Monday, December 5, 2011

MITOS SUMERIA

oleh Mudarras Kadhir Gaznavi
Terjemahan : Badra Naya



PRAKATA DARI PENERJEMAH

Pada umumnya umat awam dari setiap agama mempercayai bahwa kisah-kisah dalam kitab “suci”nya sebagai kejadian sesungguh-sungguhnya, faktual dan menyejarah. Mereka dengan naif mempercayai bahwa sang tuhan/sesembahan yang mereka percayai mengarahkan alur sejarah untuk suatu saat memuncak pada suatu pewahyuan tertentu lewat nabi, kitab dan suku bangsa tertentu dan setelah itu manusia-manusia yang hidup setelah jaman sang nabi hanya mengias-ngias di sekitar wahyu itu dengan menggunakan tafsir yang tidak kontekstual dan tidak menjawab permasalah dunia yang semakin rumit dan beragam.

Bagi kita yang hidup dalam abad ketercerahan seharusnya memahami bahwa tidak ada sesuatu yang datang dari ruang hampa. Apalagi itu adalah kisah-kisah agama. Agama-agama yang ada sekarang adalah turunan dan pewajahan lain dari mitologi, worldview, budaya dan agama-agama sebelumnya. Mitos-mitos agama & budaya lalu dengan sadar atau tidak diserap oleh agama yang baru, dipoles dan diakui sebagai miliknya yang sah dan orsinil. Kisah-kisah dalam Kitab Kejadian di Perjanjian Lama misalnya, sepert kisah penciptaan, Air Bah, dan Abraham/Ibrahim, diambil dari mitos-mitos Sumeria, Mesopotamia dan Mesir, diberi pemahaman yang baru oleh bangsa Israel, disetting dalam budaya Ibrani dan dianggap sebagai wahyu ilahi yang dijamin mutlak benar oleh agama Yudaisme. Ketika kekristenan muncul, mereka menerima itu tanpa kritik. Bahkan ketika Islam muncul, mereka menyerap kisah-kisah itu secara dangkal dan mengakuinya sebagai kejadian sebenar-benarnya. bedanya sekarang tuhan bagi bangsa Ibrani ,Yahwe, diganti namanya menjadi Awloh. Tidak ada yang keliru dalam budaya contek-mencontek pada jaman itu. Yang keliru, naif dan sudah seharusnya dibuang dari pikiran manusia modern adalah tidak mengakui plagiarisme itu terjadi, malahan mengaku-aku mitos versi mereka sebagai kejadian sejarah sebenar-benarnya, memuat kebenaran mutlak yang tidak boleh dikritik dan dianalisa dan disangkal, serta memberangus semua pendekatan kritis historis atas kisah-kisah tersebut.

Dalam tulisan-tulisan yang akan datang kita akan menjelajah mitologi Sumeria, Mesopotamia dan Mesir, dan segera mengetahui bahwa kisah-kisah kebanggan 3 agama Abrahamik ini tidaklah asli milik mereka, namun ada serapan, duplikasi, baik tema maupun frasa-frasa kuncinya dalam beberapa kisah, sehingga alangkah “jauh panggang dari api” jika umatnya masih ngotot bahwa kisah mereka paling benar, menyejarah, faktual, dan orsinil. Untuk itu mari kita memulai penelusuran kita lewat Mitologi Sumeria.





KAPAN SEJARAH DIMULAI ?

Anda pasti pernah mendengar pernyataan : "sejarah telah dimulai di Sumeria." Bukti yang kita miliki saat ini memang menunjukkan bahwa memang sejarah dimulai antara 4000-1000 SM. Jika sejarah dimulai ketika manusia mampu menulis, maka halaman pertama lembaran sejarahnya ditulis di Mesopotamia sekitar 6000 tahun yang lalu.! Bangsa Sumeria mulai menulis kisah dan kejadian di jaman mereka dalam bentuk piktogram pada tablet tanah liat, dan sekitar 3000 SM. bentuk tulisan kuno berbentuk baji (cuneiform) dan alfabet bersuku kata penuh muncul. Bangsa-bangsa di sekitarnya telah mengadopsi, mengubah dan menggunakan alfabet ini sesuai dengan kebutuhan mereka.


DIMANA DAN SIAPA BANGSA SUMERIA INI ?

Wilayah yang disebut Sumeria berada di Timur Tengah di antara dan di sepanjang sungai Efrat dan Tigris (Irak saat ini). Apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri?
• Mengapa dan bagaimana peradaban Sumeria muncul dari antah berantah ?
• Siapa orang-orang Sumeria?
• Di mana mereka sebelum menetapkan diri mereka sebagai 'pemrakarsa' sejarah?
• Apakah mereka bermigrasi? Jika demikian, dari mana?
• Dan apa yang membuat mereka tiba-tiba 'bersinar' seperti bola lampu dalam sejarah panjang umat manusia dan peradaban?

Menurut cerita pada tablet tanah liat dari Lu-dingir-ra Sumeria (bisa diterjemahkan sebagai "manusia Allah") yang hidup 4000 tahun yang lalu, ini adalah jawaban dari 'mana mereka datang.

"Kami bermigrasi ke tempat kami hidup sekarang ribuan tahun yang lalu, tetapi mereka tidak mampu menuliskan dari mana mereka berasa karena mereka tidak tahu bagaimana menulis saat itu. Kemudian para ahli agama yang penasaran dan juru tulis istana kerajaan mempelajari informasi secara lisan dalam upaya untuk mencari tahu tentang masa lalu. Nenek moyang kami datang ke negeri ini dari wilayah di pegunungan timur laut. Tetapi juga mengatakan bahwa beberapa dari mereka telah datang melalui laut dari negeri yang disebut Dilmun di timur. Dan alasan di balik ini migrasi ini dikatakan berawal dari kekeringan tak terjelaskan di tempat asal mereka yang hangat dan berhujan

Enlil Yang Agung telah mengijinkan kami, 'kaum berkepala gelap', menetap di sini. ... Menurut rumor dan hasil penelitian saya tentang mengapa kita menyebut diri kita sendiri ”kaum berkepala gelap”, saya temukan bahwa sebelum nenek moyang kita bermigrasi ke sini, , orang dengan rambut pirang dan mata biru tinggal di samping wilayah nenek moyang kita. Mereka para nenek moyang kita) mungkin telah mengadopsi nama tersebut untuk memisahkan diri dari tetangga mereka.. Aku tidak dapat membayangkan orang dengan rambut pirang dan mata biru Dan aku tidak berpikir itu akan menyenangkan. Aku belum pernah melihat ada orang seperti itu di negaraku."


Inilah apa yang Lu-dingir-ra tuliskan pada tablet tanah liat. Daerah dimana Sumeria didirikan sebenarnya adalah sebuah tempat persimpangan masyarakat, budaya, dan rute perdagangan. Sumeria benar-benar berada tepat di tengah-tengah 'dunia kuno'. Sehingga tidaklah mengherankan ada semua jenis pengaruh yang melewati wilayah sebelum dan di jaman bangsa Sumeria hidup. Dalam rangka untuk mengetahui pengaruh-pengaruh dan fertilisasi silang yang telah mereka telah bawa, kita harus melihat ke dalam wilayah ini lebih dalam.

Pusat-pusat budaya tinggi dunia saat itu berkembang 5000 tahun lalu di sepanjang sungai-sugai besar: budaya Mesir di Sungai Nil, Babilonia di Tanah Dua Sungai, dan peradaban Indus. Peradaban Indus hampir dua kali ukuran Kerajaan Mesir dan empat kali ukuran Kekaisaran Sumeria-Akkad. Sumeria berada di antara dua pusat peradaban besar zaman itu. S. Radhakrishnan bahkan sampai pada kesimpulan bahwa kebudayaan Indus dikaitkan dengan Sumeria, yang telah mengubah dirinya menjadi budaya Babylonia, sehingga nantinya warisan tradisi ini diterima oleh Eropa.





Beberapa segel berasal dari lembah Indus (beberapa dari mereka tertanggal setidaknya tahun 2000 SM) ditemukan selama penggalian di kota-kota Babel kuno. Di Ur mereka menemukan segel berasal dari jaman pra-Sargonid (2500 SM) yang merupakan imitasi lokal segel India. Beberapa ahli berpikir bahwa elemen dasar dari astrologi Babilonia mungkin berasal dari budaya Harappa. Sejumlah besar segel Indus ditemukan sepanjang Sungai Efrat. Bangsa Elam adalah link penting antara Mesopotamia dan peradaban Indus. Mereka tinggal di sebelah utara di pertemuan sungai Eufrat dan Tigris, di wilayah yang dibagi antara Iran dan Irak hari ini.

Penemuan arkeologi sekarang menunjukkan bahwa budaya Elam awal berkembang di milenium keempat Sebelum Masehi, berarti sekitar 200-400 tahun sebelum kebudayaan tertua di pusat-pusat Lembah Indus pusat - budaya Amri - hanya 600 mil jauhnya dari peradaban tinggi Harappa nantinya.

Semua temuan ini bisa dijadikan bukti kontak penting antara India dan budaya tinggi ke barat (tak terkira jauhnya bagi mereka di jaman itu) lebih dari 4000 tahun yang lalu. Dewa bangsa Celtic, Cernunnos, duduk dalam posisi Sang Buddha sesuai dengan segel Harappa dari lembah Indus. Sejumlah analogi dan korespondensi antara agama Celtic dan Celto-Iberia dengan India dapat ditemukan dalam gagasan reinkarnasi, diet vegetarian, kultus pohon dan Swastika - sebuah simbol yang masih ditemukan sampai hari ini di tulisan- pintu dari rumah-rumah pertanian di Basque. Sebuah kepala Buddha dari periode yang sama bahkan telah ditemukan di sebuah ruang pemakaman Celto-Iberia di selatan Perancis. Spekulasi yang didapat adalah bahwa pada tahap awal dari budaya Amri (4 milenium SM), suatu kelompok pesatuan suku-suku, yang darinya bangsa Sumeria berasal telah menyebar di sebagian besar Asia Minor.

Kita tahu bahwa suku Arya yang menginvasi lembah Indus awalnya tinggal di Anatolia dan Iran utara. Dokumen-dokumen kontrak dengan aksara runcing yang berkaitan dengan raja-raja orang Het dari Mitanni ditemukan di Bogazkoy di Anatolia (tertanggal sekitar 1400 SM) berdiri sebagai saksi atas pertukaran pengaruh budaya dalam beberapa abad. Dokumen-dokumen tersebut berisi doa kepada dewa Mi-it-ra, Ur-w-na, Indar, Na-sa-at-ti-ia. Ini adalah dewa-dewa yang dipuja di India kuno dengan nama yang sama: Mitra, Baruna, Indra, Nasatyas. Bangsa Persia Kuno menyebut diri mereka 'Arya' dan bahasa mereka berbeda sedikit dari bahasa Sansekerta. Avesta, kitab suci Iran kuno sebagian hampir identik dengan Rig-Veda, teks tertua India.

Kita bisa temukan kisah tentang Raja-Dewa India, Rama, dalam Avesta serta ramuan ilahi 'soma' ('haoma dalam bahasa Iran kuno), dan sungai suci Saraswati (Haraquati di Iran kuno). Dr B.G. Siddhart dari Hyderabad memberi tanggal penulisan Avesta dan Ramayana secara meyakinkan dari tahun 7000 SM Itu belum semua! Dalam pendapatnya, Rig-Veda itu berasal di Asia Kecil (Anatolia), 1000 tahun lebih awal dari dua buku tersebut. Sebuah tim peneliti dari Universitas Heidelberg di Jerman telah menemukan sisa-sisa budaya kota yang sangat maju yang berasal dari milenium 7 SM di Nevali Cori (Nevali Ceri) di Anatolia. Patung-patung di sana termasuk patung ukuran seorang pria dewasa menampilkan semua karakteristik dari seorang imam dari jaman Rig-Veda.

Peradaban datang dan pergi di wilayah ini sejak Zaman Batu sampai ke zaman keemasan kebudayaan Yunani-Romawi. Perdamaian dan kemakmuran pastilah menjadi tonggak peradaban pada tahun-tahun tersebut di sepanjang Sungai Nil, Tigris dan Efrat karena tidak ditemukan petunjuk yang mengarah pada sebuah kegiatan peperangan dengan skala besar di wilayah ini, yang telah menjadi sabit subur dan pusat banyak peradaban . Ini adalah wilayah berbentuk semi -lingkaran berbatasan dengan gurun Arab di sebelah selatan, Yerushalim, Tirus, Sidon, Damaskus (Dimişk-eS SAM) di sebelah barat, Haran dan Niniwe di sebelah utara, dan Ashur (Asur), Babel, Ur di sebelah timur. Namun suatu hari, "tiba-tiba ', gerombolan suku-suku nomaden Semitik dari jantung gurun Arab menyerang dengan brutal di utara dan barat laut, di Mesopotamia, Suriah, dan Palestina. Suku-suku pengembara yang menyerang ini disebut orang Amori, menyerang wilayah bulan sabit subur. Mereka telah mengadopsi budaya Sumeria dan aksara runcing tetapi tidak mengadopsi bahasa Sumeria. Bahasa mereka dikenal sebagai Akkadia, salah satu bahasa dari keluarga Semit. Pada akhirnya, Kekaisaran Sumeria dan Akkad runtuh pada tahun 1960 SM. Orang Amori mendirikan sejumlah negara dan dinasti. Salah satu dari mereka akhirnya menjadi tertinggi: Dinasti pertama dari Babel, pusat besar kekuasaan antara 1830-1530 SM. Rajanya yang keenam adalah Hammurabi terkenal sebagai pemberi hukum. Lalu datanglah Kekaisaran Asyur. Itulah sebabnya mitos Mesopotamia datang kepada kita lewat bangsa-bangsa Sumeria, Babilonia dan Asyur.
Ini adalah ringkasan yang sangat sangat singkat tentang Sumeria, posisi geografis mereka yang sangat penting, wilayah mereka di persimpangan budaya, dan bagaimana semuanya berakhir dengan serangan Amori. Kita semua tahu bahwa bangsa Sumeria telah menemukan banyak hal yang menjadi 'pengalaman pertama' dalam sejarah umat manusia. Namun di sini kita hanya tertarik dengan satu hal saja dari produk temuan mereka, yakni : sistem keyakinan / keagamaan yang nantinya menghantui umat manusia ribuan tahun sesudahnya.

