaan Pajajaran dikisahkan. Hal itu disebabkan mereka takut ketahuan bahwa sebenarnya merekalah yang menjadi gara-gara selama ini yang menyebabkan terjadinya berbagai kesemrawutan. Raksasa-raksasa yang beringas semakin hari semakin bandel, sombong, pongah, brutal, dan sewenang-wenang melebihi kerbau bule. Mereka tidak sadar bahwa zaman manusia sudah dikuasai binatang!

Kekuasaan raksasa-raksasa buta itu tidak terlalu lama, tetapi selama berkuasa itu keterlaluan sekali menindas rakyat susah yang sedang berharap datangnya mukjizat. Raksasa-raksasa itu akan menjadi tumbal, tumbal kejahatannya sendiri. Kapan waktunya? Nanti kalau sudah tampak Anak Gembala! Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara. Lalu, mereka mencari Anak Gembala yang rumahnya di ujung sungai berpintu batu setinggi manusia beratapkan pohon handeuleum bertiangkan pohon hanjuang. Mereka mencari Anak Tumbal. Mereka menginginkan tumbal untuk dikambinghitamkan. Akan tetapi, Anak Gembala sudah tidak ada, sudah bergerak bersama dengan Pemuda Berjanggut. Keduanya sudah pindah membuka lembaran baru, pindah ke Lebak Cawene!

Mereka yang mencari Anak Gembala hanya menemukan burung gagak yang berkoak-koak di dahan mati. Dengarkan semuanya! Zaman bakalan ganti lagi, tetapi nanti setelah Gunung Gede meletus yang disusul meletusnya tujuh gunung. Gempar lagi seluruh dunia. Orang Sunda dipanggil-panggil. Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Senegara bersatu lagi. Nusa jaya, jaya lagi sebab berdiri Ratu Adil. Ratu Adil yang sejati.

Ratu siapa? Dari mana asalnya itu ratu? Nanti juga kalian bakal tahu. Sekarang yang penting, cari dan temukan oleh kalian Si Anak Gembala!

Segera berangkat! Jangan menengok ke belakang!

Saturday, June 25, 2011

Tata Budidaya Suci Jawa-Hwuning

I. Jaman JAMAJUJA (Puluhan ewu tahun kepungkur)


Dhek jaman semana Pegunungan Kendheng kuwi wujude ana pegunungan 2 (loro):

1. Pegunungan Kendheng Kidul, karan Pegunungan Kendheng tuwa.
2. Pegunungan Kendheng Lor, karan Nusa Kendheng.

1. Pegunungan Kendheng Kidul

Kuwi dununge wiwit saka wetan Pegunungan Kabuh, Kabupaten Jombang, mbanjeng mujur mengulon tutug Pegunungan Masaran, Kabupaten Sragen.
Sabab saka anane lindhu prakempa Gunung Lawu jaman sangang ewu tahun kepungkur, ndadekake Pegunungan Watujago bengkah omblah-omblah mujur mengulon; wasana dadi Lembah Ngawi kanggo dalan iline Bengawan Sala nrabas menggok ngalor tutug Cepu.
Sakdurunge ana lindhu gedhe, Pegunungan Watujago tutug Pegunungan Masaran kuwi dienggoni menusa sing isih wuda mblejed, wujude kaya kethek-rangutan gedhe pangane rupa kewan: kodok, kadal, ula, cacing, jangkrik, walang, sarta woh-wohan: mulwa, srikaya, mete, dhuwet, popohan, nanas lan liya-liyane.
Kabeh mau mung cukup ngapek utawa nyekel ning alas panggonane urip neng kono. Panggonane turu ning gowok sing dhuwur utawa pang-pang gedhe, durung ana sing wani turu ning guwa; sabab guwa-guwa kuwi mesthi dienggoni macan gembong. Wong mau yen mati bangkene diumbar ngenggon kono nuli ditinggal lunga, wekasane diothel-othel dipangan kewan galak; balunge pating kececer ning kana-kana katut banjire Bengawan Sala padha nyangrah ning mbereman Gemolong, Kalijambe, Kabupaten Sragen, wasana kurugan lumpur lan padhas linede Bengawan Sala, uga ana sing tutug mbereman Ngandong, Kabupaten Ngawi.
Wong pulo liya sing wis padha duwe tata-budaya, olehi ngarani wong ngono mau aran Wong Legena. Uga ana sing ngarani Gandaruwo. Ana maneh sing ngarani Kethek Limuri.

2. Pegunungan Kendheng Lor

Pegunungan Kendheng Lor (Nusa Kendheng) watara limang ewu taun kepungkur wis dienggoni wong sing luwih maju tinimbang wong Legena, wong-wong mau wis bisa gegaweyan gaman-watu diasah landhep. Nusa Kendheng kuwi nalika semana isih wujud Pulo gedhe cawang telu kang kinilung Teluk Lodhan lan Segara; ing sisih wetan ngongkang Telok Lodhan lan Segara Kening. Sisih kidul keledan Segara Selat Kendheng-Kidul lan Segara Teluk Lusi. Sisih kulon Segara Teluk Serang kang tepuk karo Segara Selat Murya. Sisih lor Teluk Juwana lan Samodra Jawa kang jembar lerab-lerab. Gunung Murya isih wujud gunung geni dhuwur-ngukusan, dikilung segara.
Nusa Kendheng kuwi ora duwe tanah ngare lembah banthak tadhah udan kang ngembong banyu; wujude mung pegunungan alelengkeh jurang lan gompeng; ing sawetara gompeng ana guwa-guwane padhas sing jembare mung sarompok teba. Neng bumi Nusa Kendheng kono kuwi ora ana thethukulan pari lan jumawud, sing ana mung jalinthing, canthel, lan jagung-kodhok kang thukul subur neng lelowah sing ngembes; wohe dadi pangane kethek, bethet lan bantheng. Ning alas kono lebeng wite: jati, trenggulun, sawo-kecik, mete, klethuk, lan mulwa.
Gisike-pesisir nggenggeng wit: krambil, bogor (tal), jambe. Pesisire sing wujud rawa-embet klethukulan: rembulung, bongaow, sarta brayo kang nrecel riyel. Ning punthuk pegenengan sing dhuwur-dhuwur ketel suket-kalanjana lan alang-alang sing dienggoni grombolane bantheng. Bantheng wadon aran Jawi. Sing gemati banget (jawa banget) ning pedhet-pedhete. Ing wayah bengi jawi-jawi mau yen padha turu padha kupeng adu bokong karo jawi-Jawi liyane ngilung pedhet-pedhete. Dene bantheng-lanang sing mbenguk padha kekiter njaga grombolane, aja nganti dimunasika kewan-galak.
Nalika semana Pegunungan Kendheng Lor kuwi wis didunungi menusa wong asli pribumi kono. Dedege endhek pawakane cilik, kulite nembaga. Kauripane isih wlaha lugu deles, nanging wis nduwe kemajuwan. Tatabudaya gegaweyan; sandhangane rupa cawed saka lulup waru diperut-alus dienam, utawa lulang kewan diucel nganti lemes. Uripe sagotrah manggon ning guwa-guwa padhas mau, kekancan karo asu-gladag sakirike sing wis padha kawong lulud melu manggon cedhak guwa kono.
Bocah-bocah cilik karo kirik kerep padha gojeg kekuwelan nanging nyakote ora tenanan, mung padha ngos-ngosan pating krenggos. Panguripane wong-wong mau saka kekrapa, nyelog, memed, lan mbebedag-ajag. Gamane rupa payal, panah, bedhor, sing digawe saka watu-jae kempling diasah mlingir landhep banget. Yen luru pangan asu-asu kuwi mesthi melu kekinthil utawa jejigar sesanderan ngoyak kewan nuronan, uga sok melu nyelog ndukiri palapendhem-alasan. Oleh-olehane pangan digawa mulih dirantengi mung dikoprok thok, yen wis mateng nuli dioser-oseri awu rencek-sangkrah segara dadine mbanjur krasa asin; nuli dipangan kepyah-kepyah sabrayate uga asu-asu sakirike padha melu mangan bebarengan. Genine entuke saka wit kang kobong disamber bledheg, pang-pang garing ana genine mengangah merga gesekan karo pang-pang liyane ing mangsa ketiga-ngangkang. Geni kuwi digawe totor marong rina-wengi ning sacedhake guwa kono; yen bengi ngiras digawe memedeni kewan galak supaya ora wani nyedhaki guwa kono; kawuwuhan kewan-kewan galak kuwi padha giris dijegogi asu-gladhak sepirang-pirang swarane mawurahan rame. Yen pinuju padhang rembulan wong-wong mau padha seneng-seneng ning sak njabane guwa, pada jejogedan lan gegandhangan sarta keplok-keplok lan anyul-anyul cangkeme mecucu kaya cupu, tunggak-tunggak utawa kayu sing ngglonthong dithuthuki digawe tetabuhan. Wong asli dhek jaman JAMAJUJA sing uripe isih sarwa deles prasaja wlaha ngono mau diarani Wong Suku Lingga.


II. Jaman KUNA-MAKUNA (Sadurunge Tahun Masehi)




Wong Nusa Bruney-kidul sing manggon ning saurute pesisire Teluk Sampit sarta neng tepis kiwa tengene Bengawan Sampit-hilir, ing sawijining wektu ketrajang pageblug-gedhe. Jare wong-wong Sampit kuwi padha digrowoti Setan Blarutan-sogrok weteng; nganti akeh banget wong-wong sing padha mati, luwih-luwih bocah cilik sing isih demolan.
Wong-wong sing isih urip padha miris banget, nuli padha ngungsi minggat ngumbara lelayaran mengidul nyabrang samodra Bruney; tumuju ning Nusa Kendheng. Setan Blarutan ora wani nyabrang samodra nututi wong-wong ngungsi mau, jare wedi kesiku Bathari Hwa Ruh Na, ratune Jim-Samodra. Mangkate wong-wong ning Nusa Kendheng dipangarsani dening Kie Seng Dhang, sawijining wong tuwa Sampit sing wegig lan akeh pengalamane, wong sing jangklanglana ning manca negara. Sawise lelayar sepuluh dina sepuluh wengi, ing wayah pajar bang-bang-wetan katon regemenge Gunung Nusa Kendheng (saiki Gunung Ngargapura Lasem); gisik sawetane Ngargapura katon sesawangan (pemandhangan, saiki dadi desa Pandhangan) kang ngresepake pandulu. Puncake Gunung Ngargapura katon ampak-ampak memplak, langit resik ngalela warnane biru-lasuardi; ombak agilir-gilir lindhuk nyempyok gisik pesisir sawetane Ngargapura. Ya neng bumi kono kuwi wiwite wong-wong Sampit padha ndarat cakalbakal dadi bangsa-anyar, aran Wong Jawa. Let sapenginang (wong-wong wadon Sampit padha seneng nginang nglenthusi woh jambe sing isih enom, arane Mucang), prau-prau mau wis padha mepet gisik (palwa-palwa = palwangan. Plawangan, saiki dadi desa Plawangan), para Pandhega mbuwang dandhan padha ndokok (menaruk-naruk, saiki dadi desa Narukan) praune jejer-jejer urut gisik mbanjeng mengidul. Nenek-nenek padha ndisiki mudhun saka prau kanthi mbuwang susure tepes-jambe ning segara, minangka sarat mbuwang sebel saka negarane. Nyi Seng Dhang nguculi udhete ngrogoh cepuk isi lemah-lebu saka bumi Sampit, disawurake ning gisike bumi Ngarga Kendheng; nuli sembahyang sujud sumungkem Pretiwi lan tumenga Angkasa. Wong-wong wadon liyane padha melu sembahyang bebarengan, ing pamuji: “Muga-muga sagotrah krandahe sing padha neneka kuwi padha entuka Kabekjan lan Karahayon pindhah tetruka ning bumi kono, tulusa trah-tumerah turun-tumurun bebranahan nganti pirang-pirang jaman dadi bangsa-anyar neng Nusa Kendheng.” Wong-wong lanang nuli padha nusul munggah dharatan luru papan panggonan sing nyangkleg ning Tuk, kanthi enthuk pituduh lan pangeguh saka kakek Kie Seng Dhang sing lakune wis sempoyongan astane digandheng putune Putri-kinasih umur 12 tahun; praupane ayu pindha golek-kencana, asmane Nie Rah Kie. Kakek Kie Seng Dhang mlaku nusup-nusup ning alas bebondhotan, sawise oleh papan kang cocog lan gathuk nuli prentah ning kabeh krandahe diutus mbubak grumbul nebang kekayon digawe teba. Putri Nie Rah Kie weruh kembang warnane putih-memplak anjrah nedhenge medem uga ana sing isih kundhup gandane amrik-wangi, wite pating grembel ngoyod ning gompeng. Sang putri kesengsem banget nuli matur ning Eyange. “Besuk yen wis duwe omah lan karasan arep nandur kembang sing warnane putih ngresepake banget ngono kuwi.” Kembang mau dijenengke kembang Melathi dening Sang Putri. Watara patang sasi alas kuwi wis dadi papan-pomahan lan pekarangan; nalika kuwi tepak mangsa Labuh wayahe boros padha trubus, uler jati padha dadi ungker, woh-wohan padha medhohi, palapendhem akeh sing isih bentet; ndadekake wong-wong seneng ayem ngrasa ora kekurangan pangan. Minangka kanggo mengeti asal-usule Kie Seng Dhang kuwi saka desa Tanjung-matalayur sawetane Teluk Sampit bumi Nusa Bruney pesisir kidul, mula punjere desa cakal bakal sing didunungi Kie Seng Dhang sagotrah-krandahe mbanjur dijengke desa Tanjungputri (saiki dadi desa Tanjungsari, Kecamatan Pandhangan/ Kragan Kabupaten Rembang). Sawise dadi karas-pekarangan lan pomahan, ing sawijining dina wong-wong mau padha ngumpul ning Balepaguyuban Tanjungputri, perlu ngrembug Tatapranata lan Tataraharjane desa disesepuhi kakek Kie Seng Dhang. Giliging gawe putusan: Ngangkat Kie Seng Dhang diwisudha dadi Sesepuh lan Dhatu Tanjungputri ing salawase Urip, mrenata bumi Pegunungan lan Pesisire Ngargapura, wiwit Pandhangan tutug teluk Lodhan sing gisike wujud Wedhi-malela. Teluk kuwi nggenggeng alase wit Pung kang ketel sirung, ing sisih wetan ana bregade wit Pung-gedhe banget cacahe ana telu (=Sam, saiki dadi desa Sampung). Bumi Nusa-Kendheng diganti aran: Tanah Jawi, nulad arane Bantheng-wadon (jenenge: Jawi) sing dikramatake dening wong Lingga. Awake dhewe kuwi wis ora aran wong Sampit maneh, ngganti aran; wong Jawa, Nulad watake bantheng-wadhon kang jawa-banget (=gemati, ngerti, wigati) mring pedhet-pedhete. (Bumine aran: Tanah Jawi, menusane aran: Wong Jawa). Wong-wong kuwi nuli menehi tetenger Tahun, wiwite dadi Wong Jawa, diarani (Tahun Jawa Hwuning: 1 = 230 tahun sakdurunge tahun Masehi); sarta digawekake Lambang-Reca watu-item gedhene sak-menusa, pethane Kie Seng Dhang ndodhok ning Pongol sawetane Gunung Tunggul. Para tetuwa diwajibake nganggo kalung rambute dewe ditampar, lan diwenehi mendhel/ gandhul singg digawe saka Watu-jae wilis gedhene sajenthik-manis; memper recane Kie Seng Dhang. Wong-wong mau padha Prasetya-Suci Wong Jawa turun-temurun tutug Jaman apa wae tetep padha ngrungkepi Tatapercayaan-Suci Hwuning, naluri saka leluhur Nusa Bruney bangsa Chaow (=inggatan=ngumbara) saka Nusa-Hainan; jaman Jamajuja 3000 taun kepungkur (1000 taun sakdurunge Nabi Isa el Masih miyos). Guru-guru Agung bawana Masriki uga durung miyos neng Alam-ndonya, yakuwi: 1. Laow Tze Tao, 2. Hud Tze Buddha, 3. Kong Tze Khonghucu. Wondene asal-usule bangsa Chaow sing kawitan kuwi wong saka negara China, tepise bengawan Yang Tze Kiang udhik diapit Pegunungan Kwen Lun lan Pegunungan Tang La, Propinsi Ching Wai. Wong-wong mau sumebar mengidul ning bumi Tiongkok-Kidul (Nalika 4000 taun kepungkur=2000 taun sakdurunge taun Masehi), ngliwati sakidule Pegunungan Yun Lin. Ngliwati Propinsi Yunan, Propinsi Kwang Sie, Propinsi Kwang Tung. Nuli nyabrang segara munggah dharatan Nusa-Heinan, sabanjure nuli nyabrang mlebu Nusa-Bruney; sumebar anjrah dadi banbgsa-anyar suku Dhayak rupa-rupa jenenge manut arane Bengawan-bengawan kono (Barito: Maanyan-siung. Kayan: Apokayan, Kenya. Segah: Segal. Maham. Punan. Sampit). Sawise dadi wong Dhayak Sampit nuli ngumbara maneh nyabrang samodra ngancik Nusa-Kendheng, malih ngganti aran: Bangsa Jawa. Ing mbesuk Wong-wong Jawa neng Negara ngendi wae tansah padha nguri-uri ngagungake Ke-Jawane, lan mekarake Senibudaya Jawa. Wong Jawa sing nyingkur/nyepele ke-Jawa-ne bakal dadi wong Jawa-jawal sing ora nduwe Dhangkel lan Oyod-lajer. Uripe tansah Nglindur lan Mbangkong nganti ngaya ngayal-andupara, nguber kaendahane Jodhog-layung ing wayah surup Sandyakala. Kakek Kie Seng Dhang ngasta pemrentahan Banjar (=desa gedhe) Tanjungputri genep 30 taun, yoswa 90 taun wis wiwit loyo lan ngrasa wegah; pamrentahan nuli dipasrahake Putri Nie Rah Kie kanthi diwakili garwane yakuwi: Bandhol Hang Lhe Lesy kepala Pelaut pesisir Pandhangan sapengidul. Bareng Putri Nie Rah Kie nyekel pangwasa Banjar Tanjungputri, bandhol Hang Lhe Lesy nggawe pranatan Pemrentahan: Sang Putri Nie Rah Kie dikeker dipingit sajrone Tamansari Kedhaton, ora ana wong lanang sing kena meruhi ragane (praupan lan blegere) Sang Putri; kejaba garwane lan putra-putrine sarta para Emban. Undhang-undhang pranatan Pemrentahan didhawuhake saka Kaputren kedhaton Tanjungputri Kraga (=ngeker raga=kerraga=keraga; saiki dadi Kragan) liwat Emban-keparak; nuli diterusake ning Nayakapraja-priya. Sawise Kie Seng Dhang seda layone ditunu, awu layone dikubur sacedhake Tuk/ sumberan lan didodoki tetenger watu mecongol diayomi wit Wringin-Brahmastana. Minangka Leluhur (=Dhanhyang) sing cakalbakal desa kono, mula asmane Kie Seng Dhang dipepundhi Trah tedhak turune lan kawula-rakyate; panjenengane minangka Dhanhyang Pundhen kanthi dipengeti tembung “Tuk” ning kabeh desa diganti tembung Sendhang. Ngapek saka tembung Seng Dhang (Yakuwi: Sendhangmulya, Sendhangwaru, Sendanggayam, lan liya-liyane). Reliqe (200 taun durung Masehi) dirawati dipepetri Trah tedhak turune digawa ning negara liya digawe tumbal dipendhem ning Taman Pundhen Agung. Wong-wong Tanjungputri yen mati layone ditunu ning gisik Pandhangan, awu-layone dilarung dikelemake ning segara. Asmane suwargi Putri Nie Rah Kie disungging dening tukang Patung wujud Reca-emas didokok ning candhi gunung Tunggul. Pamrentahan Kraga Tanjungputri klakon madeg nganti pirang-pirang turunan ora ana sambekala, saben ganti Pemimpin mesthi milih Putri kang Witjaksana trah-tedhak turune Putri Nie Rah Kie; lan uga ngeker-raga ning Taman Kedhaton Tanjungputri. Wong-wong Jawa Kraga kuwi uripe wis padha seneng-ayem, sebab padha cepak rejekine sembada sandang pangan lan bale-pomahane, sarta pada tetep ngrungkebi ngluhurake Tata Budidaya Suci Jawa Hwuning.