Umat manusia telah berangkat dari banyak penemuan bangsa ini dan juga telah membuat banyak perbaikan yang luar biasa pada penemuan itu. Dan ini merupakan hal yang wajar jika kita berpikir adanya rentang ribuan tahun yang memisahkan kita dari mereka. Tapi meskipun semua perkembangan dalam bidang intelektual, teknologi, dan psikologi yang ditemukan oleh bangsa Sumeria, adalah penemuan - sistem kepercayaan – yang masih membingungkan pikiran berpendidikan dan tidak berpendidikan dan membawa mereka dengan yakin akan konsep ketundukan 'umat manusia,' dan 'oknum pencipta tertinggi ' dengan semua 'aksesori pengiringnya'.

Sekarang kita sampai pada pertanyaan penting:
Apa yang bangsa Sumeria ciptakan yang telah begitu menawan bahkan membelenggu kesadaran manusia dan membuatnya menjadi 'hamba' dalam kerajaan dunia manusia itu sendiri ?
Dalam rangka memberikan jawaban atas pertanyaan ini kita harus melihat ke dalam panteon dewa/allah bangsa Sumeria dan kosmogoni (kisah tentang asal-usul dunia) mereka.


KOSMOGONI SUMERIA

• Bagaimana alam semesta menjadi ada?
• Bagaimana alam semesta terorganisir?
• Bagaimana alam semesta berfungsi?

Bangsa Sumeria telah lama berpikir tentang pertanyaan ini dan memperdebatkannya. Ada alasan yang sah untuk berpikir bahwa ada guru-guru agama dan para pemikir yang mengusulkan kosmologi yang cukup pintar dan meyakinkan, serta perspektif teologis agama untuk menemukan solusi atas teka-teki ini pada 3000 SM. Ide-ide ini kemudian menjadi populer di sebagian besar Timur Tengah. Namun harus kita sadari bahwa tak satupun dari para sarjana ini memiliki kapasitas untuk berpikir logis dan koheren tentang masalah ini. Bahkan para pemikir Sumeria percaya bahwa persepsi mereka tentang hal-hal yang berada di luar sengketa dan apa yang diketahui tentang fungsi penciptaan dan alam semesta adalah pasti. Tidak ada kontradiksi dan diskusi. Pemikir Sumeria sudah mulai dengan hal-hal yang mereka bisa amati di lingkungan mereka. Itulah mengapa alam semesta teramati bagi mereka dianggap sebagai belahan kubah dari yang langit dan bumi sebagai dasarnya. Nama yang mereka telah diberikan kepada pembentukan ini berlaku untuk seluruh alam semesta: An-Ki (Langit -Bumi). Bumi bagi mereka dipercaya sebagai piringan yang dikelilingi oleh air (laut). Mereka menyebut laut Apsu-Abzu (Laut ini mengelilingi batas-batas dunia mereka yang terentang dari pantai Mediterania sampai ujung Teluk Persia). Dan piringan ini (Ki) yang mengambang bebas di laut, juga merupakan wahan diametris di atas sebuah bulatan bola tak berujung.

Kubah di atas bulatan bumi itu adalah langit. Kanopi tak terlihat di bawah laut itu dianggap sebagai 'lawan-langit' yang meliputi dunia bawah (neraka). Bangsa Sumeria menyebt neraka sebagai “Kur”. Mereka percaya akan adanya komponen ketiga yang disebut 'Lil', yang maknanya adalah udara, napas dan roh. Tapi kita bisa menerima 'angin' sebagai makna yang paling mendekati. Menurut bangsa Sumeria matahari, planet-planet, bintang dan bahkan 'kecemerlangan' (dari apapun) terbuat dari substansi yang sama. Dan di luar batas-batas alam semesta teramati ini, di setiap arahnya, terdapat samudra kosmik misterius dan tak berujung. “Ruang lingkup alam semesta” yang teramati ini diam dan berada di pusat dari semua ini.

Kemudian para agamawannya merasa perlu untuk menjelaskan sumber dari komponen kosmik tersebut dan untuk menetapkan tahap-tahap pembentukannya: Ada permulaan. Hal pertama yang ada di awal adalah 'bunda-samudera' purba tak berujung. Dari idea “bunda-laut” inilah para agamawan & pemikir Sumeria mengambil konsep "prima kausa / penyebab pertama," atau “penggerak-pertama”. Samudera ini (Apsu-Apzu) melahirkan alam semesta. An-Ki (Langit - Bumi) terlahir. An-Ki kemudian menciptakan Langit dan Bumi. Langit dan bumi kemudian melahirkan keberadaan allah-allah lain. Tidak ada pemikir Sumeria mampu menjelaskan sepenuhnya awal dari campuran kosmologi dan Theogony (konsep asal-usul menurut perspektif keyakinan agama, bukan sains yang teramatai - Penerjemah) ini. Untuk menemukan realitasnya kita harus berkonsultasi dengan apa mythographers telah tulis.

Pada tablet yang menuliskan daftar para dewa Sumeria, dewi Nammu, yang namanya ditulis dengan kata 'laut' yang ditunjukan dengan piktogram, digambarkan sebagai 'ibu yang memberikan kehidupan kepada Langit dan Bumi.' Dewa yang memisahkan Bumi dan Langit adalah dewa Enlil.

Berikut adalah kosmogoni Sumeria: Ada laut purba (Ibu-Laut) pada awalnya (Tidak ada informasi mengenai asal-usul dan bagaimana hal itu muncul menjadi ada). Ibu-Laut ini menghasilkan Gunung Kosmis-yang dibentuk oleh Langit dan Bumi yang tak terpisah, An-Ki. Langit (An) adalah laki-laki dan Bumi (Ki) adalah perempuan, penyatuan ini menghasilkan Enlil. Enlil dipisahkan langit dan bumi. Sebuah mengambil langit. Enlil mengambil ibunya Ki (bumi) untuk dirinya sendiri. Persatuan Ki dan Enlil mendirikan dasar bagi alam semesta yang tertata.

Penyatuan ini adalah titik awal sumber manusia, hewan, tumbuhan dan institusi peradaban. Yang berarti alam semesta diciptakan oleh para entitas tertinggi ( yakni para allah/tuhan/dewa yang jamak, bukan tunggal - Penerjemah). Para dewa pertama bercampur dengan unsur-unsur kosmis: Langit, Bumi, Udara, Air. Dewa-dewa kosmik ini melahirkan dewa-dewa lainnya yang 'lebih rendah'. Dewa-dewa 'lebih rendah' ini akhirnya akhirnya menghasilkan segala sesuatu, bahkan memenuhi sudut-sudut terkecil alam raya. Hanya dewa pertama (langit, bumi, udara, air) yang adalah 'pencipta'. Karena mereka adalah penyelenggara alam semesta yang berada dalam genggaman tangan mereka. Keberadaan, pengembangan dan kelangsungan hidup kerajaan-kerajaan besar telah tergantung pada mereka. Ini adalah 'kebenaran pada dirinya' yang fundamental bagi bangsa Sumeria. Dewa-dewa ini tidak mengungkapkan diri ke manusia. Setiap dewa bertanggung jawab di sudut-sudut mata angin alam semesta yang berbeda.

Bangsa Sumeria telah memulai suatu konsep ketuhanan dari masyarakat manusia yang mereka tahu dan kembangkan ke tingkat pengawas tertinggi dengan karakter super-human. Dengan kata lain mereka telah menemukan 'kerajaan langit' (Mungkin dalam pemahaman mereka ada kerajaan yang nyata di langit dimana para makhluk langit menempatinya, namun ini bukan topik bahasan kita) dengan berbagai macam dewa yang tertata bertanggung jawab atas ini atau itu. Bagi bangsa Sumeria alam semesta pastilah diawasi, diperhatikan, dikelola dan dikendalikan oleh makhluk superior yang menyerupai manusia. Mereka membuat rencana dan mewujudkan rencana tersebut seperti yang manusia lakukan. Bahkan para allah ini bertindak seperti manusia. Mereka makan, membangun keluarga, mempekerjakan sejumlah besar pegawai. Mereka tunduk pada nafsu dan kelemahan manusiawi. Semua dewa/allah ini tidak terlihat, tetapi mereka memiliki patung-patung mereka di kuil-kuil. Para imam menunjukkan rasa hormat besar kepada patung-patung dan dewa-dewa yang mereka wakili. Mereka tidak pernah memikirkan kontradiksi antara kemiripan dewa dan manusia dan kekekalan para dewa. Para dewa abadi tapi mereka membutuhkan makanan. Mereka dianggap sebagai sangat berkuasa karena mereka memeritah alam semesta. Mereka pikir para allah/dewa ini haruslah abadi karena kematian mereka dapat berarti hilangnya tatanan alam semesta dan akibatnya hidup dapat berakhir.

Demikianlah bagaimana bangsa Sumeria telah memformulakan keberadaan, sifat dan fungsi mahluk super-human yang , abadi ini yang mereka sebut dingir (pencipta tertinggi, dewa, tuhan, allah ). Tidak ada satupun sebenarnya dari kisah-kisah penciptaan ala Sumero-Babilonia yang melukiskan suatu sosok dewa pencipta dalam arti transendental, karena dewa-dewa ini merupakan bagian integral dari alam semesta dan produk dari proses kreatif.

Ada hirarki antara para dewa/ allah ini (Tentu saja harus ada dewa yang bertugas atas beliung dan batu bata yang tidak mungkin setara dengan dewa yang bertanggung jawab atas matahari.!) Di posisi puncak adalah Raja-dewa/allah. Dia adalah kepala dewan para dewa/allah. Di garis depan dewan ini ada empat dewa 'pencipta' bersama-sama dengan tujuh dewa yang paling terkemuka yang menjadi “penentu nasib”. Lalu ada lima puluh “dewa / allah besar”. Dewa pencipta disebut An, Enlil, Enki dan Ninhursag. Ada alasan untuk percaya bahwa pada awalnya bangsa Sumeria meyakini An sebagai dewa/allah tertinggi di dalam panteon/ jajaran dewa. Tetapi dalam sumber-sumber kemudian sekitar 2500 SM kita melihat Enlil sebagai memainkan peran dewa utama. Bagaimana, mengapa dan kapan Enlil mengambil alih posisi An tidaklah jelas. Dokumen-dokumen tertua yang dapat kita pahami menggambarkan dia sebagai “bapak para allah/dewa”, “raja langit dan bumi”, “raja dari semua negara”.

Mitos dan himne terkemudian memberitahu kita bahwa Enlil adalah dewa baik hati yang bertanggung jawab untuk perencanaan dan penciptaan alam semesta dan juga melengkapi ciptaannya dengan semua hal terbaik. Dia adalah sumber dari hampir segalanya. Dalam tablet Sumeria yang dibaca dan dipublikasikan sejak tahun 1930-an himne dan mitos menggambarkan Enlil sebagai dewa yang ramah dan kebapakan yang menjaga keamanan dan kesejahteraan umat manusia umumnya dan Sumeria khususnya. Ninhursag yang juga dikenal sebagai Ninmah (Dewi Keagungan - Magnificent Lady) adalah yang keempat dari empat “dewa pencipta”. Dia lebih tinggi skalanya, datang sebelum Enki dalam daftar dewa. Dia yang memberikan hidup kepada semua dewa. Ia juga disebut Nintu (Dewi Kesuburan – Fertile Lady). Dia adalah ibu dari semua makhluk hidup. Enki, Dewa Apsu-Abzu (Dewa / allah yang dalam tak terduga) dan dewa kebijaksanaan mengangani urusan-urusan keduniawian dan bekerja harmonis dengan Enlil. Enlil merancang rencana umum dan Enki mewujudkan rencana itu jadi nyata (Dalam semua 'agama berkitab', dimulai dari Zoroastrianisme, selalu ada dewa / allah utama dengan dewa / allah yang lebih rendah atau malaikat-malaikat di sekelilingnya). Tidak ada tempatnya dalam alam berpikir bangsa Sumeria saat itu kecemasan untuk mencari asal-usul peristiwa konkret dan kemajuan menuju peradaban. Semua ini terkait dengan efek kreatif Enki. Segala sesuatu dijawab dengan 'Enki melakukannya' atau 'Enki melakukannya dan menatanya sedemikian rupa begitu'. (Penerjemah- tidakkah anda perhatikan kesamaan gambaran panteon dewa/allah ini dengan gambaran kerajaan langit ala agama-agama politeistik dan monoteistik? Dalam agama-agama monoteisme segala pencarian kritis tentang asal-usul manusia dan alam semesta serta metafisika selalu dijawab dengan mudah dalam kalimat “allah/ tuhan telah melakukan dan menatanya sedemikian rupa” sama seperti Dewa Enki dalam panteon Sumeria!)

Menurut para bijak Sumeria, para dewa lebih suka moralitas dari pada amoralitas. Kebaikan, keadilan, keceriaan dan kejujuran dewa ditinggikan di semua himne. Utu, Dewa Matahari memiliki fungsi dasar sebagai pengawas tatanan moral. Tetapi pada saat yang sama Sumeria percaya bahwa para dewa telah menanamkan dalam manusia takaran yang sama kejahatan, kekejaman, dusta dan tirani.


Para dewa/allah telah menemukan 'Me. Sebuah 'me' adalah prinsip yang diciptakan dan ditugaskan oleh para dewa dengan tujuan untuk memastikan fungsi bebas masalah alam semesta. Para 'Me’ dilihat sangat efektif dalam pembentukan manusia, dan peradaban. Dewa memiliki banyak hal penting untuk dilakukan, dan tak seorang pun akan mengharapkan diri untuk terlibat langsung dengan urusan mahluk-mahluk fana di bumi. Seperti rakyat jelata yang memerlukan perantara untuk meminta sesuatu dari seorang raja, manusia membutuhkan mediator untuk membuat dirinya didengar oleh para dewa. Mediator ini harus yang disenangi oleh para dewa-dewa. Keyakinan ini tidak diragukan lagi menciptakan konsep malaikat, pribadi-pribadi yang berfungsi sebagai pengawas ilahi dan konsultan spiritual. Para pengawas spiritual ini menjadi malaikat pelindung yang terhubung pada pemimpin keluarga. Seseorang memohon kepada dan diselamatkan dari bencana oleh ‘pribadi’ pengawas ilahi ini.

Singkatnya, sistem kepercayaan bangsa Sumeria adalah politeistik. Entitas yang tertinggi mereka (supreme being) seperti manusia. Tapi mereka abadi dan memiliki kekuatan super-human. Mereka memiliki keluarga. Mereka hidup di bawah pimpinan tuhan/allah/dewa utama yang berfungsi sebagai raja. Para entitas tertinggi ini bisa bersedih, jatuh cinta, cemburu, berkelahi satu sama lain, dll seperti manusia. Mereka juga bisa berbahaya. Mereka jatuh sakit, dan kena luka juga. Entitas tertinggi dari langit, bumi, air dan udara adalah para pencipta, sedang yang lain adalah para administrator dan pelindung.

Ada sekitar 1500 masing-masing entitas tertinggi yang bertanggung jawab atas sesuatu. Pengawas tertinggi bangsa Sumeria adalah allah yang bersifat antropomorfik yang melambangkan fenomena alam dan kekuatan alam. Persembahan kurban untuk para dewa dilakukan di kuil-kuil yang disebut Ziggurats. Para dewa diyakini mengatur dan mengendalikan segalanya. Dewa matahari Utu (Dewa Shamash dalam mitologi Babilonia) dianggap entitas tertinggi yang maha melihat dan menjamin keadilan dan pemerataan, dan membantu umat manusia. Enki, Dewa Kebijaksanaan dan Air adalah pelindung umat manusia dan penyihir. Dewi Inanna, simbol planet Venus, adalah pelindung cinta dan pemburu. Semua entitas tertinggi di Sumeria hidup sesuka hati. Mereka tidak pernah mengatakan kepada manusia apa keinginan mereka. Manusia harus meminta entitas tertinggi jika mereka ingin tahu keinginan mereka. Lebih lagi, keinginan dari para dewa dapat dilihat dari tanda-tanda yang mereka tampakkan di hati dari hewan kurban yang dipersembahkan manusia ! Cara lain yang dipakai pengawas tertinggi ini untuk menyatakan keinginan mereka pada manusia adalah lewat mimpi.

Dalam rangka untuk mengetahui nasihat dari para pengawas ilahi ini dan tindakan apa yang manusia harus tempuh, harus pergi ke bait suci, membuat sesaji, berdoa dan pergi tidur (Banyak budaya Timur Tengah, dan khususnya Muslim yang saleh melaksanakan praktek bangsa Babilonia ini untuk berdoa dan pergi tidur, berharap untuk mendapatkan mimpi, yang akan menjadi penunjuk tentang tindakan atau kejadian tertentu apakah bermanfaat atau berbahaya). Bangsa Sumeria percaya bahwa segala sesuatu dapat diketahui sebelumnya lewat konsultasi spiritual. Keyakinan ini berlanjut sampai milenium 1 SM.

Sistem kepercayaan politeistik Sumeria secara bertahap menjadi monoteistik dengan semua entitas tertinggi berubah menjadi malaikat, roh jahat, setan, dan jin dalam sistem kepercayaan di kemudian hari. Sedangkan dewa utama berevolusi menjadi konsep TUHAN YANG MAHA ESA (kita dapat melihat 'entitas-entitas tertinggi ini dalam' agama-agama berkitab : Yudaisme, Zoroaster, Sabean, Kristen dan Islam).


Ada tiga tema mendasar dari mitos-mitos Sumeria. Mereka tersebar luas sehingga kita tidak punya pilihan selain memanggilnya “mitos dasar”. Semua mitos ini muncul dalam mitologi Semitik tetapi asal usul mereka sebenarnya adalah Sumeria. Mereka adalah mitos Dumuzi dan Inanna, Mitos Penciptaan dan Mitos air bah.


MITOS DUMUZI DAN INANNA

Ini adalah mitos dimana Inanna turun ke Dunia Bawah (dunia orang mati). Saat itu mitos ini dibentuk terpisah-pisah. Namun sekarang dalam bentuk lengkapnya dikenal sebagai mitos 'Dumuzi dan Inanna'. Dumuzi adalah bentuk Sumeria dari nama yang lebih populernya, yaitu Tammuz, sedangkan nama Inanna dalam mitos Sumeria setara dengan Ishtar dari Semit. Jadi, Ishtar adalah Inanna, ratu surga, (dengan kata lain dia adalah ratu dari langit). Seperti yang Anda tahu ada dewa-dewa tetumbuhan. Dewa-dewa ini memiliki akar dalam siklus vegetasi musim dingin - musim semi. Mereka mati di musim gugur-musim dingin dan bangkit kembali di musim semi. Dumuzi adalah salah satunya. Dia turun atau diturunkan oleh setan ke Dunia Bawah , dan Inanna datang untuk membawanya ke dunia mahluk hidup lagi. Jelas ini merupakan mitos ritual. Dengan berkuasanya kaum Semitik (Akkadian) di wilayah ini, maka semua nama dewa diubah menjadi nama Akkadia. Dumuzi menjadi Tammuz, Inanna menjadi Ishtar. Dalam liturgi Ishtar dan Tammuz sering direpresentasikan sebagai sosok pohon cemara jantan dan betina. Tapi pohon-pohon cemara tidak terdapat di delta Tigris-Efrat, sebaliknya mereka ditemukan di daerah pegunungan dari mana leluhur Sumeria datang. Bukti menunjukkan bahwa bangsa Sumeria dan Semit menduduki delta tersebut untuk waktu yang lama sebelum invasi kaum Amori, dan sampai penaklukan akhir Sumeria oleh bangsa Semit. Bangsa Semit mengambil alih aksara paku (cuneiform), sebagian besar kepercayaan dan mitos dari bangsa Sumeria. Tentu saja bangsa Semit memiliki dan memperkenalkan tafsir mereka sendiri atas mitos tersebut, yang mungkin menyebabkan perubahan yang dapat kita lihat dalam mitos Tammuz-Ishtar dari periode Assyro-Babilonia.



(Ishtar turun ke Hades / Dunai Bawah / Dunia Kematian)



MITOS PENCIPTAAN:

Ini adalah mitos dasar kedua. Menarik sekali untuk kita garis bawahi bahwa dalam mitos-mitos kuno penciptaan, kita tidak menemukan konsep creatio ex nihilo (diciptakan dari ketiadaan). Semua mitos-mitos kuno memiliki tema : mendatangkan ketertiban pada keadaan asli sebelumnya yang kacau. Mitos penciptaan versi Assyro-Babilonia merupakan bentuk Epos Penciptaan yang terkenal itu - Enuma Elish. Dalam mitos Sumeria tidak didapati tema yang sepadan dengannya. Kosmogoni Sumeria harus disatukan dari berbagai mitos asal, sebagian karena banyak tablet yang atasnya mitos itu diawetkan telah rusak dan tidak lengkap. Jadi kita berada dalam situasi tidak menguntungkan dalam menyatukan kembali catatan-catatan yang koheren dari mitologi Sumeria. Untuk membuat tugas yang sulit ini sedikit lebih mudah kita akan melihat kisah penciptaan ini di bawah tiga judul:

a. Asal usul alam semesta:

Dewi Nammu (Dewi Laut Purba - Bunda para dewa Sumeria) yang namanya ditulis dengan ideogram untuk 'laut', adalah ibu yang melahirkan langit dan bumi. Dari bahan lainnya yang juga dicatat pada sebuah tablet tanah liat kita mendapati mitos bahwa langit dan bumi awalnya berasal dari sebuah gunung. Bumi adalah dasarnya, dan langit adalah puncaknya. Langit dipersonifikasikan sebagai Dewa An, bumi dipersonifikasikan sebagai Dewi Ki. Penyatuan dewa-dewi ini menghasilkan Dewa Enlil, personifikasi dari udara. Kemudian Enlil memisahkan An-Ki (gunung langit-bumi). Dengan cara ini semesta menjadi ada di mana langit, bumi dan udara di antaranya. Di sini kita tidak memiliki penjelasan laut purba, yang ada sebelum penciptaan (Sebuah konsep yang identik muncul di Quran mana dikatakan bahwa hanya ada air sebelum penciptaan). Laut purba tak berujung ini disebut Dewi Nammu.

Nammu menciptakan gunung keluar dari air. Anaknya, Dewa Udara memisahkan gunung itu menjadi dua bagian, bagian atas menjadi langit dan Dewa An (Dewa Langit dan Kebijaksanaan) memerintah atasnya, bagian bawah menjadi bumi, dan Nammu dan Enlil bersama memerintah atasnya. An dan Enlil melengkapi bumi dengan pepohonan dan air. Mereka menciptakan hewan dan mengadakan dewa-dewa yang akan bertanggung jawab atasnya. Perjanjian Lama, dalam kita Kejadian, memiliki laut purba yang sama, pemisahan langit dan bumi, penciptaan tanah, melengkapi tanah dengan pepohonan dan binatang, dan di Quran, QS 21:30 tertulis: "Apakah mereka tidak tahu bahwa langit dan bumi adalah satu dan kami memisahkannya? " Mitos Sumeria dan cerita Perjanjian Lama sangat dekat. Sedangkan Quran mewartakan mitos yang sama secara dangkal dan tidak mendetil.


Dalam Perjanjian Lama tertulis bahwa penciptaan terjadi dalam 6 hari, dan 1 hari dalam pemahaman tuhan adalah 1000 tahun manusia. Jadi jika 6 hari ini ditafsirkan secara literal, maka penciptaan berkisar 6000 tahun yang lalu. Kekristenan menerima periode ini. Kuran tidak memiliki jenis skala waktu tetapi menurut mitos versi Islam penciptaan telah terjadi 5000 tahun yang lalu. Menurut daftar raja-raja Sumeria penciptaan terjadi 241.200 tahun yang lalu; menurut bangsa Cina 49.000 tahun yang lalu Cina, menurut bangsa Mesir 13.000 tahun yang lalu; menurut Herodotus 17.000 tahun lalu. Tak satu pun dari periode ini selaras dengan bukti dan tanggal yang ditunjukkan oleh studi ilmiah di zaman kita. (Kita harus berpikir dan berpikir keras apa alasan di balik perbedaan-perbedaan antara angka-angka itu. Jika sang pencipta yang menciptakan segala sesuatu adalah satu, lalu mengapa orang percaya tidak memiliki rentang waktu tunggal untuk penciptaan ? Jika kitab-kitab suci itu diberikan oleh sesosok pencipta tunggal mengapa ia tidak memberikan manusia suatu angka yang sama dan tepat? Di lain pihak sains menyodorkan proposisi lain dengan rentang waktu sekitar 12 – 16 milyar tahun. Dan seperti biasanya setiap penemuan baru menyodorkan angka yang berbeda pula, seperti biasanya.

Jadi, perhitungan matematis mana yang benar kalau begitu? Konon sang tuhan yang satu itu menganugerahkan kepandaian pada umat manusia. Jika demikian, bukankah keliru apabila manusia menerima begitu saja apa yang ditulis dalam kitab-kitab, tanpa pertanyaan? Jika anda setuju dengan saya, maka skala waktu mana yang benar? Bukankah sikap 'menerima sesuatu tanpa mempertanyakannya' merupakan penolakan terhadap intelektualitas itu sendiri yang seharusnya telah diberikan oleh 'pencipta tunggal' untuk kita jadikan alat guna memisahkan yang benar dari yang salah?



(Tablet tanah liat dengan aksara baji / cuneiform berisi mitos Sumeria tentang penciptaan dunia)


b. Tata Kelola Alam Semesta:

Sejumlah mitos berhubungan dengan tema ini. Salah satunya adalah mitos kelahiran dewi bulan, Nanna atau juga Sin. Enlil, dewa tertinggi dalam panteon dewa-dewi Sumeria, jatuh cinta dengan Dewi Ninlil (seorag dewi dari mitologi Sumeria) dan memperkosanya. Karena kejadian ini Enlil dihukum, diturunkan ke dunia orang mati, tetapi Ninlil yang sedang hamil, menolak ditinggalkan malahan ikuti Enlil ke dunia orang mati. Namun jika bayi itu dilahirkan pada saat Ninlil dalam perjalanan ke dunia orang mati, maka sang bayi, yang nantinya jadi dewa bulan, akan tinggal di dunia orang mati, bukannya jadi terang di langit. Untuk itu Enlil merencanakan skenario dimana Ninlil melahirkan lagi tiga dewa dunia orang mati sebagai pengganti Nanna. Sekarang Ninlil terbebaskan dan bisa kembali ke surga.

Enlil kerap muncul dengan gelar Tammuz dalam liturgi Tammuz, dan Ninlil sebagai Ishtar. Ketika Nanna turun ke dunia orang mati, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Namun sekarang kita mengetahui alasan turunnya Ninlil. Jadi, Nanna/Sin adalah kepala dewa-dewi astral. Dewa Matahari, Utu, dianggap sebagai keturunan Nanna dan istrinya Ninggal. Pada gilirannya nanti ketika kosmogoni versi Ibrani dikarang, matahari menjadi bintang besar jantan, sementara bulan menjadi betinanya (sama seperti pandangan mitologi klasik). Menurut mitos Sumerian, Nanna melintasi langit dalam sebuah quffah, yakni perahu yang sering dipakai melintasi sungai Eufrat (perahu ini sering dipakai di sana sampai saat ini dan disebut ‘kufe). Namun mitos Sumeria tidak memiliki penjelasan bagaimana terciptanya bintang-bintang dan planet-planet lain yang menemani Nanna.