III. Jaman KUNA-KOBRA (Ing taun Jawa-Hwuning: 230 Masehi: 1)

Kacarita ing sawijining bengi nalikane wong-wong Pambelah Pandhangan lagi padha jejagongan ning gisik kang ngilak-ilak, padha omong-omong nyatur. Kawitane nggone ndarat Leluhure ning gisik bumi Pandhangan kono kuwi dietung-etung wis ana 10 = sepuluh turunan.

Ketitik neng blandar-tongciet dalem Pedhanyangan Tanjungputri ana toletan-enjet 230 dulit (=1 dulit = pendhak Labuh = 1 taun); toletan kuwi minangka papeling nggone ndarat Leluhure lawase wis ana 230 pendhak mangsa labuh (=230 taun). Nggone ngetung 10 tutunan kuwi wiwit saka Dhanhyang Kie Seng Dhang. Nalika padha jejagongan kuwi dumadakan wong-wong mau padha kaget sebab weruh Kaelokan: Ning langit tencebing cakrawala sisih lor-kulon ana sorote Lintang-kemukus nglandeng sumorod ngidul-ngetan, ngliwati sandhuwure segara Jawa lan segara Kening.
Wayah esuke wong-wong padha umyeg nyatur wahanane Lintang-kemukus mau; ana wong sing nyarawidekake ning Nujum sing waskitha, wedhar wasitane: “Neng Bawana negara Maghribi rajane lagi nglumpukake Kawulane mlebu ning kutha, perlu diwilang cacah-jiwane. Ana kang sejodho, sing lanang pagaweyane tukang-undhagi; sing wadon lagi ngandheg tuwa, wong mau ora keduman pondhokan mung entuk panggonan kandhang wedhus pinggir desa. Dumadakan ning kandhang kono wong wadon mau mbabarake jabang-bayi lanang; wecane Sang Nujum: “Besuk jabang-bayi kuwi yen wis diwasa bakal dadi Raja Binanthara-nyakrawati, nanging ora kagungan Keraton ora tau pinarak dhampar-kencana, ora kagungan prajurit kang asikep gegaman perang; nelukake musuh ora kanthi merangi lan milara, mung kanthi Perbawa (Ambek asih pari-tesnane). Gesange ora kagungan Wibawa (Kamulyan sugih rajabrana), mung nyandhang sapala kandhang langit kemul mega ngumbara ndlajah desa milangkori, medhar Wasita “Begja Rahayu”. Wong-wong Pambelah mengeng nggagas wahanane weca sing aneh banget ngono kuwi. Let seminggu sawise wong-wong Kraga padha weruh Kaelokan ngono mau, wong Sampung akeh sing padha ngimpi; rumangsane akeh iwak Pesut-Lodhan lan Bantheng padha ngamuk liwung ngrusak Banjar Sampung ngebrukake omah lan nguber-uber wong padha dipateni.
Ora gantalan dina sawijining bengi angler-anglere wong padha turu dumadakan ana prahara gedhe; angin sindhung-riwut segara Jawa lan segara kening kaya dilebur, alun gedhe gumulung nglanjak dharatan lan Teluk Lodhan; perenge Gunung Ngarga sisih wetan padha longsor. Thukule prahara gedhe ngono kuwi sabab Gunung Agung Sengkapura njeblug (Ing taun Jawa-Hwuning 230 = Masehi 1). Pulo Baweyan Sengkapura sirna separo, mblabare blegedaba muncrate lumpur-panas lan watu-watu mengangah kontal ning angkasa, sarta udan awu sumebar tutug ngendi-ngendi ngurugi Segara Jawa. Teluk Lodhan malih dadi dharatan Kragan, Sarang, Sedhan (Kabupaten Rembang). Segara Kening malih dadi dharatan Pesisir Lor Kabupaten Tuban. Ing sisih kidul nyisa mberemake kali-gedhe (Bengawan Solo) wiwit Kradenan ngglendheng mengalor tutug Cepu, nuli mbelok mengetan dadi bengawan Kethek; mbanjur amber dadi rawa Widhang tutug bumi-embet Pangkah/ Sidayu, iline muntah ning Segara-supitan Medunten.
In taun Masehi: 50 dharatan tilase Segara mau wis malih dadi alas-bebondhotan kaselanan palakirna warna-warna. Wong-wong Tanjungputri salore Ngargapura wiwit padha wani lan seneng bebadra bubak desa ning Pesisir-lor Segara kening, sing bumine sela-selane watu-gamping tutug tepise segara padha ngetuk, mbrubul banyune tawa bening nyarong. Bumi bubakan mau dijenengake, desa Mituk (Saiki dadi desa Beti = Bektiharjo).
Ing taun Masehi: 100, desa Mituk kuwi wis dadi Banjar gedhe mbanjeng mengalor ngliwati bumi pagenengan sing lemahe warna Kuning semu Abang; sarehne wis dadi Banjar gedhe tur nyangkleg segara, para Pambelah/ Nelayan nggawe plabuhan ning pesisire; plabuhan kuwi dadi bantarane para Pelaut/ Pedagang saka manca negara, padha gancol sarupane barang-kebutuhan bisa tinemu ning pasar Mituk kono. Misuwure ning negara-manca, banjar kuwi ora diarani banjar Mituk, nanging diarani banjar: Sitijenar. Wong-wong saka Tanjungputri Jawa-Hwuning kang cacah jiwane luwih akeh, padha saeka-praya ngangkat sawijining wong Wegig Wiled Trah-tedhak Tanjungputri, asmane Hang Tsu Hwan, diwisudha dadi Dhatu (kepala Adat) banjar Sitijenar. Nalika pamisudhan dikepkyakake, Dhatu Hang Tsu Hwan ngundhangake ning para Sumewa; papan Pasawuwan-agung mau didadekake punjere kutha Sitijenar, dijenengake Kutha Begja-Agung (ucape umum salah-kaprah ngarani Bejagung).
In taun masehi: 107, Dhatu Hang Tsu Hwan wis bisa ngirup Banjar-banjar pesisir-lor tanah Jawa, kutha Begja-Agung nuli didadekake punjer Pangesuhe banjar-banjar mau; dijenengake Negara Jawa Purwa. Wiwit jaman pamrentahan Hang Tsu Hwan wong-wong Nusa Jawa-Pegon kuwi wis akeh sing padha nggrancol ning Banjar Sitijenar, pangesthine Nusa Jawa-Pegon kuwi supaya luluh dadi siji karo negarane Dhatu Hang Tsu Hwan (Nggone ngarani ngaub pangwasane Dhatu Hang Tu-Ban = pamrentah Tuban)