Enlil memisahkan langit dari bumi. Langit diterangi oleh dewa Matahari Utu, dewa bulan Nanna, planet dan bintang-bintang. Sekarang saatnya untuk menertibkan ke bumi. Elemen yang berbeda dari urutan terestrial diterangkan lewat berbagai mitos. Sebagai contoh kota-kota dan kuil-kuil para dewa dianggap sebagai yang ada sebelum penciptaan manusia (catatan-catatan Lu-dingir-ra dengan jelas menunjukkan kepada kita apa yang mereka percaya itu).
"Kita memerlukan hamba-hamba, marilah kita ciptakan mereka!" Menurut apa yang diyakini bangsa Sumeria, penciptaan manusia ini dimungkinkan pada akhirnya, sebagai akibat dari kegiatan ilahi yang terlibat dalam penciptaan tatanan alam semesta. Enlil adalah sumber utama dari vegetasi, ternak, alat pertanian, dan seni peradaban. Enlil menjadikan semua ini dengan cara menciptakan dewa-dewa yang lebih rendah untuk melakukan instruksinya. Untuk menyediakan ternak dan gandum untuk bumi, Enki (Ea di Babel - dewa kebijaksanaan) dipercayakan oleh Enlil untuk melakukan sesuatu. Enlil pada gilirannya menciptakan dua dewa kecil, Lahar, Dewa Ternak dan Ashnan Dewi Bulir.

Mereka menciptakan kelimpahan di bumi. Tapi mereka minum anggur, mabuk, mulai bertengkar dan mengabaikan tugas mereka. Para Anunnaki masih membutuhkan makanan dan pakaian. Mereka harus menemukan solusi - untuk kepentingan mereka sendiri! Dan mereka menemukannya. Mereka menciptakan manusia, sebagai hamba yang setia, dan menurut mitos bangsa Sumeria berjudul HewanTernak dan Bulir, "... untuk menjaga kawanan domba para dewa , maka kehidupan ditiupkan kepada manusia" (Ungkapan ini, “kehidupan ditiup kepada manusia” adalah sangat penting karena muncul dalam Perjanjian Lama dan Quran. Dalam Perjanjian Lama, Kejadian 2:7 ada tertulis:
"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas kehidupan ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup.”

Dalam Kuran;. 32:7,9 cerita dimulai dengan :
“ ....Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. - Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya.....”

Jadi sekarang Anda tahu dari mana ungkapan itu berasal ? Dari mitos Sumeria !

Lebih jauh lagi mitos yang sama menggambarkan, bagaimana Enki melakukan perjalanan di mulai dari Sumeria melewati bagian-bagian dunia yang berbeda untuk 'memperbaiki nasib' (Ini adalah istilah Sumeria yang mengacu pada aktivitas kreatif para dewa dalam menata-kelola alam semesta). Ada sebuah benda dalam mitos-mitos Babilonia yang dalam bahasa Akkadia disebut 'tablet nasib'. Memiliki tablet itu adalah salah satu atribut dewa. Mitos mengatakan bahwa tablet ini dicuri atau diambil dengan paksa beberapa kali. Karena dewa yang memiliki tablet itu memiliki kekuatan untuk mengontrol urutan alam semesta (di sini orang-orang Yahudi dan Muslim dapat mendeteksi asal-usul keyakinan mereka dalam konsep tuhan yang menentukan takdir) Tapi mari kita kembali ke kisah kita. Jadwal perjalanan Enki dimulai dari kota Ur, Tigris dan sungai Eufrat - yang ia isi dengan ikan-ikan - dan berlanjut ke Meluhha (mungkin Mesir atau tanah di tepi Teluk Basra) Dia menunjuk dewa-dewi untuk bertanggung jawab atas kota-kota ini. Dia kemudian melanjutkan ke tempat Kabta, sang Dewa Bata, dan menugaskannya masalah-masalah beliung dan cetakan bata. Enki meletakan pondasi, rumah-rumah dan menempatkannya dibawah pengawasan Mushdamma – Dewa Ahli Bangunan anak buah Enlil. Dia mengisi dataran dengan sayuran dan hewan, dan menempatkan Summuqan, 'Raja gunung' yang bertanggung jawab di sana. Enki membangun kandang dan ternak domba dan menempatkan mereka di bawah Dumuzi, Dewa Gembala.
Pada titik ini marilah kita mencermati lagi tablet yang ditulis oleh teman kita Lu-dingir-ra dari Sumeria. Ini dia:

".. Menurut keyakinan kami, tuhan-tuhan kami telah mempersiapkan membuat kota-kota dengan jalan-jalan dan bangunan-bangunan di dalamnya. Kemudian menciptakan kita dan berkata kepada kita “ambillah kota-kota itu untukmu”. Hanya antara kau dan aku, aku tidak benar-benar percaya ini. Tapi aku tidak ragu bahwa kita adalah orang-orang yang dipilih oleh para dewa. Menurut pepatah yang berasal dari nenek moyang kami Sumeria adalah 'garam' bumi. Mengapa mereka menyebut kita “garam” bukannya “cita rasa” sebagai gantinya, aku tidak bisa memecahkannya. "


C. Penciptaan Manusia:

Telah saya sebutkan mitos Lahar, Dewa Hewan Ternak, dan Ashnan, Dewi Bulir, yang mengakibatkan penciptaan manusia. Tapi ini bukan satu-satunya mitos tentang penciptaan manusia (Seperti kita lihat dalam Perjanjian Lama, manusia bisa dibuat dalam berbagai cara di bawah kondisi yang berbeda. Jangan lupa bahwa karena ini melulu melibatkan imajinasi manusia, maka akan ada banyak kemungkinan!). Di sini saya harus menunjukkan bahwa mitos bangsa Sumeria dan Babilonia tentang Epos Penciptaan berbeda jauh. Tetapi tujuan penciptaan manusia oleh para dewa adalah identik pada kedua mitos tersebut. Ya! Hanya untuk melayani para dewa belaka. Dalam mitos bangsa Sumeria, para dewa mengeluh bahwa mereka tidak bisa mendapatkan makanan mereka. Dan mereka memohon Enki, seperti yang biasanya mereka lakukan pada saat dibutuhkan Enki sedang tidur. Dewa Laut Purba, Nammu, yang juga ibu para dewa membangunkan Enki. Enki memerintahkan Nammu dan Ninmah ('Dewi Kelahiran' Sumeria). Menurut Samuel Noah Kramer (Tablet Sumeria) Nammu dan Ninmah, dibantu oleh dewa yang, mencampurkan tanah liat yang 'di atas jurang' dan menciptakan manusia.


SIAPA YANG HADIR PADA WAKTU PENCIPTAAN MANUSIA?

Dalam cerita lain, kali ini Enki membuat patung dari tanah liat lunak dan membawanya pada Dewi Nammu:!
" Oh Ibu , makhluk yang engkau akan beri nama akan segera tercipta.
Berikanlah padanya gambar (penampilan) menyerupai dewa
Campurkan lumpur dari lubang tak berdasar
buatlah tangan dan kakinya.
Oh ibu, umumkanlah bayi yang baru lahir ini
Itu adalah manusia! "

(Seperti yang jelas dari kutipan ini, dewa Sumeria telah menciptakan manusia dalam citra mereka Yang merupakan bukti bahwa bangsa Sumeria memvisualisasikan dewa-dewa mereka figur seperi manusia. Tindakan dewa yang menciptakan manusia dalam citra mereka juga muncul dalam Perjanjian Lama, Kejadian 1:27. Sementara itu ketika penciptaan berlangsung Dewi Nammu Dewi, ibu dari semua dewa, Ki, Dewa Bumi; Ninmah, Dewi Kelahiran, Enki, Dewa Kebijaksanaan bersama-sama hadir (Tidaklah aneh jika dalam Kitab Kejadian 1: 26 dituliskan: Berfimanlah Allah : “Baiklah KITA menjadikan manusia menurut gambar dan rupa KITA... “ )


Perundingan, Perundingan

Itu belum semuanya ! Bagaimana kisah penciptaan yang lain? Enki memberikan jamuan kepada para dewa untuk merayakan penciptaan manusia. Enki dan Ninmah minum anggur terlalu banyak, dan menjadi mabuk. Ninmah mengambil beberapa tanah liat yang 'di atas jurang' menciptakan enam jenis manusia. Dua di antaranya adalah seorang wanita mandul dan dan kasim (bhs. Ing: eunuch). Mitos yang sama pula kemudian menggambarkan tindakan lebih lanjut dari penciptaan oleh Enki. Ia menciptakan seorang manusia yang lemah pikiran dan tubuhnya, kemudian meminta Ninmah melakukan sesuatu untuk meningkatkan makhluk ini. Tapi Ninmah tidak mampu untuk menyembuhkan makhluk itu. (Salah satu kata yang menunjukkan manusia dalam bahasa Ibrani adalah “Enos” yang berarti 'lemah' (lihat persamaan antara kata “eunuch” dalam bhs, Inggris dengan “enos” dalam bhs. Ibrani). Mereka yang akrab dengan puisi bahasa Ibrani tahu bahwa aspek kemanusiaan - kelemahan, dan kerendahan - 'sakit.' ditekankan dalam tema-tema puisinya. Mitos Sumeria mungkin telah menjadi sumber lain untuk penggambaran sosok manusia versi Ibrani sebagai kegagalan dibandingkan dengan tujuan ilahi yang dimaksudkan dari penciptaannya). Di Sumeria ada dewa empat 'pencipta' yang hadir dalam penciptaan manusia, dan dalam Islam ada empat malaikat tertinggi yang membantu allah dalam penciptaan manusia. Kesejajaran yang menarik, bukan? Tidakkah ini jelas bagi anda?


SIAPA YANG MENCIPTAKAN WANITA DAN BAGAIMANA?

Sekarang teka-teki lain: Penciptaan perempuan. Marilah kita berpaling pada mitos-mitos Sumeria lagi. Berikut adalah petunjuk ceritanya : Di dataran Sumeria, sebelah timur ada sebuah tempat yang murni, bersih, bersinar yang disebut Dilmun, di mana para dewa tinggal. Inilah tempat 'kehidupan' di mana tidak ada penyakit atau kematian. Tetapi tidak ada air minum di tempat ini. Dewi Air, Ninhursag, meminta Enki, Dewa Matahari, untuk menyediakan air. Dia melakukannya. Dari penyatuan Enki dan Ninhursag lahirlah Ninsar atau Nimmu, Dewa Tanaman. Kemudian Enki menghamili Ninsar putrinya. Dan dari penyatuan ini lahirlah Dewi Ninkurra. Dari persatuan Enki dan Ninkurra lahirlah Dewi Uttu, yang juga disebut sebagai dewi Tanaman. Ninhursag memperingatkan Uttu dari Enki dan memberikannya saran tentang cara-cara untuk menangani pendekatan Enki. Mendengar saran ini Uttu mensyaratkan hadiah kepada Enki. Enki membawa sebuah hadiah, dan Uttu menerima dia dengan gembira dan sebagai hasilnya delapan jenis tanaman bertumbuh. Ninhursag memberikan setiap tanaman itu nama dan sifatnya masing-masing. Namun Enki tidak bisa menunggu dan ia memakan semua tanaman tersebut. Ninhursag marah dan mengutuk Enki dengan sebuah kutukan mengerikan dan kemudian pergi. Para dewa kecewa dan Enki terserang penyakit di delapan bagian berbeda di tubuhnya. Bahkan Dewa Enlil, dewa udara, tidak berdaya. Tepat pada saat itu seekor rubah muncul, dan menyatakan akan membawa kembali Ninhursag dengan imbalan harga yang wajar. Enlil menerima syarat itu. Sang rubah kemudian membujuk Ninhursag untuk kembali. Dia kembali dan mulai menyembuhkan Enki dengan menciptakan delapan dewa secara bergiliran, satu untuk setiap bagian tubuh di mana Enki penyakit tersebut berada. Lima dari para dewa adalah perempuan. Dan salah satu organ sakit Enki adalah tulang rusuknya. Nama dewi yang diciptakan untuk menyembuhkan penyakit dalam tulang rusuk Enki adalah Ninti. 'Nin' dalam bahasa Sumeria adalah 'wanita', dan ‘ti’ berarti tulang rusuk. Arti lain dari 'ti' adalah 'hidup'. Jadi Ninti berarti 'Wanita Dari Tulang Rusuk' atau ‘Wanita Kehidupan’. Sementara cerita versi Sumeria adalah tentang penyembuhan tulang rusuk, kisah Perjanjian Lama menuturkan penciptaan dari tulang rusuk, dan 'Wanita Kehidupan' yang adalah Ninti dalam Sumeria menjadi Hawwah yang bahasa Ibrani dan berarti 'hidup', dan Islam membawa kisah ini dengan. Jadi 'wanita kehidupan' yang diciptakan untuk menyembuhkan tulang rusuk telah berubah menjadi 'wanita yang dihidupkan atau diberikan kehidupan dari tulang rusuk’.

Inti dari cerita ini adalah apa yang kita kenal sekarang sebagai 'buah terlarang,' karena Enki makan tanaman ketika masih dilarang. Ninhursag harus memberikan setiap tanaman nama dan kualitas. Tapi utusan dari Isimud menawarkan Enki menawarkan 'buah terlarang' itu. Dalam Perjanjian Lama tindakan ini dilakukan oleh ular, dan dalam Quran oleh Setan. Namun ular dan Setan bersekongkol, menurut mitologi Islam. Adam diampuni oleh perantaraan malaikat Jibril dalam mitologi Islam. Dalam mitos Sumeria seorang dewa lain memohon Ninhursag untuk menyembuhkan Enki, sang Dewa Kebijaksanaan. Di Sumeria Dewa Enki Kebijaksanaan membawa berita dari dewa kepada manusia. Ini adalah tugas malaikat Jibril dalam Islam. Kekuatan, dan karakter Jibril yang memperkenalkan wahyu kepada manusia cocok benar dengan sosok Dewa Kebijaksanaan.