IV. Jaman JAWA-DWIPA (JAWA-Pegon lan JAWA-Purwa)


Ing taun Masehi: 110, bumi Jawa-Pegon kuwi dihoregake Lindhu prakempa marambah-rambah asale saka Gunung Kamput; gunung kang ngongkang Segara-supitan Kamput padha horeg ngengkrog-engkrog sora banget, bregad-gedhe pada rungkat rubuh pating slayah; perenge gunung-gunung pada longsor nglongsori Segara-supitan Kamput.
Liya dina kawuwuhan Gunung Kamput njeblug ngetokake blegedaba bulah-bulah mawalikan mblabar ning Segara-supitan; udan awu sumebar tutug ngendi-endi. Wong-wong Sitijenar nyawang langit peteng kaya kesaput mendhung ngendhanu ngono kuwi padha miris banget, ora ana wani metu saka ngomah sabab bledug-awu ngampak-ampak mlepegi napas, godhong gedhang padha sengkleh kabotan awu nemplek nglapis lumahe.
Bareng wis klakon setaun kaanan sing mengkono mau wis sirep tidhem, Segara-supitan Kamput katon malih dadi ciyut kali sapralimane, ganti wujud dadi bengawan ambane bisa disabrangi nganggo gethek-gedebog; wong-wong menehi aran: Kali Brantas (Nalika Taun Masehi: 111).
Wong-wong Nusa pegon sangsaya wuwuh adrenge nggone nedya manunggalake negarane karo negara Jawa-Purwa, mula nuli padha usul ning Dhatu Hang Tsu Hwan. Saka kawicaksanane Sang Dhatu pamonthane wong-wong kuwi enggal dileksanani, kanthi disekseni wong-wong saka negara liya, Gembleng cawuh manunggale negara Jawa-Pegon karo Jawa Purwa (P = (aksara Jawa) = loro) dijenengake: Nusa Jawa-Dwipa. Nalika taun Masehi 115.
Ing taun Masehi: 385, wong-wong banjar Terahan sing cacah jiwane wis padhet, padha lunga misah bebadra cakalbakal ning bumi Argasoka, yakuwi perenge Gunung Ngargapura sing sisih kulon; papane ngongkang Segara-teluk, sing sisih lor kadhangan Punthuk Ngendhen, Kecamatan Lasem. Segara-teluk kuwi mbanjeng mengetan nuli mbelok mengidul urut perenge Pegunungan Argasoka, ning pepereng pegunungan kono kuwi akeh wite Pucang lan Resula blukange warnane kuning-gadhing tuwuh nggenggeng ledhung-ledhung. Saka bumi bubakan kono yen nyawang mengulon katon Pulo Maura dikilung segara, pulo kuwi wujud gunung-gedhe masung pucake mawa kawah-geni ngetokake kukus kumebul nglandeng ning langit; ing sisih kidule katon benggang karo pegunungan Sukalila-Prawata keledan Segara supitan Maura. Wong-wong bebadra kuwi dipangarsani kanoman umur 35 taun asmane Hang Sam Badra, sawijining Klana kang adoh tebane ning Sabrang lan Negara kana-kana. Mula kuwi dening wong-wong bebadra mau mbanjur ngangkat dheweke diwisudha dadi Dhatu ning kono; bumi cakalbakal kuwi katelah aran Pucangsula (Saiki tilase dadi desa Logadhing-Sriamba, Kecamatan Lasem). Sawise desa kono madeg 15 taun malih dadi Banjar-gedhe sebab akeh wong neneka saka negara Sabrang melu bebadra ning kono; wong-wong manca mau sawise kumpul srawung karo wong Pucangsula, temahan padha malih ganti seneng ngrungkepi Kapercayan-Suci Hwuning lan Budibudaya Jawa, wekasane mbanjur luluh dadi wong Jawa-Dwipa.
Wiwit bebadra dadi Wong Jawa ning Tanjungputri ing taun Jawa-Hwuning: 1 nganti bebranahan mencar sumebar sepegunungan Kendheng Ngargapura suwene wis 617 taun, durung ana wong Wegig gong Wicaksana mulangake medhar Larasing Kapercayan-suci Hwuning. Wong-wong nggone ngrungkepi ngedhep/ manembah Hyang Tata Maha Das kuwi yaa mung atut-grubyug kaprah lumrahe wong akeh padha krukunan nindakake Tatacara susilatama lan setya ning Negara. Lagi jaman madege banjar Pucangsula kuwi Kapercayan-suci Hwuning bisa dingerteni/diwikani dilelaras
dening para Wegig, para Pandhita; saka leladi pangastutine Panembahan Guru Dhatu hang Sam Badra kang merlokake nyambi mulang para Kasepuhan Kanung (=sengkaning gunung); ing taun Masehi: 387, manggon ning Pasraman punthuk Punggur Gunung Tapa’an (Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang).
Ing taun Masehi: 390, Dhatu Hang Sam Bandra nggawe plabuhan lan galangan-prau (=dhak-palwa) ning Sunglon Bugel utowo Gunung Bugel (Tilase saiki dadi pategalan lan kali aran Palwadhak; sakidule desa Tulis, Kecamatan Lasem). Prau-prau kuwi kanggo sesambungan Pemrentahan Pucangsula karo Banjar-banjar wilayahe saurute pesisir Jawa (Pantura), wiwit banjar-Losari teluk-Tanjung (Kabupaten Brebes), mengetan tutug banjar-Rabwan (Kabupaten Batang) lan Banjar-Tugu (Kabupaten Semarang), nuli banjar Purwata lan banjar-Tanjungmaja (Kabupaten Kudus), gisike pulo Maura sisih wetan yakuwi banjar-Tayu lan banjar-Blengon (Kecamatan Kelet, Kabupaten Jepara). Plabuan Pucangsula dumunung saelore galangan prau digawekake Gapura madhep mengulon ngadhepake Segara-teluk Kendheng (Saiki dadi desa Gepura) saka gapura kono digawekake ratan ndladag urut urut perenge Pegunungan Argasoka tutug punjere kutha Pucangsula.
Pangwasane Dhatu Hang Sam Badra dibantu Putra-putrine isih kenya yoswa 22 taun, rupane ayu banget pindha Widadari Wilutama; asmane Dewi Sie Bah Ha (=Sibah); sang Dewi ngasta pangwasa Angkatan Laut Segara Jawa-Dwipa kanthi kekuwatan Kapal-perang sing prajurite dumadi saka wong-wong kang kenthug kuwat lan pinter ulah kridhane perang, kanthi sikeb gegaman kang ampuh mawa racun-aneh; negara liya ora ana sing duwe lan ara ana sing bisa nggawe. Sang Dewi melu nylirani lelayaran ning samodra kanthi nitih Kapal-gedhe kang mligi dinayakani prajurit Wanita sing wanter lan kendel, uga sikeb gegaman kang mawa racun wujud Tulup-paser sing bisa nylorod adoh; sarta patrem-Tubrem yen disawatake musuh lamun mlesed, patrem mau bisa munyer bali maneh niba sacedhake sing nyawatake (Kaya bumerang). Wondene juru-mudhine sarta tukang welahe Kapal-kaputren mau wong lanang kang kuwat lan bandhol, nanging dipilih wong sing Peloh lan wis ilang prasa-Asmarane. Mula negara manca mau padha wedi lan sungkan ning Dewe Sibah lan negara Pucangsula.
Sang Dewi nggone ngwasani segara Jawa-Dwipa kanthi nggunakake kapal-perang kuwi perlu nganggo nglabrag nyirnakake Bajag-bajag kang gumendhung lan kumendel sing mung nggunakake prau-prau knothing sarta gaman pedhang lan clengkreng, dumeh praune bisa cukat rikat kanggo ngoyak prau-prau dagang memangsane utawa ndarat mrawasa Desa.
Bajag-bajag sing nggawe werid rengkede Segara-supitan Medunten kuwi wekasane sirna sa-Benggol-benggole lan sasudhunge. Wasana pesisir Segara Jawa-Pegon sisih wetan mau dadi tidhem lerem, banjar-banjar bisa bali madeg kanthi tata-tentrem sarta bisa sesambungan karo Pemrentahan Pucangsula.
Putri Sibah saliyane nyirnakake Bajag-bajag, merlokake narik Upeti ning kapal-kapal dagang kang liwat segara Jawa; isine kapal sing rupa beras lan pari sarta sembet-tenun cita-sutra uga gaman-pertukangan, ditarik upeti sapra-limane; sing gemang mbayar mesthi dilabrag ditelukake kapale dibeskup. Nakodha kapal sing rupane bagus utawa penumpang sing bagus mesthi ditawan dilebokake kamar-kamar Kaputren. Kawegigan lan Kaprawirane wong-wong bagus mau didadar dening Sang Dewi; yen bisa lulus pendadarane sarta bisa ngalahake kasektene Dewi Sibah rila dadi jatukramane. Sabalike yen kawitan didadar Kawegigan wis ora lulus, wong tawanan kuwi nuli diwetokake saka kamar pendadaran dipasrahake Nayaka-wanita kapal Kaputren; mangsa borong digawe apa kono. Ora nganti sesasi neng kamar-tawanan pangwasane Nayaka wanita mau, awake wong-bagus tawanan kuwi malih rusak ora kuwat ngglawat; wekasane nuli dijegurake samodra dadi mangsane iwak Undhuk-undhuk-gedhe kang rakus banget. Misuwure jare digawe sajen Ratune Jim Dhuyung-jaran, sing nguwasani Samodra Jawa-Purwa. Mula kuwi kapal dagang sing liwat segara Jawa gamang nggunakake Nakodha sing bagus rupane; dene wong bagus penumpang sing wani nekad mati-mati yen wis ngerti rasane ngalami nyatane, yaa sumangga mangsa borong!!! Asmane Dewi Sibah nganti kaloka ning negara Sabrang kana-kana, sang Dewi nganti diparabi: Mani Dattsu Asva Dev, tegese Mustjikane Dewi-bajag Dhuyung-jaran.
Wong-wong tanah Jawa wiwit jaman Kuna-makuna mula sing mung kulina mangan sega-jagung, sega-canthel, lan rupa-rupa palapendhem, sawise ngenal Pari lan mangan Sega-beras olehe narik upeti saka wong dagang negara Siyem lan Cempa lembah Bengawan Mekong, sang Dewi Sibah nuli mrentahake lan nyontoni wong-wong wadon Pucangsula diajak wiwit nandur pari lan adang sega-beras (wiwit taun Masehi 396), wiwi jaman kuwi wong-wong Jawa padha nganggep Dewi Sibah kuwi titise Widadari-pangan utawa Dewine Pari, iya Mbok Dewi Sri (Wong Sunda ngarani: Sang Hyang Seri). Uga ing sajrone taun 396 kuwi, ing sawijining dina kapale Dattsu Dewi Sibah dhog mangkal ning gisike Nusa Jawa-Dwipa bontos kulon wates gisike Negara liya bontos wetan, dumadakan ana wong bagus isih enom menganggo ciri Rsi marani kapale sang Dewi; wong kuwi nuli ditakoni Nayaka kapal Kaputren:
“Ana wigati apa? Asmane sapa? Saka ngendi pinangkane?”
Jawabe Rsi bagus:
“Perlu arep nunut ning Nusa Jawa-Dwipa, nedya mulang nyebar Agama Hindhu Shiwa. Asma: Rsi Agastya Kumbayani. Asal saka negara Menak, krajan Idriya-Satwamayu.”
Sang Rsi ditampa diwenehi panggonan ning senthong-tamu Kapal Kaputren; sawise kapal-kapale Dattsu Dewi Sibah mancal bali ning Nusa Jawa, Rsi Agastya nuli didadar Kawegigan sakehing ilmu dening Sang Dewi; sajroning telung dina bisa lulus. Nuli ganti didadar Kasektene lan Kaprawirane perang, jebule Sri Dattsu sing mandar kasoran nganti lemes daya kakuwatane; saking ngrasa wirang Dewi Sibah munthab bramantya mawinga-winga, nuli ngunus Curiga-racun kang bisa nggawe pati kanggo mungkasi pendadaran.
Sapandurat Dattsu-ayu nyawang praupan baguse sang Rsi netrane sing mulem-tajem, polatane tetep sumeh jatmika ora nggragap ora miris nyawang landhepe curiga; uga ora males bramantya sumringah ngangah-angah, mandar sorote netrane kang aliyep-asmara nrawung nembus jantunge Sang dewi; ndadekake panone Sang Dewi sumrepet peteng kantaka, raga lemes niba ning jrambah palagan; curiga gogrog uwal saka astane. Sang Rsi trengginas nyaut Sang dewi dibopong disarekake ning tilamrum; bareng Sri Dattsu punggun-punggun wungu marlupa, Sang Rsi nglelipur ngrerapu sarta nyepat-domba nagih janji sayembarane, nanging dileksanani yen wis tutug dalem kedhaton Pucangsula disekseni Rama-Ibu sarta para kadang kadeyan kawula-dasih.
Para Kenya Nayaka kapal kaputren padha rerasan ngungun banget, adat saben lagi telung dina wae wong Bagus-tawanan wis mesthi diwetokake dipasrahake ning Nayaka Putri; nanging wektu kuwi nganti pitung-dina pitung-bengi tawanan Rsi Bagus kuwi kok ora diwetok-wetokake; weruh-weruh jebul kapale wis padha labuh ning Pucangsula, Sang Dewi Dattsu wis runtung-runtung sekalihan karo Rsi Agastya tumuju ning Kedhaton dipethuk Rama Ibune. Dhatu Hang Sambadra sakulawargane padha mengayu-bagya karenan ing galih, dene Sang Putri wis entuk calok jatukrama isih enom bagus rupane tur sembada sakabehane. Pahargyan palakraman let telung dina nuli dikepyakake. Sang Rsi cumondhok kumpul Maratuwa nganti rong taun, mandar Dewi Sibah lagi karo-tengah pendhak wis ngemban mutra kakung, diparingi asma: Arya Asvendra. Rsi Agastya nggone arep mulangake Agama Hindhu Shiwa Maha-Dewa nedya diterusake dhasar Maratuwane maringi panggonan ning bumi Rabwan tutug Batur. Nanging sawise klebon ilmu Kapramanan Jawa-Hwuning saka Maratuwa lan saka Garwane, pikire arep mulangake Agama Hidhu Shiwa Maha-Dewa malih luntur; nedya diganti mulangake Agama Hindhu Shiwa Guru-Dewa, mikani Dhiri-pribadi lan jantraning dumadi; sarta pangastuti bekti ning Sembok-Semak.
Ing taun: 412 Masehi ana Klana Sramana Agama Buddha asama: Pha Hie Yen lelayar saka Nalandha India, nedya bali mulih ning Tsang-An (Tiongkok); dumadakan lagi tutug Samodra Jawa-Dwipa ana angin topan gedhe, praune nuli mangkal ning plabuhan Pucangsula nyuwun tulung lereb ning kono sasuwene angin prahara durung sirep; Sramana Hwesio Pha Hie Yen ditampa disesuba dening Dhatu Hang Sambadra, saben dina diajak wawan-sabda bab rupa-rupa pengalamane Sang Hwesio nggone lelana ning manca-negara. Hwesio Pha Hie yen nyritakake Piwulange Sang Guru Agung Sidharta Buddha Gotama, yakuwi: Sranane bisa manjing Nirwana supaya medhot blenggune kadonyan; kanthi liwat laku kang aran: Astha Arya Marga, tegese Laku Agung Wolu. Piwulang kuwi mirib Kapercayan-suci Jawa-Hwuning kang dirungkepi dening Pendhita-pendhita siswane Dhatu Hang Sambadra wong saka sengkaning-gunung, yakuwi: Sranane bisa nggayuh Katentreman supaya medhot Pangangsa-Pepenginan; kanthi liwat laku kang aran: Endriya pra Astha, tegese Tumemen ning Budipakarti Wolu. Mula Dhatu Hang Sambadra karo rayine Pandhita Jana-Bandra sayuk banget nggathukake intisarine piwulange Sang Buddha kuwi cawuh-luluh karo larase Kapramanan Jawa-Hwuning.
Ing taun Masehi: 415, Dhatu Hang Sambadra seleh kedhaton, pemrentahan Pucangsula dipasrahake Dewi Sibah diwisudha ditetepake dadi Dattsu-agung (=Prabu-putri). Rsi Agastya dadi Kepala banjar Rabwan lan banjar Batur tutug Pegunungan Dieng, kebawah negara Pucangsula, uga adhike Dewi Sibah asma: Dewi Sie Mah Ha (=Simah), kang dadi Adipati-anom Medhangkamulaan teluk Lusi (kabupaten Blora) diwisudha diangkat dadi Dattsu, dipindah ning banjae-gedhe Blengoh didadekake Keraton keling (Arane woh-bogor wadon sing wis tuwa-alot, yen isih enom diarani Siwalan). Saiki tilase dadi ara-ara Keratonan desa Blengoh, Kecamatan Keled, Kabupaten Jepara. Pangwasane Dattsu Simah diwarangkani kakunge aasma: hang Saburadhampuawang Segara Teluk Kendheng lan samodra Jawa. Sarta diemong diayomi Rama-paman Bhikku Buddha Kanung Janabadra ing Pasraman Tunahan. Nalika Dewi Sibah wis jumeneng dadi Dattsu Pucangsula, sang Dewi yasa Udhang-undhang tata Budibudaya Jawa Hwuning ditetepake dadi Pranatane negara Pucangsula; saben sesasi sepisan diwulangke ning para Pandhita sengkaning-gunung Kendheng Ngargapura, manggon ning Kedhaton Pucangsula. Undhang-undhang kuwi dijenengake: Endrya pra Astha, ngrungkepi piwulange Ramane nggone nggawe jeneng Ilmu kuwi (Undhang-undhang ditetepake ing taun Masehi: 416). Para Pandhita para Kasepuhan nerusake mulangake Ilmu-pranatan mau ning para Siswane, sumrambah wong-wong kang maju-pikirane ning desa sengkaning-gunung. Ing pemburi taun-taun sabanjure wong-wong kang padha ngrungkebi nyeceb Ilmu Endriya pra Astha kuwi kasebut aran Wong Kanung. Isine Undhang-undhang pranatan kuwi ana 8 (wolung) bab:

Unen-unen Pranatan yakuwi :

Tunemen nyambut gawe ngudi rejeki kanggo murakabi Brayate, lan ora srei drengki kemeren ning liyan.
Nyembah mundhi-bekti ning wong tuwane-sakloron; sambat nyebut: Adhuh Sembooooook, Gusti kula! (=Sembok kuwi wong sing bagus atine sa-ndonya), Adhuh Semaaaaaak, Pangeran kula! (=Semak/Bapak kuwi pangengerane wong sagotrah anak-bojone).
Ngleluri mundhi Pundhen Nyai-Dhanhyang Kaki-Dhanhyang sing cakalbakal desane. Sarta emoh nganggu Manuk-manuk sing padha manggon ning bregat Pundhen, utawa ning bregat-bregat liyane kana-kana.
Sayuk rukun karo tangga-teparo lan sadulure, bebarengan gotong-royong ing wulan Purnama Badrapada; bresih desa, ratan, sendhang, karas pekarangan; sarta memetri nguri Bregat (=September).
Mangastuti rembugan nggathukake pinemu, kanggo pituduh mbangun majune Desane, lan njaga kaamanane.
Nguri-uri ngluhurake Budipakarti Seni-Budaya Jawa.
Mikani ning Bumi dununge kabeh Titah kasinungan Sang Urip kang Maha Esa, mikani ning Langit dununge/ manunggale Urip Agung Sang Nyawa kang Maha Das. Wong mati ragane dadi Mayit lebur ing Bumi, Jiwane dadi Yitma nunggal ning Langit.
Setya pranatane Negara lan Sabda wasitane Sesepuh Agung Manggala Praja.