MANUSIA TIADA LAIN HANYALAH HAMBA

Para pemikir Sumeria memiliki pandangan negatif pada umat manusia dan takdirnya. Mereka percaya bahwa makhluk yang disebut manusia diciptakan hanya untuk melayani para dewa, yakni menyediakan mereka makanan, dan tempat tinggal, sehingga para dewa dapat melaksanakan tugas mereka dalam damai. Mereka percaya bahwa hidup penuh dengan ketidakpastian dan manusia tidak akan pernah bahagia tentang hal ini karena mereka tidak akan pernah bisa menebak apa yang para dewa, yang kehendak hatinya tidak bisa diprediksi, telah dipersiapkan untuk manusia sebagai nasib mereka (di sini kita dapat mendeteksi awal dari konsep “nasib dan takdir” yang menyelinap di sebagian besar agama-agama, terutama dalam Islam). Menurut pemikir Sumeria, manusia tidak lebih dari sebuah bayangan tak berdaya yang hanya berdiri dalam kegelapan pekat neraka setelah kematiannya. Di sini 'kehidupan' hanya dipandang sebagai cerminan menyedihkan dari kehidupan di bumi. “Kehendak pribadi' bukanlah masalah, karena manusia tidak bebas, ia diciptakan untuk kepentingan dan kesenangan para dewa. Kematian adalah takdir manusia. Sesuai dengan hukum ilahi, hanya dewa saja yang abadi. Para pemikir Sumeria percaya bahwa kebajikan yang tertinggi dan terutama pengetahuan yang diperoleh warga dibalik pencarian sosial dan eksperimen sebenarnya diciptakan oleh para dewa. para dewa adalah pihak yang diuntungkan dan umat manusia tiada lain hanyalah hamba yang harus selalu siap patuh (tidakkah anda merasakan tema-tema ini dalam Islam ? kita hanya mengganti pada dewa itu dengan sosok awloh yang satu selanjutnya semua konsep yakni kepatuhan, kehambaan, ridha awloh dll sangat akrab ditelinga muslim – penerjemah).


MITOS AIR BAH:

Mitos Air Bah atau Banjir Besar mungkin merupakan yang paling populer dari tiga mitos dasar. Singkatnya, dewa-dewa yang tidak senang tentang umat manusia (untuk alasan yang berbeda dalam versi yang berbeda dari mitos). Jadi mereka ingin menghancurkan umat manusia, tetapi mereka membiarkan mereka 'utusan' tahu apa yang akan terjadi: Tuhan akan membawa banjir global sehingga para 'utusan' harus mengambil pasangan (pria dan wanita) dari setiap makhluk (hanya yang terbaik spesimen silahkan!), menempatkan mereka naik sebuah kapal yang dia ('utusan') harus membangun sesuai dengan pengukuran yang diberikan oleh para dewa, dan mereka semua harus menunggu hujan jatuh, tetap di papan sepanjang banjir, dan turun ketika air surut sehingga akan ada tanah lagi untuk menetap di. Dengan memilih beberapa setiap makhluk 'utusan' memastikan bahwa yang terbaik dari semua selamat dari banjir / banjir, yang merupakan murka para dewa.

Anda semua tahu itu, bukan ? Sang 'utusan' tersebut adalah Nuh tentu saja! Dan kapalnya disebut 'Bahtera'. Kita diberitahu bahwa ada 250 riwayat yang berbeda tentang banjir di seluruh dunia. Dan tampaknya kita memiliki lebih dari satu Nuh! Dalam kisah banjir besar versi Polinesia nama pahlawannya adalah .... coba tebak! Noa tentu saja (suatu kemiripan nama yang unik). Jadi yang versi yang mana yang asli? Siap yang dapat cerita dari siapa ? Banjir yang mana yang ditulis dalam Alkitab Perjanjian Lama? Kitab Veda tidak diragukan lagi menceritakan tradisi tertua sejarah umat manusia. Itulah sebabnya mengapa tampak masuk akal untuk menerima kisah yang diceritakan dalam Veda sebagai kisah banjir diwariskan kepada kita. Banjir dalam Veda berlangsung 40 hari. Periode ini identik dengan yang diberikan dalam Perjanjian Lama (kitab Kejadian). Kata “banjir” dalam bahasa Jerman adalah 'sintflut'. Beberapa akademisi mengklaim bahwa kata ini berasal dari 'Sint' (berarti “total”) dalam bahasa Jerman Dataran Tinggi Kuno.

Tapi bagaimana dengan koneksi etimologis lain dengan kata 'Sindh' ? Sind adalah nama sungai yang darinya wilayah sub-benua India diberi nama: Indus, yang juga disebut 'Sindhu' di masa lalu. Sungai ini mengalir dari utara ke selatan, dan banjir kadang-kadang meluap memenggenangi daratan seluas 140,000 kilometer persegi provinsi Sindh di Pakistan yang sangat padat penduduknya. Jadi mungkinkah dari sini cerita asli dari air bah. Siapa tahu?

Jika banjir berskala global memang pernah terjadi, sebagaimana diklaim dalam kitab-kitab berbagai agama, maka kita perlu sedikit kalkulasi matematik untuk mengetahui berapa banyak air yang dibutuhkan untuk menutupi gunung-gunung sampai ke puncak mereka. Permukaan bumi dikatakan 510 juta kilometer persegi. Jika kita ambil puncak tertinggi sebagai 9 kilometer tingginya, maka perhitungan sederhana memberitahu kita bahwa banjir ukuran yang disebutkan dalam kitab-kitab agama tersebut memerlukan curah hujan sebesar 4.000.600.000.000 meter kubik (empat triliun enam ratus juta). Sungguh tidak mungkin ! Bahkan curah hujan terberat sekalipun hanya dapat menyebabkan kenaikan air setinggi hanya 800 meter di atas permukaan laut. Jadi, kisah Air Bah berskala dunia hanyalah imajinasi manusia primitif saja yang tidak mengetahui sains !

Jika perhitungan matematika tadi tidak cukup, mari kita memeriksa kalender: Menurut perhitungan oleh Maurice Bucaille silsilah nabi Abraham dalam Kejadian memberi kita tanggal bahwa Abraham hidup sekitar 292 tahun setelah banjir. Jika Abraham hidup sekitar tahun 1850 SM, maka banjir (menurut Perjanjian Lama) haruslah terjadi antara abad 22 atau 21 SM. Faktanya ada cukup banyak peradaban di seluruh dunia pada jaman itu. Terutama di Mesir saat itu adalah periode interim, dianggap sebagai awal dari kerajaan Mesir Kuno. Jadi alangkah lucu untuk berpikir atau mengklaim bahwa seluruh peradaban dunia dihancurkan oleh Air Bah.

Bagaimana dengan dimensi perahunya? Ada akademisi yang mengklaim bahwa kapal ini dibangun sesuai dengan perintah allah seperti yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Namun jika demiakan, maka dimensi perahu tersebut tidak akan mampun menampung semua spesies yg dibawa, ditambah dengan makanan dan air bagi mereka untuk bertahan selama berbulan-bulan. Selain itu dikatakan bahwa jendela pada kapal hanya ada satu, yang ditutup rapat-rapat agar tidak kemasukan air, akan menyebabkan semua makhluk hidup di kapal untuk mati lemas. Jadi kita bisa menyimpulkan, narasi ini tidak bisa menjadi narasi ilahi, dengan kata lain 'firman tuhan', tapi dongeng, sebuah kepalsuan. Tentu saja! Mari kita renungkan bersama: Mengapa sang tuhan yang konon maha kuasa ini tidak menghancurkan saja ciptaan-nya dengan satu tindakan dalam bentuk lain (yang dia bisa melakukannya dengan mudah) dan menciptakan makhluk baru di bumi ini, malahan terpaksa melakukan metode kejam yang diceritakan dalam cerita Air Bah. Sungguh aneh, bukan? Tapi saya yakin bahwa para ideolog agama berkitab sudah punya jawaban siap untuk pertanyaan itu.

Sekarang mari kita mengambil dimensi manusia: Kejadian menakutkan itu pastilah terjadi pada saat ada manusia di bumi yang bisa mengalaminya, hidup melaluinya dan bertahan hingga bisa mewariskan kisah itu ke generasi berikutnya. Mitos Banjir Besar itu umumnya berasal dari Mesopotamia. Sungai Eufrat dan Tigris telah menyebabkan banjir sepanjang sejarah. Pendapat luas adalah bahwa mitos Banjir Global itu terkait dengan banjir di Mesopotamia, yang diturunkan kepada kita melalui beberapa garis generasi yang panjang. Berikut adalah salah satu alasan menunjuk pada kesimpulan bahwa: peta 'dunia' yang dilukis atas perintah Raja Sargon pada tahun 2700 SM (500 tahun lebih awal dari Air Bah) hanya memperlihatkan wilayah Mesopotamia. Jadi, dengan kata lain 'dunia' yang mereka sebutkan hanyalah wilayah Mesopotamia, selebihnya, diluar Mesopotamia tidak ada! Itu sebabnya, ia berpikir, banjir lokal di sana dinggap seolah-olah sebagai kejadian global. Peristiwa ini diteruskan ke bangsa Ibrani dan dari sana ke Arab, dan dimasukan ke dalam kitab-kitab agama mereka, Perjanjian Lama dan Quran masing-masing. Orang Majusi mengatakan bahwa air bah terbatas hanya pada daerah timur tanah Babilonia.


KAPAN BANJIR ITU TERJADI ?

Berossus menulis bahwa para dewa telah menetapkan tanggal awal Air Bah, yakni tanggal 15 bulan Daisios (bulan Mei menurut kalender Macedonia). Bar Hebraus memberikan tanggal Banjir sebagai 27 Mei. Dalam Perjanjian Lama tertulis bahwa Bahtera Nuh menetap di lahan kering pada hari ke-17 dari bulan ketujuh. 'Bulan ketujuh' masih tetap diperdebatkan. Angka tujuh dalam Perjanjian Lama diperkirakan telah didasarkan pada pemahaman mistis (mungkin berasal dari Sumeria). Tahun baru dimulai pada bulan yang berbeda di masa lalu. Asyur memulai tahun baru mereka kadang-kadang pada bulan November, tetapi dianggap April sebagai bulan pertama. Banjir ini telah dimulai pada bulan Ayar (Mei) menurut dokumen Siria kuno, sumber-sumber Yunani dan banyak orang lain. Ada beberapa yang berpikir bahwa nama sungat “Eufrat” adalah transformasi dari burat yang adalah kata bahasa Syria untuk “banjir”, dan nama lain untuk Eufrat adalah Purattu. Teks Yahwis dari Perjanjian Lama yang diduga telah ditulis pada abad ke-9 SM dan teks Rabbi yang ditulis pada abad 6 SM tidak sepakat dalam cerita-cerita yang mereka katakan. Para penulis Yahwis tidak tahu tentang tanggal banjir. Teks Rabbinik menerima bahwa bencana berskala global tersebut diceritakan dalam penanggalan yang tidak seharusnya.


INIKAH BUKTINYA ?

Sebuah bukti jelas dari banjir dilaporkan muncul di penggalian kota Ur, di Mesopotamia. Sebuah lapisan tanah liat 2 sampai 3 meter lebarnya benar-benar ditemukan di sana. Fragmen tembikar baik di atas dan di bawah tanah liat ditemukan. Namun lapisan ini membuktikan tidak lebih dari fakta bahwa dulu pernah ada petaka banjir yang serius di distrik sekitar Ur ( Namun tidak mengindikasikan adanya suatu banjir berskala dunia !) Lapisan tanah liat ini dianggap sebagai bukti dari banjir besar. Para arkeologis memberi kisaran tanggal banjir ini sekitar 4000 SM. Namun pada saat kejadian itu terjadi suku-suku Semit nomaden dan ternaknya belum mencapai tanah diantara dua sungai tersebut (kawasan ini dihuni manusia baru pada milenium ke-3 SM- Penerjemah). Jadi, mereka tidak dalam posisi untuk bertahan hidup dan mengalami kejadian tersebut.

Oleh karena itu Banjir di Alkitab pastilah bercerita tentang suatu banjir yang lain. Luasnya banjir dihitung sebagai daerah barat laut Teluk Persia. Dengan standar ini kita dapat menganggapnya sebagai kejadian 'lokal', tetapi untuk orang yang tinggal di daerah tersebut kejadian ini dianggap sebagai wabah bagi 'seluruh dunia' mereka. Banjir ini terjadi sekitar 4000 SM. Jejak banjir ditemukan di Kish, Shuruppak (wilayah Fara pada jaman sekarang ), Niniwe dan Erech (Uruk). Namun bukti yang dibentuk oleh jejak ini tidak seharusnya ada sampai ke sana jika seluruh Mesopotamia dilanda banjir. Jadi ini bukan petaka Banjir Bah dalam Alkitab. Banjir Besar dalam Alkitab masih tetap tidak bisa didemonstrasikan.


BANJIR BESAR : AIR LAUT YANG MENABRAK DINDING BOSPORUS HINGGA KE DANAU LAUT HITAM (!)

Dua ahli geologi Amerika Dr Walter C. Pittman III. dan Dr William BF Ryan mengaku memiliki bukti yang menunjukkan bahwa air bah terjadi ketika air di laut Marmara memecah dinding bumi dan melaju memenuhi Danau Laut Hitam 7500 tahun yang lalu. Kejadian ini menyebabkan terbentuknya Selat Bosporus. Mencairnya gunung-gunung es 11,000 tahun lalu diperkirakan memicu kejadian ini. Dengan aliran besar air tepi Danau Laut Hitam menjadi meluas melebihi ukuran sebelumnya. Penduduk yang hidup dan selamat dari bencana bermigrasi ke Mesopotamia, dan ketika tulisan itu ditemukan, kisah Air Bah secara lisan itu ditulis. Ini adalah proposisi lain.




(Inilah skenario yang paling memungkinkan bagaimana Danau Laut Hitam, danau dengan dimensi yang luas dan dimana didapati air tawar dan air asin, terbentuk. Diperkirakan karena melelehnya gunung-gunung es di kutub utara (oleh suatu kejadian kosmik?) air dari laut Marmara meluap dan menabrak dinding bumi hingga menyebabkan terjadinya selat Bosporus.)