Eyang Dhatu Hang Sambadra sawise misudha Putra-putrine nuli nilar praja dadi Sramana dhedhepok ning punggur Gunung Tapa’an, lan mulangake Ilmu Tatapranatan Endrya pra Astha ning para Siswa Wong-wong Kanung. Pasraman Gunung Tapa’an kono digawekake Tamansari tinanduran kembang-kembang maneka-warna: Mlathi, Kanthil, Gadhing, Kenanga, Mawar, Pacar-kuku, Kemuning, Gambir. Neng kono akeh Bregat ngrembuyung edhum, padha dienggoni nusuh manuk-manuk rupa-rupa; pakange bregat kethukulan: Aggrek, simbar lan kece pating grembel. Tarulata padha mrambat pepuletan pating klewer, kembange selang-seling putih biru, jambon lan wungu. Taman-sari kuwi dijenengake: Taman Argasoka; para cantrik, cekel, manguyu padha surti gambyak ngrawati Taman-sari kuwi.

Eyang Panembahan Hang Sambadra dadi Sramana ning Gunung Tapa’an kono tutug sepuh, seda ing taun Masehi: 425. Awu layone dipetak (dikubur) dadi sakluwat karo Reliqe Eyang Dhanhyang Kie Seng Dhang ning satengahe punggur Pudhen Tapa’an; ditengeri Watu-alam tilas pamujane Nini Ampu, watu kuwi nongol sa-ndhuwure gumuk Pundhen. Sawise Eyang Panembahan seda, negara Pucangsula akeh owah-owahan wiwit ing taun Masehi: 426.
Dattsu-Agung Dewi Sibah ngangkat putra Arya Asvendra dadi Dhatu-anom Pucangsula, manggon ning bumi Gebang sunglon Bugel. Arya Asvendra ngrungkepi Agama Hindu Kanung Shiwa Guru Dewa wulangane Ramane, ning punthuk Gebang dheweke nggawe:

1.1. Pamujan, Lingga-Yoni nglambangke bakti-tresnane ning Sembok-Semake (Ibu-Ramane).
1.2. Pamujan Lembu-Nandhi ndepok, nglambangake Tatakan kekuwatane Kawula-rakyate.
1.3. Pamujan reca Dewa Shiwa Guru Dewa, nglambangake Ramane: Rsi Agastya kuwi Guru-Agung Ilmu Kaprajan lan Kasekten-mandraguna.
1.4. Pamujan reca Ganapati Dewane Kawicaksanan putrane Bathara Guru, nglambangake: Slirane dhewe kuwi putrane Guru Rsi Agastya.

Angkatan Laut Pucangsula dipindhah ning negara Keling dikwasakake Dewi Simah, dibantu garwa hang Sabura; nanging isih kebawah negara Pucangsula.
Rsi Agastya diwisudha diunggahake dadi Dhatu Batur, punjere banjar didadekake kutha aran: Batur-retna. Banjar Rabwan dadi Plabuhane negara Baturetna.
Let sawetara taun wong-wong Endrya-Satvamayu krungu warta yen Rsi Agastya jumeneng Dhatu ning negara Baturretna, wong-wong mau banjur akeh kang padha nusul pindhah bebadra ning bumi Dieng kang subur digawe ulah petanen. Wong-wong kang ora dadi tani, diprentahake nyambut gawe ngumpulake wlirang saka peperenge kawah Dieng; wlirange kanggo pedagangan negara Baturretna diganjolake barang-barang petukangan lan kain sutra karo Pedagang saka negara China, liwat plabuhan banjar Rabwan. Negara Baturretna bareng dadi gedhe lan makmur, Dhatu Rsi Agastya nuli mrentahake tukang-tukang ahli pahat batu wong-wong saka Endrya-Satvamayu, diutus nggawe Candhi sepirang-pirang; saben candhi mawa reca Shiwa Bathara Guru; dununge candhi ning bumi punggur Gunung Dieng. Saben candhi kanggo Pamujane Sramana Shiwa Guru saka Pasraman kana-kana wilayahe negara Baturretna. Kaendahan lan kaelokane Pasraman Dieng kang akeh banget candhine Shiwa Guru Dewa, kang kinilung tlaga lan gunung-gunung sesawangane ngresepake ati. Para Sramana menehi jeneng: Pasraman-agung Endrya pra-Astha.
4. Dattsu-agung Dewi Sibah nayogyani ning kaipe Hang Sabura nedya ngedhuk wlirang ning bumi leluwah sawetane Gunung Dieng, sarta nggawe desa ning saelore Kejajar kanggo panggonane wong-wong kang padha nyambut gawe ngedhuk wlirang mau. Wlirang kuwi uga diganjolake karo Pedagang saka negara China.
Pengangkutane wlirang digawekake dalan liwat: Jlumprit, Adireja, Candhirata, Sukareja, mengetan ning Singaraja nuli nganti diemot prau liwat bengawan Bodri. Sungabane bengawan-Bodri ning teluk Bodri segara Jawa digawe plabuhan dagang kang sesambungan dagang karo negara Sabrang kana-kana; papane Teluk Bodri kuwi diapit-apit Punthuk-punthuk gunung Singaraja, kaanane luwih sembada omber banget nyenengake tinimbang plabuhan banjar Rabwan. Mula pedagang wlirang kliwat plabuhan Bodri kuwi malih luwih reja lan maju.
Saka anane sesambungan dagang wlirang karo negara-negara China, negara loro: Keling lan Baturretna kuwi malih dadi sugih lan makmur. Nanging mbanjur nukulake kamurkan, sii lan sijine rebut nguwasani: “Kriwikan dadi Grojogan”. Wekasane dadi perang bandawala. Ing taun Masehi: 436. Sarehne Kawula-rakyat sing dijak bebadra biyen nganti dadi negara Keling lan Baturretna kuwi, asal-usule sedulur wong Kanung Indriya pra Astha Pucangsula, mula peperangan kuwi katelah aran: Perang sedulur Endriya pra Astha.
Ing sajrone perang brubuh Rsi Agastya gugur ning palagan, wong-wong Baturretna saprajurite padha giris buyar mlayu mulih asal-negarane ning Endriya Satvamayu. Kutha Baturretna lan Pasraman Candhi Dieng sarta penambangan wlirang dijegi prajurit Keling kang padha makuwon ning Adireja, pangwasane Dhatu Rsi Agastya dadi cures ganti dikwasani Hang Sabura panglima Angkatan laut keling. Arya Asvendra krungu yen ramane gugur sarta negarane dikwasani paman-Hang Sabura, sakala pikire kobar nedya ngrebut negarane swargi-Ramane kang dadi hak-warisane. Sedyane Arya Asvendra wis dipenggak Ibu Dattsu Pandhita Dewi Sibah, nanging meksa nglimpe Ibune; dheweke mbudalake prajurit Sandi liwat alas Rabwan lan Bawang nusup mengidul nedya ngrebut Pasraman-agung Dieng dhisik, lan panggonan-panggonan wlirang. Tiba apese Arya Asvendra, lagi bisa nrobos beteng-pungkuran Candhi dheweke wis kena tulup-paser mawa racun saka Prajurit-seluman Keling kang padha njaga Candhi. Wasana Arya Asvendra gugur ngrungkepi sangarepe Candhi Sumbadra pamujane Sramana saka Pucangsula, prajurite Arya Asvendra kang perang ning alas-gedhe Rabwan akeh kang padha gugur; mayite pating glethak saenggon-enggon ning alas kono ora ana sing ngrawat, yitmane klambrangan dadi memedi Setan-Roban.
Sebab saka anane perang sedulur kuwi, Dattsu–agung Dewi Sibah ngrasa angles ing panggalih; ewuh aya ing pambudi. Arep ngrewangi negara Baturretna ateges nataki garwa Rsi Agastya. Arep ngrewangi negara Keling ateges nataki sedulur-adhik Dattsu Dewi Simah. Mula puntoning panggalih mbanjur nilar praja lumengser mertapa ning Pasraman Taman Argasoka Gunung Tapa’an, pemrentahan Pucangsula dipasrahake Pepatih; kang didhawuhi ora kena nyampuri urusane Perang-sedulur. Dewi Sibah seda ing nalika taun Masehi: 445, awu-layon dikubur ning Pundhen Gunung Tapa’an.



V. Gunung-Gunung JAWA-PURWA padha njeblug

In tahun Masehi: 450, Gunung Dieng njeblug; Candhi Pasraman-agung Endriya pra Astha rusak korat-karit, para Sramana sing isih slamet padha ngungsi sumebar saparan-paran ngumpul ning pertapan-pertapane Wong agama Hindhu-Kanung, yakuwi wong Agama Hindhu kang muja nggawe pamujan Lingga-Yoni sarta Lembu Nandhi ning Pertapan-pertapan sakubenge Pegunungan Gemawang (Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung).
Ing taun Masehi: 470, Gunung Ungaran nusul njeblug kawahe sing sisih wetan jebrol nyisa dadi kawah-mati Rawa Pening. Bledegaba bulah-bulah gumulung gedhe blabar ngalor-ngetan mlebu segara Jawa, gumulunge alun nyempyok gompenge Pegunungan Kendheng-kidul, dadi pada longsor ngurug segara Teluk Lusi lan segara Jawa; wasana mbanjur dadi dharatan Kabupaten Purwadadi, Kabupaten semarang, Kabupaten Demak, Kecamatan gajah. Nyisa mberemane kali Tanggulangin sing banyune wutah ning sunglon Welahan (Biyen desa kuwi isih ngongkan segara Jawa). Banyu tuk saka sela-selane gompengane Kendheng-kidul kuwi padha nglumpuk dadi kali: Jlagung Tuntang, Serang, Lusi lan Bengawan Juwana/ Silugangga (=Jratun Seluna).
Kawahe Gunung Ungaran sing wis matigenine ngembos-embos njedhul ngalor mengetan ning satengah-tengahe dharatan tilase segara Teluk Lusi; geni mau rina-wengi murub gumrebet manther-anther ora ana pegote dadi Mrapen (Api-Abadi), ning desa Mintheng, Kecamatan Gubug, Kabupaten Purwadadi.
Manut dongeng Legenda: geni Mrapen kuwi tilas besalene Empu Ramadi Dewa tukang gawe keris; sawijining dina dheweke dijak ranjen para Dewa perlu ngethok puncake Gunung Maha Meru kang tansah dipeneki Kethek-kethek padha dolanan uthik-uthik lintang; Empu Ramadi ugik, merga lagi nggawe keris-pusaka Kahyangan Suralaya. Wasana dadi perangrame Dewa-dewa padha ngrubut Empu Ramadi sa-besalene diurug lemah kedhukane Gunung Maha Meru. Sarehne Empu Ramadi sekti tan kena ning pati, senajan wis diurugi lemah saka puncake gunung, ewosamana tetep isih urip sagenine besalen kang dadi geni Mrapen tutug wektu iki.
Bledegabane kawah Ungaran sing wis sirep ngembos-embos njebrot wujud endhut manget-manget ngemu uyah, bola bali mlembung sa-kebo mbanjur mbledhos kumeluk ngganda wlirang; rina-wengi nyuwara Bledhag-bledhug. Linede mblabar ngamblah-amblah nganti salapangan-alun-alun, banyune lined dialap wong-wong desa Kuwu, Kecamatan Kuwu/Wirasari, Kabupaten Purwadadi/Grobogan; digodhog digawe uyah diarani uyah bledhug Kuwu.
Ing taun Masehi: 471, Gunung Maura (Murya) uga njeblug pegunungane sing sisih kidul-wetan pedhot misah dadi Gunung Pati Ayam. Lambene kawah sing jebrol blegedabane mblabar mengidul ngurug Segara supitan Maura, mbajur malih dadi dharatan Kudus, Pati, Juana; nyisa wujud rawa-rawa gedhe wilayah Undhak’an lan bengawan Silugangga.
Blagedeba sing mbludag mengetan nukulake alun omak gedhe nglanjak nyempyok gompenge Pegunungan Ngargapura tumlaweng mengulon tutug Kayen; gumulung baline ombak-gedhe nyered perenge gunung-gunung gompenge padha longsor ngurug segara Teluk-Kendheng, wasana malih dadi tanah ngare: Kayen, Jakenan, kaliori, Rembang, Sulang, lasem lan pamotan. Longsoran perenge Gunung Ngargapura sing sisih kulon ngesuk bumi Argasoka, lemahe malik numpleg ngurug desa-desa tegal pesawahan Pucangsula padha kependhem. (Saiki malih dadi desa: Ngendhen, Lagadhing, Sendangsari, Topar, Klindon, Warugunung). Kraton Pucangsula Endriya pra Astha kesered gumulung baline alun, sakehing wewangunan, omah, candhi, kedhaton, lan liya-liyane keblebeg ambles satengahe Ceruk segara Teluk Juwana; wasana padha sirna ludhes kakubur ning dhasare segara. Mung nyisa pundhen Tapa’an kubur awu layone Kakek-moyang panembahan Kanung, leluhure wong-wong Ngargapura Lasem; lan guwa-guwa tilas pertapaan, sarta sawetara reca Lembu nandhi, Ganapati, Lingga; uga grewalan-pecahan Altar-pamujan sisa tilas gempurane VOC kerja-paksa nggawe ratan-gedhe Daendelsstraat nalika tahun Masehi: 1809-1810.
Sabanjure bumi Argasoka dadi pusa ora ana sing ngenggoni, wekasane dadi grumbul bebondhotan rungkud sirung; kawuwuhan disirik wong dikhandhakake jare: Kuwi lemah singit-sangar panggonane Setan Brahala Dhemit. Wong-wong Kanung sing manggon Ceriwik lan pegunungan Sindawaya isih padha slamet, sing giris padha ngungsi ning perenge Gunung Buthak Pamotan sapengulon tutug wetan Todhanan; wong-wong mau ning bumi kono malih ganti aran Wong Kanor. Sing manggon Todhanan sapengulon tutug Sukolilo, Kabupaten Pati sarta pulo-pulo Rawa desa Kuthuk, Galiran, Kaliyasa, Ngelo, Karangrawa; malih ganti aran Wong Sikeb (=wong Samin). Wong-wong suku Kanung, Kanor, Sikeb mau sanajan wis ngalih ning kana-kana lan ganti arane Suku, nanging Adat-tatacara Budipakarti Kanung isih tetep dirungkepi naluri leluhur Pucangsula Endriya pra Astha. Yen didhawuhi Pamrentah-Negara mlebu Agama apa wae iya ora suwala mung manut kersane sing mrentah. Nanging tumindake ya mung angger: Rubuh-gedhang, obor-blarak = ora tulus suwe mlebu ning nalare.
Sawise 149 taun saka penjebluge Gunung Murya, owahe segara Teluk Serang lan Selat Maura kang malih dadi dharatan, isih nyisa segara Selat Welahan lan Rawa-gedhe Bengawan Silugangga, sarta Teluk Juwana; ngilung Gunung Maura. Bumi dharatan anyar perenge Gunung Murya sing sisih kidul mau, luwih saka satus taun wis dadi alas pejaten kang ngongkang Rawa-gedhe selat Murya. Ing taun Masehi: 620, bumi kono kuwi wis dienggoni wong bebadra saka negara Keling Dattsu Dewi Simah, wong Pegunungan Ngargapura, lan wong Pegunungan Sukalila. Ana kanoman gegedhug A.L. Keling kang isih Trah-darah turun kaping enem saka Hang Sabura/ Dewi Simah, asmane: Hang Anggana; dheweke ngajak wong-wong Pelaut negara Keling lan Petani pokol sing bebadra mau, dijak mbubak alas pejaten nggawe desa lan plabuhan sing gisike nggenggeng karangkitri rupa-rupa, bareng wis dadi desa karan: Getas-Pejaten, plabuhane karan: Tanjungkarang.