(Volume air dan luas Danau Hitam mengalami perluasan setelah bencana banjir besar ini. Tampak di gambar daerah dalam bergaris putus-putus adalah perkiraan luas awal Danau Laut Hitam)


Kisah Air Bah dalam Perjanjian Lama, secara matematis salah, secara geografis tidak pasti, dan dimensi manusianya tidak benar. Kalau begitu kisah apakah ini sebenarnya? Kisah Air Bah dalam Alkitab didasarkan pada mitos Babilonia, yang berasal dalam mitos Sumeria. Mitos ini didasarkan pada tablet tanah liat yang dibaca dan diterbitkan pada tahun 1914. Samuel Kramer Nuh dalam bukunya, Dunia Sumeria, sebuah Otobiografi, menerbitkan dua dokumen yang menunjukkan bahwa penyair Sumeria tahu bencana yang dibawa oleh banjir dan konsekuensinya. Kramer menulis bahwa ada sejumlah banjir besar di Mesopotamia, termasuk di abad ke-20 pada tahun 1925, 1930, dan 1954. Ada banjir besar yang penting dan tidak tercatat di abad ke 7 dan 8 pada saat Dinasti Abbasiyah, dan pada abad ke-10, 11 dan 12


INDAHNYA KISAH AIR BAH DALAM PERJANJIAN LAMA – TERNYATA HANYA CONTEKAN

Kisah banjih besar dalam Perjanjian Lama yang indah - dalam bentuk yang sekarang - telah tersebar sekeliling lewat penyebaran agama Kristen. Dulu orang berpikir bahwa kisah Air Bah hanya ditulis dalam Perjanjian Lama saja (Sebagai sebuah bentuk 'intervensi ilahi' untuk memberi pelajaran pada umat manusia !). Namun ketika perpustakaan Ashurbanipal (Raja Asyur) di Niniwe digali dan ditemukan tablet tanah liat berisi kisah yang serupa dengan kisah Air Bah di Perjanjian lama, selama penggalian di Niniwe dan kisah Air Bah, kemudian tablet tanah liat itu diperlihatkan pada tahun 1872 ada ketidakpercayaan dan kebingungan meluas, dan keyakinan kesejarahan dalam cerita Perjanjian Lama telah menguap. Kisah Perjanjian Lama tentang Air Bah diambil dari Epos Gilgames, mitos Babilonia, dan berdasarkan mitos Sumeria. Sekarang tiba waktunya bagi kita untuk kembali pada saat-saat dimana "banjir meliputi bumi sampai ke puncak pegunungan karena adanya sebuah 'intervensi ilahi' untuk menghancurkan umat manusia."


BANJIR BESAR

Seperti yang telah saya paparkan sebelumnya, mitos banjir besar berasal dari mitologi Sumeria. Ini dapat disaksikan dalam fragmen tablet tanah liat Sumeria yang diterbitkan oleh seorang sarjana Amerika, Arno Poebel, pada tahun 1914. Fragmen ini berisi episode apa yang kita sebut mitos air bah. Garis besarnya sebagai berikut:

Pada bagian tertentu fragmen tersebut menceritakan munculnya seorang dewa yang berniat menyelamatkan manusia dari kehancuran yang dewa telah putuskan atas mereka. Sang dewa memperingatkan dan memerintahkan Ziusudra raja saleh dari Sippar. Alasan di balik keputusan untuk menghancurkan umat manusia ini tidak diberikan. Dewa yang memperingatkan Ziusudra adalah Enki. Dia memerintahkan Ziusudra untuk berdiri dengan dinding di mana ia akan mengungkapkan langkah-langkah yang harus diambil untuk menghindari banjir datang ... "Ada badai sangat kuat, pada saat yang sama banjir melanda kuil utama; banjir menyapu negeri selama tujuh hari dan tujuh malam; perahu besar ('Bahtera') telah terombang-ambing oleh badai di perairan liar .....( kemudian awan pergi dan langit dan matahari bersinar) ... Ziusudra membuka jendela kapal besar, Utu membawa sinar ke dalam perahu raksasa. Sang raja, Ziusudra, bersujud di depan Utu (Dewa Matahari); menyembelih sapi dan seekor domba (sebagai kurban persembahan tentunya )........( kalimatnya kemudian terpotong karena tabletnya tidak utuh, kemudian dilanjutkan lagi.... ).... Raja Ziusudra bersujud di depan Anu, Enlil. Dewa Anu dan menyukai Ziusudra dan memberinya kehidupan seperti dewa (membuatnya abadi);. dan menempatkan Ziusudra, sang raja, sebagai pelestari nama vegetasi, benih keturunan umat manusia, di tanah penyeberangan, tanah Dilmun, tempat matahari terbit " Ini adalah sejauh yang kita bisa baca dari fragmen tanah liat tablet Sumeria. Namun ketika kita mengambil mitos Babilonia dan terutama Epos Gilgames, kita akan lebih jauh diberi informasi tentang air bah.


PENGARUH MITOLOGI SUMERIA PADA KEPERCAYAAN LAIN

Menarik sekali untuk mengikuti sirkulasi ide-ide dan karya literatur di antara peradaban kuno dari Sumeria ke Babel, Asyur, orang Het, Hurrites, dan Aramik. Jelas bahwa Sumeria tidak mempunyai pengaruh langsung pada literatur Ibrani, karena mereka telah meninggalkan panggung sejarah jauh sebelum munculnya literatur Ibrani. Tetapi tidak ada keraguan bahwa orang Sumeria memiliki efek mendalam pada orang Kanaan - pendahulu dari bangsa Israel di Palestina. Efek ini menjelaskan kemiripan antara teks-teks Sumeria dan Perjanjian Lama. Kemiripan ini tidak terlokalisir berupa suatu kesamaan cerita utuh, tetapi umumnya muncul secara sporadis dalam beberapa seri. Sebagai contoh saya akan membawa ke perhatian Anda pada puisi mitologi 'Enki dan Ninhursag' di mana ada cerita tentang surga. Surga yang dinamai Dilmun ini, yang para dewa telah bangun untuk diri mereka sendiri, tidak berada di dunia bawah – tetapi di sini di bumi. (Cerita yang sama muncul dalam Perjanjian Lama. Kita dapat mengatakan bahwa mitos Enki dan Ninhursag berada di balik keyakinan Yahudi tentang kisah 'Eden, Adam, Hawa dan buah terlarang').

Karena saya telah mengundang Anda ke situs ini untuk menunjukkan asal-usul, dan praktek yang masih dilakukan oleh agama-agama Abrahamik, mari kita lanjutkan dengan beberapa contoh. Kultus Bulan memiliki tempat penting dalam sistem kepercayaan bangsa Sumeria. Pada hari pertama dan ke limabelas setiap bulannya bangsa Sumeria mengadakan upacara keagamaan dan dan tidak memakan makanan tertentu. (Ingat bahwa festival agama Islam dan bulan puasa berlangsung sesuai dengan siklus lunar). Mereka yang bertanya-tanya mengapa orang berdoa mengangkat tangan mereka ke langit dapat menemukan jawabannya di mitos 'Enki dan Mitos Tatanan Bumi', di mana ketika Enki tengah mengumumkan nasib tanah Sumeria, menyebut bangsa ini dengan pesan, “Biarkan kuil-kuilmu yang tak terkalahkan menjulangkan tangan-tangannya sampai ke langit.”

Dan contoh terakhir yaitu keyakinan akan pentingnya “kata-kata”. Bangsa Sumeria menemukan dan mengembangkan teori kekuatan kreatif ilahi dari “kata-kata”. Teori ini kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah (dan memiliki paralelismenya di Mesir dalam bentuk teologi Memphite). Menurut mitologi Sumeria, sang dewa pencipta cukup hanya merencanakan sesuatu dan mengucapkan kata-kata untuk mewujudkan apa yang diinginkannya (Dalam PL & Quran ada frasa : “Jadi, maka jadilah. Qun Fayaqun ” – Penerjemah).

Dari manakah bangsa Sumeria mendapatkan ide ini? Well, mereka memiliki raja-raja yang kuat yang mengatur mereka, dan kata-kata mereka adalah hukum. Bahkan satu kata pun darinya sudah cukup untuk merealisasikan keinginannya segera. Sebagai raja langit, kepala para dewa harus melakukan hal yang sama. Bahkan sistem kepercayaan primitif juga memiliki kisah-kisah ‘kekuatan sabda”. Bagi mereka sabda/kata/firman/kata/kalam itu sebuah ramalan, dan pengulangan kata akan membebaskan daya kreatif dan rekreatif dengan kekuatan penuh. Injil juga memiliki ide ini. Para teolog setuju bahwa Lukas memfokuskan pada penggambaran Yesus sebagai "Firman yang menjadi manusia”, dengan kata lain “sabda telah datang dan hidup dibalut dalam daging”. Al Quran pun memiliki konsep yang sama: sang pencipta mengucapkan “kata/kalam” dan apa pun menjadi nyata – “kum faya kum, jadi maka jadilah”. Pastilah kepercayaan ini bersumber dari mitologi Sumeria. Alkitab tidak bisa dikecualikan! Injil Yohanes dimulai dengan kalimat ini: "Pada mulanya adalah Firman, dan Firman bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah," dan ketika ia (Yesus) ditanya apakah dia tahu Abraham ia menjawab, "Sebelum Abraham ada, Aku ada” (Yohanes 8:58). Yang berarti bahwa ia ada “hadir” sepanjang waktu, bahkan sebelum Abraham hidup. Konsep serupa ada di dalam Buddhisme: 'Dharma' adalah hukum kosmik besar yang mendasari dunia kita, keyakinan ini bersesuaian dengan konsep Firman, Logos. Buddha dikatakan telah menghabiskan waktu di surga Tushita sebelum turun ke bumi. Yang berarti bahwa Buddha, seperti Yesus, telah ada dalam wahana yang berbeda sebelum turun ke bumi dan bergabung dengan manusia. Jadi sekarang kita memiliki beberapa petunjuk dari mana kisah kekuatan-dari-kata-ini mungkin berasal.

Sekarang kisah penciptaan manusia. Baik Perjanjian Lama maupun Quran membawa cerita yang hampir sama. Perjanjian Lama memiliki dua kisah penciptaan: Menurut Kejadian: 26,27 pada hari keenam penciptaan, Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, "Dia menciptakan mereka laki-laki dan perempuan". Menurut Kejadian 2:7,8,20,21,22 ada cerita lain: “Allah menciptakan manusia, dan tanaman taman di sebelah timur Eden” ('Dan' dalam bahasa Arab). Di sana ia menempatkan pria yang telah diciptakan. Kemudian tuhan memberikan seorang penolong - untuk menemaninya? - Tuhan menyebabkan Adam jatuh tidur nyenyak, kemudian mengambil salah satu rusuk dari padanya dan membuatnya menjadi seorang wanita. Cerita-cerita penciptaan diambil dari dua sumber yang berbeda dan hanya versi yang kedua yang memiliki asal Sumeria. Jadi singkatnya, dalam ketiga agama Ibrahim-Semit : Yudaisme, Kristen dan Islam, penciptaan manusia identik: Manusia diciptakan dari lumpur. Mengapa? Karena semua sistem kepercayaan mengadopsi kisah penciptaan bangsa Sumeria itu saja! Menurut Talmud nama wanita pertama diciptakan dengan Adam adalah Lilith. (Ini adalah usaha yang jelas menutupi hal ini kekeliruan dalam Perjanjian Lama.)

Quran merujuk secara kisah penciptaan bangsa Sumeria di sejumlah surah (QS 54:26,28,29,33; 55:2, 74:12, 75:7, 88:5, 89:14, 94:59). Sekali lagi, seperti yang kita lihat dalam penciptaan kisah alam semesta, Quran lebih suka untuk tetap dangkal pada subjek tersebut, entah karena penulis Kuran jauh lebih pintar dari para penulis Perjanjian Lama, atau tidak tahu dengan rincian mitos-mitos tersebut.

[Dan jikapun para muslim masih memegang kepercayaan bahwa Quran adalah firman allah yang sempurna dan tak mungkin salah yang diwahyukan lewat Jibril kepada Muhammad, maka asumsi ini malah mencitrakan Awloh dan Jibril menjadi entitas-entitas konyol yang tidak bisa membedakan mitos dari sejarah faktual, dan Muhammad sebagai manusia Arab primitif yang dengan polos mengambil kisah-kisah mitologis menjadi sejarah untuk kepentingan pewartaan agama barunya. Adalah lebih masuk akal jika kita menganggap kitab-kitab “suci” ini sebagai karya manusia yang dibatasi dalam keterbatasan budaya, bahasa, perspektif hidup dan pengetahuan sejarah yang bisa keliru bahkan sama sekali salah ketika dianalisa dengan metoda-metoda sains. Para penulis Alkitab, Quran dll membawa-bawa tokoh2 ahistoris mitologis baik yang insani (seperti Adam, NUh, Ibrahim, Musa, Yesus dan Muhammad) ataupun ilahiah (seperti YHWH, Awloh, Jibril) demi kepentingan penyampaian ideologi agamanya. Mereka tidak menceritakan kejadian sesungguhnya, mereka menceritakan cerita yang memuat pesan-pesan moral dan ideologi yang mereka percayai sebagai benar - Penerjemah].


Sumber :
http://www.reocities.com/spenta_mainyu_2/sumer1.htm
http://www.reocities.com/spenta_mainyu_2/sumer2.htm
http://www.reocities.com/spenta_mainyu_2/sumer3.htm

Monday, November 7, 2011

AAMA - TUHAN - TIDAK BERTUHAN

* Beragama - pasti bertuhan
* Bertuhan tidakselalu beragama
* Tidak bertuhan pasti tidak beragama

* Beragama pasti menyalahkan agama lain dan yang tidak bertuhan
* Bertuhan tidak selalu menyalahkan yang beragama tetapi sedikit banyak menyalahkan yang tidak bertuhan.
* Tidak bertuhan tidak peduli dan tidak perlu menyalahkan yang beragama maupun yang bertuhan

* Beragama condong membenci agama lain, termasuk yang bertuhan apalagi yang tidak bertuhan
* Bertuhan tidak selalu membenci yang beragama tetapi mungkin membenci yang tidak bertuhan.
*Tidak bertuhan tidak akan membenci yang beragama maupun yang bertuhan dan tidak peduli juga terhadap tang tidak bertuhan.