VI. Kawitane dumadine negara KUDUS


Ing taun Masehi: 645, sebab saka wuwuh rejane banjar Getaspejaten, Dhatu Hang Anggana nuli ngelar panggonan kuwi mekar mengalor sarta yasa punjere kutha nganggo asmane dhewekke katelah aran Rananggana (Rana + Anggana = Hang Anggana bandhol paprangan). Saiki aran kutha: Kudus. Wektu kuwi wis akeh wong saka India kidul negara Chola sing padha dagang-ganjol ning pasar Tanjungkarang, wong negara Chola mau ngijolake: Babut-prangwedani gambar Pura/Candhi Hindhu, lan minyak-wangi Yasmin/ Tagara, sarta pratus wangi; negara Rananggana ngijoli kayu-jati glondhong, kapuk randhu lan lenga klenthik-klapa. Wong negara Chola kuwi agamane Hindhu Shiwa Maha Dewa, jare Agama kuwi Agung luwih bener lan luwih suci tinimbang Tata Budibudaya suci Jawa-Hwuning.
Sabab saka sambung rapete Penggedhe Rananggana karo Juragan-juragan negara Chola, wasana Penggedhe-penggedhe lan wong dhuwuran. Rananggana kuwi wiwit padha kapilut niru Kabudayane wong Chola mau; mlebune Kabudayan Chola ning negara Rananggana ndeseg Tata Budibudaya suci Jawa-Hwuning sing dianggep remeh lan asor. Sarehne kalah birawa kalah gebyar, Penggedhe-penggedhe lan wong Enom-kutha sing umur 18 taun sapengisor padha berag padha ngrasa gagah nggunakake Budayane wong sabrang Ngatas-Angin; luwih-luwih para Wanitane padha anut-ngrubyug: “Kaya Belo melu seton. Kaya bebek nyemplung kedhokan.” Nanging kawula rakyat Cilik ning Karangpadesan, pegunungan lan bumi Rawa, ora mreduli ora nggubris anjrahe Kabudayan manca ngono mau. Wong-wong mau mung botha-bathu mledreng nyambut gawe butuh rejeki kanggo nyampeti krandhah anak-bojone. Dhatu Hang Anggana sarehne wong wegig lan wicaksana, mula uga ngguyubi melu mlebu Agama-Hindhu nanging dudu Hindhu Shiwa, dheweke ngarang Agama Hindhu-Kanung. Sabab ngrumangsani nggone dadi Dhatu-Agung ning negara Rananggana kuwi saka dhukungane kekwatane wong-wong Kanung kang uga isih Wangsane dhewe. Mula wujude Pamujan utawa Pura-purane negara Rananggana kuwi ora niru cakrik Hindhu Chola utawa Hindhu Dieng, dheweke nggawe Pamujan Lembu-Nandhi ndepok ning Altar nglambangake Kekwatane Rakyate, sarta Lingga-Yoni wujud Lumpang-Alu gedhe banget, nglambangake: Hang Anggana Dhatu Agung kang mundhi-bekti Sembok/Semake sarta Dhanhyang Leluhure. (Dununge Sanggar-pamujan kuwi saiki dadi desa Demangan, kakilung gendhong-gendhong Pabrik Rokok).
Saterue nuli nggawe Pamujan Merudhandha-Agung (Saiki isih wujud Menara Kudus cedhak mesjid Kudus-kulon). Merudhandha kuwi nglambangake ke-Agungane negara Rananggana; puncak tengahe Merudhandha didokoki Oncor-prunggu ana pahatane gambar Manyura ngingel, oncore tumumpang ajug-ajug (=Tajug) emas, rina wengi tansah murub nganggo lenga klentik-klapa; dijaga/dirawat Pendhita Hindhu Kanung wong 4 padha ganti saben 4 jam. Oncor kuwi nglambangake Kaluhurane lan Kawicaksanane Hang Anggana; pisungsung saudagar China krajan Tsang Tai Tsung. Ring gisik tepine bengawan Silugangga (Juwana) para Pambelah/Pelayar/Pelaut digawekake candhi pamujane Dewi Hwa Ruh Na recane wujud Dewi Ratune Samodra njoget tetayungan. Saiki tilase candhi-candhi mau wis kari wujud Pura padhang gogrog ning desa: Jatiwetan, Loramkulon, Njepang lan Temulus. Sarehne Rakyat Rananggana kuwi agamane Hindhu Kanung pamuja Lembu nandhi, mula wong-wong mau padha sirik banget mbeleh sapi lan gemang mangan daginge; nganti jaman pangwasane Shunan Tajug-Islam tutug jaman saiki isih dadi Adat-kapercayan, tembunge: “Juuuug… juug, mangan daging sapi kuwi ora ilok Naang/Noook!!!”. Hang Anggana seda in taun Masehi: 660, awu layone dilarung dikelemake ning sumuran sangisor-dhasare Merudandha; ning wektu sabanjure banyu sumur kuwi kanggo mbabtis wong kang arep dadi Pandhita kanung. Rembesane banyu sumur kuwi njedhul tutug gompinge Kali Gelis; gomping kuwi ditembok dhuwur dhasare digawekake jedhingan, banyune kanggo: Siraman ngruwat-sangkalane Bocah kang wiwit demolan dibarengi Kethok-kuncung.

VII. Adege negara MEDHANG-Metaram I



In taun Masehi: 725, ana wong Kanung wegig saka Medhang-Kamulaan (Teluk Lusi Blora) kang isih klebu trah-tedhake Dattsu Dewi Simah, asmane Hang Sanjaya. Dheweke ngajak wong-wong Medhang Kamulaan, wong-wong Keling lan wong-wong Rananggana, diajak bebadra nggalang Banjar papane ning bumi sawetane Gunung Dieng, punjere Banjar dumunung ning Adireja sawetane Gunung Buthak (Kabupaten Temanggung). Wong-wong mau ngumpul ning wong-wong Kanung sisane panjebluge Gunung Dieng sing manggon desa-desa: Gemawang, Kemiri, Limbangan, Boja,; wong-wong mau Agamane Hindhu-Kanung pemuja Lembu-Nandhi lan Lingga-Yoni. Hang Sanjaya nggone nggalang banjar lan punjere kutha dumunung ning Adireja kuwi perlune:
Nedya nguripake penambangan wlirang sing wis pusa kanggo pedagangan maneh karo negara China.
Supaya bisa cedhak nggone ngirup Desa-desa sing biyene dadi Krerehane Leluhur Endriya pra Astha.
Sesambungan dagang karo negara Sabrang nggunakake plabuhan Teluk-Bodri sing ngongkang segara Jawa, nuli munggah pagenengan Singaraja, Sukareja, lan Candhirata mbanjur tutug Adireja. Hang Sanjaya menehi jeneng negarane mau aran: Medhang-Metriyem (Tegese: Babone saka Medhang), lawas-lawas tembung kuwi malih luntur dadi: Medhang-Metaram.

Wong Medhang-Metaram kuwi agamane rupa-rupa:

Hang Sanjaya dhewe agamane Buddha-Kanung naluri saka Leluhur Keling Bhikku Janabadra.
Wong-wong pinter mentereng-kutha agamane Hindhu-Chola.
Wong kolod pemuja Lingga-Yoni pemundhi Sembok/Semak isih agama Hindhu-Kanung.
Wong Cilik Sudra-papa urip rekasa rejekine ora mingsra, ora butuh ning Agama ora mikir swarga-neraka. Butuhe mung ngupaboga nggo nyampeti kaluwarga.
Wong Medhang-Metaram kuwi sanajan Kapercayan lan Agamane rupa-rupa, nanging padha bisa rukun gotong-royong setya ning Negara/Praja. Nalika netepake adege negara Medhang-Metaram lan Undhang-undhang pranatane Praja, swarane sing menang: Wong sing ngagungake Sastra Palawa lan Taun Syaka.
Swarane wong sing ngugemi sastra lan titi taun jawa Hwuning dadi kalah, dianggep Kolod wis ora njamani (Sanepane dianggep kaya Baya-putih sing wis tuwek-loyo). Wusanane sastra Jawa-Purwa karangane Dattsu Agung Pucangsula Dewi Sibah, lan taun Jawa-Hwuning karangane Dhanhyang Kie Seng Dhang malih ora dikanggokake dadi kabur ilang. Negara Medhang-Metaram ngganti resmi ngunakake sastra Palawa lan taun Syaka nalika taun 654 (=Tahun Masehi: 732).
Tan Syaka kuwi taun Pengetan nalika jumenenge Raja Khaniska I wangsa Kushana, diwisuda dadi Narendra negara Chola India Kidul. Dadi dudu asli taune wong Jawa-Purwa.
Dongeng Crita-Legendha :

Pujangga Jawa nggawe crita Aji Saka (=Kabudayan Saka) ngalahake Baya-Putih (=Kabudayan Suci Jawa-Hwuning). Matine sampyuh perang abdi-loro Dora Sambada rebutan kerise Bendarane dikarang digawe Crita dumadine Sastra Jawa-Legena (Jawa-anyar):


HA NA CA RA KA
DA TA SA WA LA
PA DHA JA YA NYA
MA GA BA THA NGA


VII. Dumadine negara LASEM


Sawise panjebluge Gunung Murya (Taun Masehi: 471), segara Teluk Kendheng kang keblabaran blegedebane Gunung Murya lan klongsoran lemah gompinge Pegunungan Kendheng-gamping mau, ing taun Masehi: 850, wis malih dadi dharatan: Pamotan, Sulang, lasem, Rembang lan Juwana; wujude bumi isih katon banthak ngilak-ilak cengkar, ning kana kene mung ana grumbul rerungkudan sarta wit Bogor (=Tal) kang nggrembel gegrombolan. Mung sing cendhak perenge gunung, sing isih akeh wit-witane subur ledhung-ledhung. Ing nalika jaman kuwi wis ana wong Kanung saka desa Criwik lan Sindawaya padha mudhun bebadra mbubak bumi nyithak tegal sawah karasan pekarangan ning bumi pagenengan sakulone Gunung Bugel, dipangarsani wong aran: Ki Wekel. Wong-wong mau padha dadi Tani-pokol nandur jagung-kodhok, kacang-tholo, lan tela elung; desa bubakan-mau katelah aran desa: Tegalamba lan Karas (Karasmula, Karasgedhe, Karaskepoh). Wong-wong liyane sing uga lunga bebadra nanging gemang bubak adoh-adoh, mung terima padha bubak ning perenge Gunung Bugel lan Gunung Gebang sarta lembah sakulone nggunung sing lemahe padha nyumber banyune ngembong dadi rawa, akeh iwake kutuk lan iwak sili gedhe-gedhe; bumi kono sing didadekake desa karan desa Sumbersili (=saiki desa: Sumbergirang, dipangarsani adhike Ki Wekel asmane: Ki Welug, wong pinter sing akeh akale. Wong Sumbersili kuwi panggaotane mung Tani-ngothek undhuh-undhuh woh-wohan kebon-alas utawa memet iwak rawa; wong-wong mau nduweni kapercayaan: Titah kuwi wis duwe jadhangan pangan nalika Tumitah-Urip; sing nandur jambu-klethuk kuwi Semut-getem nggondhol wiji jambu kletuk didokok elenge ngisor watu. Codhot, kalong, lawa nggondol woh-wohan pelok beton lan kebroke padha rugol thukul saenggon-enggon.


Hong Wahong Rahayon Ing Kayon _/\_ Djati
Ra Hayu ..Ra Hayu ..Ra Hayu