Yang paling sesat adalah orang yang merasa bertuhan tetapi tidak pernah kenal dengan tuhannya. Sehingga terpaksa menciptakan tuhan dalam pikirannya
Tuhan-tuhan seperti itu adalah "tuhan konseptual" atau "tuhan imajiner" atau sama saja dengan BERHALA imajiner dengan sebutan "TUHAN" ataupun apa namanya.
Tuhan-tuhan semacam itu bertebaran di semua agama namun mereka tidak menyadari.
Mereka yang mempunyai 'TUHAN BERHALA' di angan-angannya itu pasi marah bila dikatakan tuhannya adalah tuhan imajiner, apapun nama tuhannya itu. Tuhan -tuhan yang seperti itu pasti membisikkan kebencian dalam jiwa si pemilik tuhan seperti itu. Mereka tidak merasa telah tersesat sebab tuhannya (pikirannya) membisikkan bahwa dia sudah benar.

Nuwun
mbah gatho

Friday, July 8, 2011

Uga Wangsit Siliwangi

dalam Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia

Bahasa Sunda

Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!

Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang, “Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih pikeun hirup ka hareupna supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! Ngaing moal ngahalang-halang sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi raja anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.”

Daréngékeun! Nu dék tetep ngilu jeung ngaing, geura misah ka beulah kidul! Anu hayang balik deui ka dayeuh nu ditinggalkeun, geura misah ka beulah kalér! Anu dék kumawula ka nu keur jaya, geura misah ka beulah wétan! Anu moal milu ka saha-saha, geura misah ka beulah kulon!

Daréngékeun! Dia nu di beulah wétan, masing nyaraho. Kajayaan milu jeung dia! Nya turunan dia nu engkéna bakal maréntah ka dulur jeung ka batur. Tapi masing nyaraho, arinyana bakal kamalinaan. Engkéna bakal aya babalesna. Jig geura narindak!

Dia nu di beulah kulon! Papay ku dia lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan dia jadi panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun tengah peuting, ti Gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana, saturunan dia disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!

Dia nu marisah ka beulah kalér, daréngékeun! Dayeuh ku dia moal kasampak. Nu ka sampak ngan ukur tegal baladaheun. Turunan dia lolobana bakal jadi somah. Mun aya nu jadi pangkat, tapi moal boga kakawasaan. Arinyana engké jaga bakal ka seundeuhan batur. Loba batur ti nu anggang, tapi batur anu nyusahkeun. Sing waspada!

Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing dating, moal kadeuleu. Mun ngaing nyarita, moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati, jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing dating, teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.

Engké bakal réa nu kapanggih, sabagian-sabagian. Sabab kaburu dilarang ku nu disebut Raja Panyelang! Aya nu wani ngoréhan terus terus, teu ngahiding ka panglarang, ngoréhan bari ngalawan, ngalawan sabari seuri. Nyaéta budak angon. Imahna di birit leuwi, pantona batu satangtungeun, kahieuman ku handeuleum, karimbunan ku hanjuang. Ari ngangonna? Lain kebo, lain embé, lain méong, lain banténg, tapi kalakay jeung tutunggul. Inyana jongjon ngorehan, ngumpulkeun anu kapanggih. Sabagian disumputkeun sabab acan wayah ngalalakonkeun. Engke mun geus wayah jeung mangsana, baris loba nu kabuka jeung raréang ménta dilalakonkeun. Tapi, mudu ngalaman loba lalakon, anggeus nyorang: undur jaman datang jaman, saban jaman mawa lalakon. Lilana saban jaman, sarua jeung waktuna nyukma, ngusumah jeung nitis, laju nitis dipinda sukma.

Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa sabab murah jaman seubeuh hakan.

Ti dinya, waluku ditumpakan kunyuk. Laju turunan urang aya nu lilir, tapi lilirna cara nu kara hudang tina ngimpi. Ti nu laleungit, tambah loba nu manggihna. Tapi loba nu pahili, aya kabawa nu lain mudu diala! Turunan urang loba nu hanteu engeuh yén jaman ganti lalakon ! Ti dinya gehger sanagara. Panto nutup dibuburak ku nu ngaranteur pamuka jalan, tapi jalan nu pasingsal!

Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur. Laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.

Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.

Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.

Laju aya deui raja, tapi raja, raja buta nu ngadegkeun lawang teu beunang dibuka, nangtungkeun panto teu beunang ditutup; nyieun pancuran di tengah jalan, miara heulang dina caringin, da raja buta! Lain buta duruwiksa, tapi buta henteu neuleu, buaya eujeung ajag, ucing garong eujeung monyét ngarowotan somah nu susah. Sakalina aya nu wani ngageuing; nu diporog mah lain satona, tapi jelema anu ngélingan. Mingkin hareup mingkin hareup, loba buta nu baruta, naritah deui nyembah berhala. Laju bubuntut salah nu ngatur, panarat pabeulit dina cacadan; da nu ngawalukuna lain jalma tukang tani. Nya karuhan: taraté hépé sawaréh, kembang kapas hapa buahna; buah paré loba nu teu asup kana aseupan……………………….. Da bonganan, nu ngebonna tukang barohong; nu tanina ngan wungkul jangji; nu palinter loba teuing, ngan pinterna kabalinger.

Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.

Sing waspada! Sabab engké arinyana, bakal nyaram Pajajaran didongéngkeun. Sabab sarieuneun kanyahoan, saenyana arinyana anu jadi gara-gara sagala jadi dangdarat. Buta-buta nu baruta. Mingkin hareup mingkin bedegong, ngaleuwihan kebo bulé. Arinyana teu nyaraho, jaman manusa dikawasaan ku sato!

Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba. Nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.

Nu garelut laju rareureuh. Laju kakara arengeuh. Kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. Sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan. Geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!

Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui, tapi engké lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat. Urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa jaya, jaya deui sabab ngadeg ratu adil. Ratu adil nu sajati.

Tapi ratu saha? Ti mana asalna éta ratu? Engké ogé dia nyaraho. Ayeuna mah, siar ku dia éta budak angon!
Jig geura narindak! Tapi, ulah ngalieuk ka tukang!

Bahasa Indonesia

Prabu Siliwangi berkata kepada warga Pajajaran yang ikut mundur sebelum menghilang, “Perjalanan kita hanya sampai hari ini meskipun kalian semua setia kepadaku! Aku tidak boleh membawa-bawa kalian pada masalah ini, ikut-ikutan hidup sengsara, ikut kumal sambil kelaparan. Kalian harus memilih untuk hidup selanjutnya supaya nanti bisa hidup makmur dan kaya raya, bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran seperti yang sekarang ini, melainkan Pajajaran yang berdirinya dibangkitkan oleh perkembangan zaman! Pilih! Aku tidak akan menghalang-halangi sebab bagiku, tidak pantas menjadi raja yang seluruh rakyatnya selalu lapar dan sengsara.”

Dengarkan! Kalian yang masih ingin mengikutiku, cepat pergi pisahkan diri ke sebelah Selatan! Kalian yang ingin kembali ke kota yang ditinggalkan, cepat pisahkan diri ke sebelah Utara! Kalian yang ingin mengabdi kepada penguasa yang sedang jaya, segera pisahkan diri ke sebelah Timur! Kalian yang tidak ingin mengikuti siapa pun, segera pisahkan diri ke sebelah Barat!

Dengarkan! Kalian yang di sebelah Timur, harus tahu. Kejayaan mengikuti kalian. Iya benar sekali, keturunan kalian yang nantinya bakal memerintah saudara-saudara kita dan orang lain. Akan tetapi, harus tahu. Mereka akan memerintah dengan cara yang keterlaluan. Nanti akan tiba pembalasan atas segala perbuatan mereka. Cepat pergi!

Kalian yang berada di sebelah Barat! Telusuri oleh kalian jejak Ki Santang! Hal itu disebabkan nantinya keturunan kalian yang mengingatkan saudara-saudara kita dan orang lain. Keturunan kalian itu yang akan berupaya memberikan peringatan dan penyadaran kepada teman-teman sekampung, saudara-saudara kita yang berupaya untuk hidup rukun melangkah bersama sependirian, dan kepada semua orang yang baik hatinya. Nanti, suatu saat, kalau di tengah malam dari Gunung Halimun terdengar teriakan meminta tolong, nah itulah tandanya, seluruh keturunan kalian dipanggil oleh dia yang akan menikah di Lebak Cawene. Jangan telat serta jangan bersikap dan berperilaku berlebihan sebab telaga akan meluap menimbulkan banjir. Cepat pergi! Jangan menengok ke belakang!

Kalian yang berpisah ke sebelah Utara, dengarkan semuanya! Kota tidak akan pernah kalian temukan. Yang ditemukan hanya tegalan yang harus diolah. Keturunan kalian kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Kalaupun ada yang memiliki pangkat, tetap tidak memiliki kekuasaan. Mereka nanti, suatu waktu, akan tergeser oleh orang lain. Banyak orang datang dari tempat-tempat yang jauh, tetapi orang-orang yang menyusahkan kalian. Waspadalah!

Seluruh keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu yang diperlukan. Aku akan datang lagi menolong yang membutuhkan pertolongan, membantu yang kesusahan, tetapi hanya kepada mereka yang baik tingkah lakunya. Jika aku datang, tidak akan terlihat. Kalau aku berbicara, tidak akan terdengar. Memang aku akan datang. Akan tetapi, hanya kepada mereka yang baik hatinya, mereka yang memahami terhadap satu tujuan, mereka yang mengerti pada keharuman sejati, mereka yang memiliki empati tinggi dan tertata rapi pikirannya, serta yang baik tingkah lakunya. Kalau aku datang, tidak akan berupa dan tidak akan bersuara, tetapi memberi ciri dengan wewangian. Sejak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, kecuali nama untuk mereka yang menelusurinya. Hal itu disebabkan bukti yang ada akan diingkari banyak pihak! Akan tetapi, nanti, suatu saat, akan ada yang mencoba-coba supaya yang hilang dapat ditemukan kembali. Memang bisa, hanya menelusurinya harus menggunakan dasar-dasar yang jelas. Namun, mereka yang menelusurinya banyak yang petantang-petenteng merasa diri paling pintar dan paling benar. Kalau berbicara, suka berlebihan. Mereka memang harus menjadi orang-orang brengsek dulu.

Nanti akan banyak yang ditemukan, tetapi hanya sebagian-sebagian. Hal itu disebabkan segera dilarang oleh orang yang disebut Pemimpin Pengganti yang berkuasa hanya pada masa jeda. Namun, ada yang berani mencari terus-menerus, tidak mempedulikan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Sang Anak Gembala. Rumahnya di ujung sungai yang ujungnya bertemu dengan sungai lain, pintunya batu setinggi manusia, terlingkupi lebatnya pohon handeuleum, terimbuni pohon hanjuang. Apa yang digembalakannya? Bukan kerbau, bukan domba, bukan harimau, bukan banteng, melainkan ranting-ranting dan batang-batang pohon kering. Dia asyik mencari, mengumpulkan yang bisa ditemukan. Sebagian disembunyikan karena belum waktunya dikemukakan dan dilaksanakan. Nanti kalau sudah tepat waktu dan masanya, akan banyak yang terbuka dan orang-orang ramai memintanya untuk diungkapkan dan dilaksanakan. Akan tetapi, harus mengalami banyak kejadian dan menemukan berbagai peristiwa bersejarah. Selesai zaman yang satu, berganti zaman yang lain. Setiap zaman membuat sejarah. Lamanya setiap zaman sama dengan melakukan penyukmaan, pengusumahan, dan penitisan. Setelah penitisan, kembali lagi ke penyukmaan. Itu artinya, zaman dan sejarah selalu berputar ke itu-itu lagi.

Dengarkan! Mereka yang sekarang memusuhi kita akan menjadi raja hanya dalam waktu yang sebentar. Waktunya hanya sampai pada masa tanah kering. Padahal, tanah itu terletak di pinggir Sungai Cibantaeun. Tanah itu kemudian dijadikan kandang kerbau kosong. Nah, sejak saat itu seluruh negara akan terpecah-pecah. Dipecahkan dan dijajah kerbau-kerbau bule yang dipimpin oleh orang tinggi yang memerintah di alun-alun. Semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule mengendalikan generasi muda dan pewaris kekuasaan, keturunan kita menjadi kuli, orang suruhan, namun tidak terasa karena semuanya serba ada, murah, banyak pilihan, dan bisa makan sampai kenyang.

Selepas itu, seluruh bidang kehidupan dikuasai monyet. Kemudian, keturunan kita ada yang sadar, tetapi sadarnya mirip orang yang baru bangun dari mimpi. Hal-hal yang sejak dulu hilang tenggelam dalam sejarah, banyak yang menemukannya. Akan tetapi, banyak yang tertukar sejarahnya. Ada penemuan yang digunakan, tetapi sebetulnya tidak perlu digunakan. Bahkan, ada yang dicuri dan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak paham dan tidak peduli bahwa zaman sudah berganti kisah! Kemudian, geger senegara. Pintu yang tertutup didobrak oleh para pembuka jalan, tetapi jalan yang kurang tepat.

Yang memerintah bersembunyi jauh sekali, alun-alun jadi kosong, kerbau bule pada kabur. Lalu, negara yang terpecah-pecah itu dikuasai dan dirusakkan monyet! Keturunan kita enak-enak tertawa, tetapi tertawa yang tertahan, tidak tuntas, karena ternyata warung habis dirusak monyet, sawah habis dikuasai monyet, lumbung padi habis dimakan monyet, kebun dilalap monyet, perempuan-perempuan hamil oleh monyet. Segala-gala dikuasai monyet. Keturunan kita takut oleh mereka yang bergaya seperti monyet. Undang-undang dan hukum dipegang monyet sambil mengendalikan para pemuda. Keturunan kita tetap menjadi orang-orang suruhan dan kuli. Banyak yang mati kelaparan. Mulai saat itu keturunan kita mengharapkan panen jagung sambil mencoba-coba bertani tanpa ilmu pengetahuan dalam mengolah lahan. Tidak paham dan tidak peduli bahwa zaman sudah berganti lagi kisah.

Kemudian, sayup-sayup, namun jelas beritanya, dari ujung laut Utara terdengar guruh yang bergemuruh, burung garuda menetaskan telur. Geger seluruh dunia! Lalu, apa yang terjadi di negeri kita?Ramai oleh yang sedang berperang. Perang seluruhnya sampai ke pelosok-pelosok. Monyet mengumpul berjatuhan. Keturunan kita mengamuk sejadi-jadinya, mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tak berdosa. Sudah jelas musuh, malah dijadikan teman. Jelas-jelas teman disebut musuh. Mendadak banyak yang menjadi pemimpin yang memerintah dengan cara-cara edan. Mereka yang kebingunan tambah bingung, anak-anak yang belum dewasa sudah menjadi bapak. Mereka yang mengamuk semakin kalap, mengamuk tanpa pilih bulu. Mereka yang putih dikejar dan dihancurkan, yang hitam diusir. Daratan kita benar-benar panas dan kacau disebabkan mereka yang sedang mengamuk, tidak beda dengan tawon yang dilempari tepat mengenai sarangnya. Seluruh daratan dibuat tempat penjagalan. Akan tetapi, segera ada yang menghentikan. Mereka yang menghentikannya adalah orang seberang.

Lalu, berdirilah seorang raja, asalnya orang biasa. Akan tetapi, memang titisan raja zaman dulu dan ibunya seorang puteri Pulau Dewata. Karena jelas titisan raja, raja baru itu susah untuk dianiaya! Selepas itu, ganti lagi zaman. Ganti zaman, ganti kisah! Kapan? Tidak lama setelah tampak bulan di siang hari yang disusul melintasnya bintang terang bercahaya. Di bekas negara kita, berdiri lagi kerajaan. Kerajaan di dalam kerajaan dan rajanya bukan trah Pajajaran.

Terus, berdiri lagi raja, tetapi raja buta yang membangun gerbang yang tidak boleh dibuka, membangun pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran di tengah jalan, memelihara elang di pohon beringin karena memang raja buta! Bukan buta pemaksa jahat yang sewenang-wenang, tetapi buta tidak dapat melihat, buta matanya. Buaya dan serigala, kucing garong dan monyet mencakar-cakar dan menggeorogoti rakyat yang sedang dalam keadaan susah. Sekalinya ada yang mengingatkan, yang diburu bukan binatangnya, melainkan orang yang mengingatkan tersebut. Makin lama makin lama, banyak raksasa yang jahat. Mereka menyuruh menyembah lagi berhala. Pergaulan anak muda salah jalan. Kesalahan pergaulan itu diakibatkan oleh salahnya aturan dari pemerintah. Undang-undang dan hukum hanya ada di mulut dan dalam diskusi-diskusi kosong tanpa bisa ditegakkan dengan benar. Hal itu disebabkan para pejabatnya bukan ahlinya, buah padi banyak yang tidak masuk ke dapur rakyat. ........................ Salah sendiri mempercayakan kebun kepada orang yang gemar berdusta, petaninya suka mengumbar janji palsu, orang-orang pintar terlalu banyak, tetapi pinternya keblinger.

Dalam keadaan itu, datang Pemuda Berjanggut. Datang dengan menggunakan pakaian serba hitam sambil menyandang sarung tua, menyadarkan orang-orang yang sedang tersesat, mengingatkan orang-orang yang sedang terlupa. Akan tetapi, tidak diperhatikan! Mereka tidak memperhatikannya karena pinter keblinger, inginnya menang sendiri. Mereka tidak paham dan tidak sadar bahwa langit sudah memerah, menunjukkan wajah marah, dari Bumi asap sudah mengepul dari perapian. Alih-alih diperhatikan, Pemuda Berjanggut oleh mereka ditangkap, lalu dimasukkan dalam penjara. Kemudian, mereka mengacak-acak rumah orang, mengobrak-abrik urusan orang, merusakkan nama baik organisasi orang dengan alasan mencari musuh yang jahat, padahal mereka sendiri sesungguhnya yang mencari-cari permusuhan.

Waspadalah! Mereka nanti akan melarang keadaan Pajajaran dikisahkan. Hal itu disebabkan mereka takut ketahuan bahwa sebenarnya merekalah yang menjadi gara-gara selama ini yang menyebabkan terjadinya berbagai kesemrawutan. Raksasa-raksasa yang beringas semakin hari semakin bandel, sombong, pongah, brutal, dan sewenang-wenang melebihi kerbau bule. Mereka tidak sadar bahwa zaman manusia sudah dikuasai binatang!

Kekuasaan raksasa-raksasa buta itu tidak terlalu lama, tetapi selama berkuasa itu keterlaluan sekali menindas rakyat susah yang sedang berharap datangnya mukjizat. Raksasa-raksasa itu akan menjadi tumbal, tumbal kejahatannya sendiri. Kapan waktunya? Nanti kalau sudah tampak Anak Gembala! Mulai saat itu akan terjadi keributan, huru-hara, dari rumah menjadi sekampung, dari sekampung menjadi senegara! Orang-orang bodoh pada jadi gila ikut-ikutan membantu mereka yang sedang berkelahi yang dipimpin oleh Pemuda Buncit! Penyebabnya berkelahi? Memperebutkan warisan, tanah. Mereka yang serakah ingin mendapatkan lebih banyak lagi. Mereka yang memiliki hak meminta haknya diberikan. Mereka yang sadar berdiam diri. Mereka hanya menonton, tetapi tetap terimbas juga.

Mereka yang berkelahi akhirnya kelelahan. Mereka baru tersadar. Ternyata, semuanya tidak ada yang mendapatkan bagian. Hal itu disebabkan tanah dan kekayaan alam seluruhnya habis, habis oleh mereka yang memegang banyak uang. Para raksasa lalu menyusup curang ke berbagai kelompok. Mereka yang berkelahi jadi ketakutan sendiri, takut dipersalahkan atas kerusakan dan kehilangan tanah serta kekayaan negara. Lalu, mereka mencari Anak Gembala yang rumahnya di ujung sungai berpintu batu setinggi manusia beratapkan pohon handeuleum bertiangkan pohon hanjuang. Mereka mencari Anak Tumbal. Mereka menginginkan tumbal untuk dikambinghitamkan. Akan tetapi, Anak Gembala sudah tidak ada, sudah bergerak bersama dengan Pemuda Berjanggut. Keduanya sudah pindah membuka lembaran baru, pindah ke Lebak Cawene!

Mereka yang mencari Anak Gembala hanya menemukan burung gagak yang berkoak-koak di dahan mati. Dengarkan semuanya! Zaman bakalan ganti lagi, tetapi nanti setelah Gunung Gede meletus yang disusul meletusnya tujuh gunung. Gempar lagi seluruh dunia. Orang Sunda dipanggil-panggil. Orang Sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Senegara bersatu lagi. Nusa jaya, jaya lagi sebab berdiri Ratu Adil. Ratu Adil yang sejati.

Ratu siapa? Dari mana asalnya itu ratu? Nanti juga kalian bakal tahu. Sekarang yang penting, cari dan temukan oleh kalian Si Anak Gembala!

Segera berangkat! Jangan menengok ke belakang!

Wednesday, July 6, 2011

Atheis

Agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi layakkah ia dibela?

Christopher Hitchens
baru-baru ini menarik perhatian ketika bukunya terbit dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Penulis Inggris ini—yang yakin bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah racun—tak bersuara sendirian di awal abad ke-21 ini.
Di tahun 2004 terbit The End of Faith, oleh Sam Harris, yang tahun lalu mempertegas posisinya dengan menyerang agama Kristen dalam Letter to a Christian Nation.

Yang juga terkenal adalah karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi, The God Delusion, yang mengutip satu kalimat pengarang lain: "Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama."

Saya belum khatam membaca buku-buku itu, tapi saya telah merasa setengah terusik, tersinggung, berdebar-debar, terangsang berpikir, tapi juga gembira. Baiklah saya jelaskan kenapa saya gembira: kini datang beberapa orang atheis yang sangat fasih dengan argumen yang seperti pisau bedah. Dengan analisa yang tajam mereka menyerang semua agama, tanpa kecuali, di zaman ketika iman dikibarkan dengan rasa ketakutan, dan rasa ketakutan dengan segera diubah jadi kebencian. Dunia tak bertambah damai karenanya. Maka siapa tahu memang dunia menantikan Hitchens, Harris, dan Dawkins. Siapa tahu para atheis inilah yang akan membuat kalangan agama mengalihkan fokus mereka dan kemudian berhenti bermusuhan.

Apalagi ada benarnya ketika Christopher Hitchens bicara tentang iman dan rasa aman. Sepekan sebelum 11 September 2001, hari yang bersejarah itu, ia ditanya dalam sebuah wawancara radio: "Bayangkan Anda berada di sebuah kota asing di waktu senjakala, dan sejumlah besar orang datang ke arah Anda. Akan lebih merasa amankah Anda, atau justru merasa kurang aman, bila Anda tahu orang-orang itu baru selesai berkumpul untuk berdoa?"

Hitchens, yang pernah berada di Belfast, Beirut, Bombay, Beograd, Bethlehem, dan Baghdad, menjawab, "Kurang aman."

Ia tak bicara dari khayal. Ia telah menyaksikan permusuhan antara orang Katolik dan Protestan di Ulster; Islam dan Kristen di Beirut dan Bethlehem; orang Katolik Kroasia dan orang Gereja Ortodoks Serbia dan orang Islam di bekas Yugoslavia; orang Sunni dan Syiah di Baghdad. Beribu-ribu orang tewas dan cacat dan telantar.

Maka bagi Hitchens, agama adalah "sebuah pengganda besar", an enormous multiplier, "kecurigaan dan kebencian antarpuak".

Tapi menarik bahwa Hitchens tak menyatakan agama sebagai sumber sikap negatif itu.
Dalam hal ini ia berbeda dari Sam Harris. Bagi Harris, konflik antara umat Katolik dan Protestan yang berdarah di Irlandia—yang bermula baru di abad ke-17—bersumber pada teks Alkitab, tak ada hubungannya dengan politik pertanahan di wilayah kekuasaan Inggris masa itu. Harris tak melihat endapan sejarah dalam tiap tafsir atas akidah—dan dalam hal ini ia mirip seorang fundamentalis Kristen atau Islam. Pandangannya yang menampik sejarah akan bisa mengatakan bahwa doktrin Quran itulah yang membuat sejumlah orang menghancurkan Menara Kembar New York dan membunuh hampir 3.000 manusia pada 11 September 2001. Harris tak akan melihat bahwa hari itu "Islam" identik dengan amarah karena ada kepahitan kolonialisme di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, dan kekalahan dunia Arab di Palestina.

Dari sini, memang ada benarnya apologi yang terkenal itu: bukan agamanya yang salah, melainkan manusianya.

Tapi persoalan tak selesai di situ. Orang-orang atheis semacam Hitchens akan bertanya: Jika faktor manusia yang menyebabkan keburukan tumbuh dalam suatu umat, berarti tak ada peran agama dalam memperbaiki umat itu. Jika demikian, jika akidah ditentukan oleh sejarah, dan bukan sebaliknya, apa guna agama bagi perbaikan dunia?

Mungkin sebuah nol. Bahkan melihat begitu banyak pembunuhan dilakukan atas nama agama hari-hari ini, orang memang mudah sampai kepada atheisme Hitchens dan kesimpulannya: agama meracuni segala hal.

Tapi kita dapat juga sampai pada kesimpulan yang lain: jangan-jangan agama memang tak punya peran bagi perbaikan dunia. Perannya memang bisa lain sama sekali—terutama bila dilihat dari awal lahirnya agama-agama.

Dalam ceramahnya yang diselenggarakan oleh MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) bulan Juni yang lalu, Karen Armstrong mengatakan sesuatu yang tak lazim: agama lahir dari sikap jeri (recoil) atas kekerasan. Juga Islam, yang kini tak urung dihubungkan dengan bom bunuh diri, konflik berdarah di Irak, Afganistan, dan Pakistan. Agama ini hadir sebagai pembangun perdamaian di sekitar Mekah, di tengah suku-suku Arab yang saling galak.

Tapi mungkin juga Karen Armstrong bisa menelusurinya lebih jauh: jika agama memang lahir dari rasa jeri akan kekerasan, rasa jeri itu bertaut dengan kesadaran akan ketakberdayaan. Agama sebab itu tak merasa kuasa untuk memperbaiki dunia; ia justru berada di kancah yang tersisih, menemani mereka yang daif—sebuah posisi yang kian tampak dalam keadaan manusia teraniaya.

Tapi kini, dalam mencoba menyaingi gagahnya modernitas, agama cenderung melupakan "empati asali"-nya sendiri. Orang-orang Islam merayakan Hijrah bukan dengan rasa setia kawan dan bela rasa kepada mereka yang diteror, walaupun Hijrah bermula dari nasib sekelompok minoritas yang dikejar-kejar. Orang merayakan Hijrah lebih sebagai kemenangan. Mungkin dengan tendensi itu, pengalaman kedaifan sendiri terlupa: pekan lalu atas nama "Islam" orang-orang mengancam para biarawati Karmel yang hendak berkumpul untuk berdoa di lembah Cikanyere di wilayah Cianjur.

Dalam keadaan lupa kepada yang tak berdaya itulah agama bisa jadi tenaga yang dahsyat. Tapi ia juga bisajadi tenaga yang tak tahu batas. Di saat seperti itu, bukankah para atheis perlu datang dan bersuara?

Goenawan Mohamad